Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Niken Satyawati

Ibu 4 anak, tinggal di Solo. Memimpikan SEMUA anak Indonesia mendapat pendidikan layak: bisa sekolah selengkapnya

Melahirkan Normal Setelah Caesar, Mengapa Tidak?

OPINI | 16 May 2012 | 03:53 Dibaca: 10646   Komentar: 37   4

13371370261805748806

courtesy of m.medicalera.com.

Setelah melahirkan dengan melalui proses sectio caesarea (SC), yang terjadi pada umumnya si ibu “divonis” harus kembali menjalani proses caesar lagi untuk kelahiran anak berikutnya. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (DSOG) biasanya menyatakan itu, karena tidak mau mengambil risiko terjadi robekan bila ibu melahirkan normal setelah sebelumnya melahirkan secara caesar. Padahal risiko terjadinya robekan itu sebenarnya sangat kecil.

Namun demikian karena ketidaktahuan, ketakutan dan kurangnya pemberdayaan diri, biasanya ibu hamil dan pihak keluarga manut saja apa kata DSOG, sebagaimana mereka manut saja ketika divonis caesar pada kelahiran sebelumnya. Sementara alasan untuk SC seringkali sebenarnya mengada-ada. Adalah kenyataan bahwa ada aroma kepentingan bisnis di sini, sehingga DSOG tak jarang yang “dikit-dikit caesar, dikit-dikit caesar.”

Just remembering, sebagaimana anjuran organisasi kesehatan dunia (WHO), kelahiran caesar di RS sedapat mungkin kurang dari 15%. Namun kenyataannya sekarang di RS Indonesia, kelahiran dengan cara caesar bisa lebih tinggi dibanding kelahiran normal. Bahkan kelahiran secara caesar di RS Jakarta berdasarkan sebuah penelitian tercatat mencapai 70%-90%.

Seiring dengan meningkatnya pengetahuan para ibu hamil, disertai berbagai pertimbangan dan diikuti pemeriksaan sebelum melahirkan, kini melahirkan normal setelah caesar (vaginal birth after caesar/VBAC)  sudah banyak ditempuh para ibu. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan prasyarat melahirkan normal yang aman terpenuhi, misalnya jahitan sudah bagus, berat badan baby bagus, letak plasenta normal dan posisi kepala bayi sudah di bawah/masuk panggul, hampir bisa dipastikan ibu bisa melahirkan VBAC.

Pada satu sisi, situs Bidankita.com mencatat lebih dari 80% kelahiran dengan VBAC berlangsung dengan lancar jaya, aman, dengan akhir yang membahagiakan. Malah ada yang memberikan testimoni, melahirkan lancar dengan VBAC dengan posisi bayi sungsang.  Ada pula yang VBAC-nya lancar jaya, bahkan setelah mengalami 2 kali melahirkan secara caesar.

Jarak antara kelahiran caesar dan VBAC pun beragam. Pada umumnya DSOG memberikan batasan 3 tahun bagi ibu yang melahirkan caesar baru bisa melahirkan lagi (itupun dengan kembali caesar). Namun kenyataannya, sebagaimana testimoni dalam sebuah komunitas untuk memberdayakan ibu hamil, Gentle Birth Untuk Semua, tak jarang para pelaku VBAC ini begitu pendek jarak kelahirannya dengan kelahiran sebelumnya. Bahkan ada yang jarak antara anak caesar dengan adiknya yang normal hanya 18 bulan .

Apa sih alasan melahirkan normal, bahkan setelah caesar? Ini dia alasannya:
1.Tubuh perempuan dirancang sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa, dengan satu lubang untuk melahirkan, sehingga pada dasarnya mampu melahirkan secara normal.

2.Persalinan normal (tanpa indikasi penyulit) jelas lebih aman bagi bayi dan ibunya.

3. Dengan melahirkan normal, ibu cepat memulihkan diri dan konsentrasi penuh merawat bayi.

4. Dengan melahirkan normal, ririko terjadinya infeksi jauh lebih kecil dibanding caesar

5. Melahirkan secara caesar, pemulihan bagi ibu lebih lama, dengan demikian tidak bisa langsung merawat dan berkonsentrasi penuh merawat bayinya. Dengan demikian masa rawat inap di RS juga lebih lama.

6. Dengan melahirkan normal, ibu lebih kondusif untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dibanding melahirkan secara caesar. Walau demikian IMD tetap dianjurkan dan sudah banyak dilakukan oleh para ibu yang melahirkan secara caesar.

7. Melahirkan secara caesar, biayanya jauh lebih besar dibanding melahirkan secara normal.

Ketika ibu-ibu lain bisa melahirkan normal setelah caesar, mengapa kita tidak?  Semua itu terjadi karena ibu membangun keyakinan diri, menghilangkan rasa takut, dan ditambah sugesti yang baik bahwa mereka bisa dan mampu untuk VBAC. Maka ibu-ibu yang baru hamil atau merencanakan hamil sebaiknya memberdayakan diri, banyak membaca dan bergaul untuk menambah pengetahuan, dan membangun sugesti positif. Karena tubuh ini tubuh kita sendiri. Jadi kitalah yang harus memutuskan, jangan sepenuhnya menyerahkan nasib kita pada tenaga kesehatan.

13371403741380087703

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghitung Peluang Jokowi …

Goenawan | | 16 April 2014 | 04:38

Hamil Ikut UN, Boleh? …

Khoeri Abdul Muid | | 15 April 2014 | 21:42

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 18 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: