Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Eduardus Benedictus Sihaloho

Peminat masalah sosial dan kemasyarakatan, senang membaca, suka menulis, pencinta olahraga khususnya Sepakbola, harus tetap selengkapnya

Perilaku Anak Keterlaluan

OPINI | 26 March 2012 | 05:30 Dibaca: 518   Komentar: 6   1

Sungguh rasa heran yang berlebihan kalau kami mengatakan bahwa perilaku anak saat ini sudah keterlaluan. Kenapa muncul pernyataan demikian, tentunya bukan hanya mimpi atau ilusi semata, namun karena mendengar kejadian yang boleh dikatakan sebagai fakta hidup. Masalahnya begini: tiga hari yang lalu seorang anak dari tetangga saya mengalami perlakuan yang tidak sepantasnya dilakukan anak seumur itu. Anak tetangga saya itu berada di kelas IX SMP, kebetulan dia menjadi ketua kelas di kelasnya. Sebagai seorang ketua kelas adalah menjadi tugas dan tanggungjawabnya untuk menertibkan dan menjaga kelasnya supaya tidak gaduh di saat guru tidak berada di kelas.

Karena melihat teman kelasnya berbuat gaduh dan mengganggu siswa yang lain, maka dia mengingatkan kemudian melarang agar temannya tersebut tidak membuat keributan di kelas mereka. Namun apa tanggapan orang yang diperingatkan tersebut, ternyata dia tidak terima bahwa dia diperingatkan oleh ketua kelas. “Kalau aku tidak mau, kenapa? Apa urusanmu samaku?” kata si anak yang diperingatkan. (Ini pengakuan si korban dan beberapa teman satu kelasnya). Lalu jawab si ketua kelas: “Aku disuruh guru menjaga kelas kita, supaya tidak ribut”. Mendengar jawaban yang demikian si anak yang ribut tadi tidak terima, kemudian dia mengatakan begini: “Kalau kau jago, bertumbuk kita yuk!” (bertumbuk artinya berkelahi). Merasa ditantang si ketua kelas balik membalas: “Ayo, dimana kita main?” “Besok ya!”, kata si anak yang diperingati. “Ya!” jawab si ketua kelas.

Tiba besok hari ternyata si anak yang diperingati kemarin sungguh-sungguh menetapi janjinya. Usai pelajaran sekolah, di luar gerbang sekolah si anak bandal tadi langsung melukai kepala si ketua kelas dengan sebilah pisau yang telah dibawanya sebelumnya. Ada beberapa kali pisaunya mengenai kepala si ketua kelas. Spontan teman-temannya yang berada di situ berteriak menyaksikan tindakan teman mereka tersebut. Sebab kepala ketua kelas mereka sudah berlumuran darah. Sambil merasakan kesakitan si ketua kelas berusaha mengejar si pelaku yang melukai kepalanya, namun begitu mendekat, si pelaku kembali menodongkan pisau yang masih dipegangnya ke arah perut si ketua kelas. Namun karena ditahan teman-teman kelasnya, maka si pelaku tidak melakukannya lagi kepada si ketua kelas. Kemudian keduanya dibawa ke sekolah kembali dan dilapor kepada guru. Setelah itu, para guru dan teman-teman kelasnya membawa si ketua kelas ke rumah sakit dekat sekolah mereka, sambil si pelaku diinterogasi di ruang kepala sekolah.

Mencermati peristiwa tersebut, saya pribadi merasa miris, sebab anak seusia itu sudah berani melakukan tindakan yang membahayakan hidup orang lain, hanya gara-gara masalah sepele saja. Padahal memang tugas seorang ketua kelaslah untuk mengamankan kelasnya ketika guru tidak ada atau ketika terjadi pergantian les pelajaran. Menurut saya tindakan yang dilakukan oleh si pelaku tersebut sangat keterlaluan. Kalau begitu, bagaimanakah tindakan yang semestinya dilakukan kepadanya, agar tidak muncul rasa dendam dalam dirinya. Padahal tindakan si ketua kelas bukan tindakan semena-mena, tindakan biasa saja, yang semestinya dilakukannya.   Hingga sekarang saya bingung memikirkan tindakan si anak tersebut. Memang masalahnya hingga sekarang belum kelar, sebab pihak keluarga si ketua kelas hendak melaporkannya kepada pihak kepolisian. Karena bagi mereka tindakan tersebut merupakan tindakan terencana dan membahayakan nyawa orang. Sementara pihak keluarga si pelaku menghendaki berdamai, agar tidak mengganggu sekolah anak mereka, apalagi saat ini merupakan saat-saat akhir bagi anak tersebut untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi UN (Ujian Nasional). Ahhh, pokoknya aku masih bingunglah, koq senekat itu seorang anak SMP bertindak kepada temannya yang seumuran dengan dia. Kira-kira apakah yang melatarbelakanginya, saya pun masih bingung, belum tahu juga apa alasan si anak pelaku kejahatan tersebut. Kiranya Anda yang membaca tulisan ini, bisa memberi keterangan kepada saya supaya saya tidak terus bingung….tak habis pikir….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: