Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ella Zulaeha

Olshop tas branded Batam, Pin; 2B762CFD atau 2B5F8E90, reseller silakan add. Mampir ya sist, liat2 selengkapnya

Saat Balita Ogah Minum Susu, Mengapa Ibu Menyerah?

OPINI | 10 June 2012 | 11:09 Dibaca: 7915   Komentar: 12   3

Saat menemani putra saya, Darielle (3) di area bermain yang letaknya tak jauh dari rumah, saya terlibat perbincangan dengan seorang ibu yang juga sedang menemani balitanya bermain di sana. Si Ibu melihat tubuh Darielle yang tampak sehat, ia bertanya Darielle minum susu apa?

Saya katakan bahwa susu Darielle disesuaikan dengan usianya, meskipun bukan merek susu yang harganya mahal namun kualitasnya tetap terjaga. Bersyukur Darielle tipe anak yang tidak rewel dalam hal makanannya sehari-hari.

Si ibu kemudian mengeluhkan bahwa putrinya (yang usianya sebaya dengan Darielle) tidak suka susu, padahal semua merek susu telah ia coba berikan, namun putrinya selalu menolak. Susu merek mahal sekalipun saat diberikan kepada si kecil juga tak membuat putrinya itu mau minum susu. Akhirnya ia tak lagi memberikan susu pada putrinya.

Selain tak suka susu, ternyata putrinya itu juga susah makan. Bila sudah beberapa suap makanan yang masuk, ia tak mau lagi meneruskan makannya. Yang sering terjadi justru si ibu lah yang menghabiskan makanan putrinya itu.

Saya terkesima mendengar penuturan sang ibu. Sungguh disayangkan di usia “Golden Age”, balita seusia putrinya itu tak diberikan susu. Mengapa ibu harus menyerah dengan keadaan? Bukankah masih ada cara lain memberikan susu itu pada si kecil yaitu dengan mengemas makanan yang di dalamnya terkandung susu.

Saya bilang pada si ibu, jangan pasrah bila si kecil tak mau minum susu. Kita bisa memberikan susu pada si kecil dengan bentuk kudapan lainnya. Alhamdulillah selama ini kedua putra saya tercukupi nutrisinya, baik dari makanan maupun susu yang mereka konsumsi setiap hari.

Saat Danish (putra saya yang pertama) berusia 5 tahun, ia menolak minum susu. Namun saya tak menyerah sekalipun makanan hariannya tercukupi. Saya coba berikan dia susu dalam bentuk kudapan lain, seperti puding susu, gandum sereal yang dicampur susu, biskuit yang mengandung susu, atau membelikannya susu dalam kemasan kotak atau botol kecil yang ia sukai. Selain memberikan olahan makanan yang mengandung susu, saya juga sering memberinya minuman coklat berenergi. Ternyata cara tersebut cukup efektif karena Danish begitu menyukainya.

Ketahuilah bunda, susu juga bisa dijadikan pilihan untuk anak yang sulit makan (picky eater). Jangan memaksa balita saat ia susah makan, cukup berikan nutrisi tambahan lewat susu dan produk olahannya. Bila balita sudah tak mau minum susu, bagaimana mungkin nutrisinya tercukupi apalagi bila ia juga mengalami sulit makan.

Menurut DR.H.M.V. Ghazali MBA.MM, dokter spesialis anak dari Kid’s World, untuk anak yang usianya di atas 1 tahun kebutuhan terhadap susu memang masih ada. Tapi bukan berarti anak usia di atas setahun harus minum susu. Tidak minum susu pun, anak bisa tetap sehat. Asalkan kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineralnya terpenuhi. Susu hanya untuk menyempurnakan.

Sekalipun susu bukan makanan wajib bagi balita, namun mengingat kondisi balita yang juga sulit makan, haruskah ibu menyerah begitu saja? Di usia pertumbuhannya, balita sangat membutuhkan nutrisi selain makanan, yaitu susu yang melengkapi gizi yang berguna untuk perkembangan otaknya. Susu juga dibutuhkan anak untuk menjaga kesehatan tulang dan giginya hingga dewasa karena kandungan kalsium, fosfor, magnesium, dan protein yang ada pada susu.

Selain itu balita yang sering minum susu dan makanan olahan susu bisa mempertahankan bentuk tubuh yang ideal. Minum susu dan makan produk olahan susu sebagai bagian dari diet dengan kalori terkontrol diketahui mampu mengurangi berat badan, terutama di sekitar perut. Mitos yang mengatakan minum susu bikin gemuk tak benar, asalkan minum susu masih dalam jumlah yang wajar dan tepat.

Sebuah penelitian dari Amerika mengatakan, minum susu cokelat membantu mengisi kembali cairan tubuh setelah lelah beraktivitas. Apalagi di masa pertumbuhannya, anak-anak sangat mudah terserang rasa lapar, terutama jika mereka termasuk yang aktif atau gemar berolahraga. Sebaiknya pilih kudapan yang tepat dan bergizi untuk memuaskan rasa lapar tersebut dengan cara memberikan pasokan energi bagi balita tanpa takut menjadi gemuk, yaitu yang mengandung karbohidrat kompleks yang tinggi protein, seperti roti gandum yang dikombinasikan dengan selai kacang, keju, atau, yang lebih mudahnya dengan cara minum susu.

Bila balita susah makan atau minum susu, ada baiknya diperiksakan kepada dokter spesialis anak. Kenali dulu penyebabnya. Dikhawatirkan ada ’sesuatu’ di mulutnya, misalnya sariawan atau radang gusi atau anak mengidap suatu penyakit yang menyebabkan ia tak nafsu dan tak mau makan, termasuk minum susu, seperti adanya gangguan di saluran pencernaan, mulai dari gangguan absorpsi makanan, sehingga makanan yang diberikan tak diserap.

Namun perlu kita ingat, bila balita menolak minum susu, orang tua jangan memaksa apalagi disertai ancaman atau kata-kata yang sifatnya menakuti anak, “Ayo, minum susu! kalau tidak, nanti tidak diajak jalan-jalan”. Atau ancaman lainnya yang membuat balita seperti sedang dicekoki minuman yang sebenarnya tak ia sukai. Hal itu tentu tidak membuatnya nyaman. Jangan hanya demi kepuasan sang ibu, yang terlalu ambisius terhadap berat badan anak atau terlalu membandingkan dengan anak lain, sehingga bersifat pressure atau memaksa, membuat ibu menjadi tidak sabaran atau tak terkontrol emosinya saat anak menolak minum susu.

Bila balita menolak minum susu, cara terbaik ialah memenuhi kebutuhan gizinya dari makanan lain. Bila ibu tak mengupayakan cara lain dengan membuat kudapan yang mengandung susu demi merangsang nafsu makannya, akan berdampak pada tumbuh-kembang si anak. Bila balita tak terpenuhi kalori atau lemaknya, maka berat badannya akan turun. Bila yang tak terpenuhi ialah protein, mungkin jangka panjangnya kepandaian si anak berkurang, proses pertumbuhannya yang membutuhkan protein jadi terhambat. Jika mineral yang kurang maka pembentukan gigi dan tulang yang akan terganggu.

Oleh karena itu bunda, penuhilah nutrisi balita anda. Masih banyak cara lain memberikan gizi seimbang untuk balita. Jangan pernah menyerah saat balita anda susah makan atau tidak doyan susu, karena kita bisa memberikan kudapan dalam bentuk lain yang ia sukai.

*******

*sumber bacaan: Nakita

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: