Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ucu Sutarsa

Your body is your home

Hubungan Antara Diet dengan IQ Anak

OPINI | 10 August 2012 | 03:50 Dibaca: 339   Komentar: 0   0

13445704792090845006

Gambar dari sciencedaily.com

ScienceDaily (7 Agustus 2012) — Anak-anak yang diberi makan dengan diet yang sehat sejak usia dini itu mungkin memiliki IQ yang sedikit lebih tingggi, sedangkan mereka yang diet-nya penuh dengan junk food mungkin mengalami sedikit penurunan IQ, menurut hasil penelitian terbaru dari University of Adelaide.

Study yang dipimpin oleh Dr Lisa Smithers dari University of Adelaide Public Health ini, menganalisa hubungan antara pola makan dari anak-anak pada saat berusia 6 bulan, 15 bulan dan 2 tahun, serta IQ mereka pada saat berusia 8 tahun.

Studi yang di ikuti oleh lebih dari 7.000 anak ini membandingkan sejumlah pola makan, termasuk tradisional dan makanan kontemporer yang dimasak dirumah, makanan-makanan bayi yang siap santap, ASI, dan ‘bebas’ atau junk food.

Diet menyediakan gizi-gizi yang diperlukan untuk perkembangan jaringan otak pada dua tahun pertama dari kehidupan, dan tujuan dari studi ini adalah untuk melihat apa dampak yang diberikan oleh diet pada IQ anak-anak,” kata Dr Smithers.

“Kami menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI pada usia 6 bulan dan memiliki diet sehat yang rutin menyertakan makanan-makanan misalnya legumes, buah dan sayuran pada saat berusia 15 dan 24 bulan itu memiliki IQ dua point lebih tinggi saat mereka berusia 8 tahun.

“Anak-anak yang dietnya rutin menyertakan biskuit, coklat, manisan, soft drink dan chips dalam dua tahun pertama kehidupannya, memiliki IQ 2 point lebih rendah saat berusia 8 tahun. Kami juga menemukan beberapa dampak negatif pada IQ dari makanan bayi siap santap yang diberikan pada usia 6 bulan, tapi kami juga menemukan beberapa hubungan positif saat makanan tersebut diberikan pada usia 24 bulan,” kata Dr Smithers.

Dr Smithers mengatakan studi ini memperkuat kebutuhan untuk memberikan anak-anak dengan makanan-makanan sehat pada masa-masa pembentukan yang kritis dalam kehidupan mereka.

“Meski perbedaan dalam IQ itu tidak besar, tapi studi ini menyediakan beberapa bukti terkuat saat ini bahwa pola makan mulai dari 24 bulan itu memiliki suatu efek kecil tapi signifikan pada IQ saat berusia 8 tahun,” kata Dr Smithers.

“Penting bagi kita untuk mempertimbangkan dampak yang lebih panjang dari makanan-makanan yang kita berikan pada anak-anak kita,” katanya.

Hasil-hasil dari studi ini telah dipublikasikan secara online di European Journal of Epidemiology.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 9 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 14 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 14 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: