Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ucu Sutarsa

Your body is your home

Hubungan Antara Diet dengan IQ Anak

OPINI | 10 August 2012 | 03:50 Dibaca: 341   Komentar: 0   0

13445704792090845006

Gambar dari sciencedaily.com

ScienceDaily (7 Agustus 2012) — Anak-anak yang diberi makan dengan diet yang sehat sejak usia dini itu mungkin memiliki IQ yang sedikit lebih tingggi, sedangkan mereka yang diet-nya penuh dengan junk food mungkin mengalami sedikit penurunan IQ, menurut hasil penelitian terbaru dari University of Adelaide.

Study yang dipimpin oleh Dr Lisa Smithers dari University of Adelaide Public Health ini, menganalisa hubungan antara pola makan dari anak-anak pada saat berusia 6 bulan, 15 bulan dan 2 tahun, serta IQ mereka pada saat berusia 8 tahun.

Studi yang di ikuti oleh lebih dari 7.000 anak ini membandingkan sejumlah pola makan, termasuk tradisional dan makanan kontemporer yang dimasak dirumah, makanan-makanan bayi yang siap santap, ASI, dan ‘bebas’ atau junk food.

Diet menyediakan gizi-gizi yang diperlukan untuk perkembangan jaringan otak pada dua tahun pertama dari kehidupan, dan tujuan dari studi ini adalah untuk melihat apa dampak yang diberikan oleh diet pada IQ anak-anak,” kata Dr Smithers.

“Kami menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI pada usia 6 bulan dan memiliki diet sehat yang rutin menyertakan makanan-makanan misalnya legumes, buah dan sayuran pada saat berusia 15 dan 24 bulan itu memiliki IQ dua point lebih tinggi saat mereka berusia 8 tahun.

“Anak-anak yang dietnya rutin menyertakan biskuit, coklat, manisan, soft drink dan chips dalam dua tahun pertama kehidupannya, memiliki IQ 2 point lebih rendah saat berusia 8 tahun. Kami juga menemukan beberapa dampak negatif pada IQ dari makanan bayi siap santap yang diberikan pada usia 6 bulan, tapi kami juga menemukan beberapa hubungan positif saat makanan tersebut diberikan pada usia 24 bulan,” kata Dr Smithers.

Dr Smithers mengatakan studi ini memperkuat kebutuhan untuk memberikan anak-anak dengan makanan-makanan sehat pada masa-masa pembentukan yang kritis dalam kehidupan mereka.

“Meski perbedaan dalam IQ itu tidak besar, tapi studi ini menyediakan beberapa bukti terkuat saat ini bahwa pola makan mulai dari 24 bulan itu memiliki suatu efek kecil tapi signifikan pada IQ saat berusia 8 tahun,” kata Dr Smithers.

“Penting bagi kita untuk mempertimbangkan dampak yang lebih panjang dari makanan-makanan yang kita berikan pada anak-anak kita,” katanya.

Hasil-hasil dari studi ini telah dipublikasikan secara online di European Journal of Epidemiology.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

Ketika Institusi Pendidikan Jadi Ladang …

Muhammad | | 19 September 2014 | 17:46

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 6 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 6 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 9 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

“Calon Ibu Pejabat Galau di Negeri …

Rietsy | 8 jam lalu

Centang Prenong …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Duka Lara …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Taman Rekreasi Atau Kuburan? …

Rifqi Nur Fauzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: