Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Desrina Sitompul

i am just an ordinary girl with an extraordinary dreams

Diare pada Balita

REP | 03 May 2012 | 17:22 Dibaca: 2709   Komentar: 2   2

diare merupakan penyebab kedua terbesar kematian balita di dunia. penyakit ini bisa dicegah dan diobati. menurut data who sekitar 1,5 juta anak meniggal akibat diare dan ada sekitar 2 milliar kasus setiap tahunnya. sangat miris melihat kenyataan ini. Dan di Indonesia angka kejadian diare juga cukup tinggi.
Penyebab utama diare adalah air minum yang telah terkontaminasi dan makanan yang sudah terkontaminasbakteri penyebab diare seperti vibrio cholera, e.choli dan beberapa jenis bakteri lainnya. Diare bagi orang dewasa tidak akan menimbulkan efek yang lansung berbahaya, selain terganggu aktivitas dan dapat langsung diobati dengan meminum obat anti diare. Berbeda jika halnya balita yang mengalami hal tersebut. Balita merupakan kelompok risiko tinggi terserang berbagai penyakit infeksi karena daya tahan tubuh mereka belum begitu kuat karena kelenjar timusnya belum begitu aktif bekerja.

Bagi sebagaian ibu-ibu jika anaknya terkena diare merupakan hal biasa dan tak perlu terlalu dikuatirkan pada hal banyak efek yang akan berdampak buruk pada balita. Dalam jangka pendek diare menyebab seorang anak dehidrasi karena kehilangan berbagai ion penting dalam tubuh seperti natrium dan kalium. Selain itu diare menyebabkan anak kehilangan selera makan dan tidak mau makan, karena badannya sudah lemah dan lemas, nah jika sudah begini ibu harus berperan aktif. anak jangan dibiarkan tidak mau makan, sang anak membutuhkan asupan nutrisi untuk mengganti zat-zat yang diperlukan tubuhnya yang hilang saat diare. Bila anak dibiarkan tidak mau makan maka tanpa disadari hal tersebut akan berdampak pada tumbuh kembang sang anak.
Efek jangka panjang diare adalah terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan si anak, proses kematangan otak dan akan membuat si anak jadi cenderung apatis dan kurang aktif. Hal ini terjadi karena nutrisi yang hilang dari tubuh sianak tidak mengalami “recovery”, si anak mebutuhkan tambahan nutrisi untuk mengisi kekosongan cadangan zat gizi yang hilang ketika diare dan nutrisi untuk aktivitas kesehariannya.

Oleh karena itu ibu perlu memperhatikan kebersihan dan sanitasi yang menyangkut balita sehingga tidak terjadi diare, terutama botol susu balita hendaknya dijamin kebersihannya sebelum memberikan susu pada balita. Selain itu sebaiknya bayi disusui dengan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya karena ASI mengandung immunoglobulin terutama kolostrum yang berfungsi sebagai daya tah tubuh bagi bayi dan dilanjutkan diberikan ASI hingga umur 2 tahun dibarengi dengan makanan pendamping ASI.

Semoga bermamfaat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50



HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Pelangi Iris …

Putri Kodok | 8 jam lalu

Kodim 1708/BN Akan Bangun 20 Unit Rumah …

David Solossa | 8 jam lalu

Daftar Nama-nama Pahlawan Indonesia Tahun …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Perfilman Indonesia = Media …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

AKRAB Bersama BRI …

Muhamad Adib | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: