Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Maryam

Alumni SMA N 3 Yogya (3B), FK. UGM. Minat : Kesehatan, lingkungan, pendidikkan, bahasa Jawa selengkapnya

Gagal KB, Kenapa Harus Digugurkan?

REP | 14 March 2012 | 12:38 Dibaca: 1914   Komentar: 6   1

 

Sepasang suami istri itu terlihat lesu, cemberut, kecewa dan perasaan tak enak lainnya yang tergambar jelas diwajah mereka.

“Ibu ini dulu sekitar 9 bulan yang lalu jadi pasien pada acara Safari KB, dipasang IUD  (=AKDR= Alat Kontrasepsi/KB Dalam Rahim). Tapi sekarang  hamil” kata Bu Bidan menerangkan kepadaku.

“Iya Dok, kok bisa? Kenapa bisa terjadi pada istri saya? Apa salah pasang? Apa salah alat” demikian keluh sang suami.

“Sejak pasang  IUD apa sempat haid atau langsung hamil?” tanya saya.

“Sempat haid  sampai 6 kali (6  bulan),  sudah 3 bulan ini tidak haid,  ternyata ketika diperiksa ke Bidan swasta katanya hamil” kata suaminya.

“O, jadi  sempat haid ya… berarti   IUD nya bekerja baik sampai bulan ke 6,  artinya tidak salah pasang…bla bla bla…”  saya terangkan.

Hm,  urusan yang begini ini yang memusingkan kepala. Kita hanya membantu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan KB gratis, bayangkan kalau mereka pasang IUD di praktek swasta, ratusan ribu harus keluar dari saku. Juga membantu Pemerintah untuk mengkampanyekan penggunaan IUD. Sama sekali tak ada keuntungan finansial yang kami dapat. Tapi masyarakat yang telah dibantu bukannya berterima kasih malah menyalahkan kami.

Dengan sabar kami jelaskan bahwa tidak ada satupun alat kontrasepsi yang 100 % aman dan dijamin tidak hamil. Karena semua itu hanyalah usaha manusia, masalah kelahiran anak jelas kuasa Allah. Betapa banyak pasangan suami istri yang begitu menginginkan punya anak, apa saja mereka lakukan , namun tak dapat jua. Pada sisi lain yang tidak lagi menginginkan anak, justru Allah memberinya. Jelaslah bahwa anak adalah anugrah pada kita, amanah yang dipercayakan kepada kita. Allah memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Kenapa harus jadi beban?

“Bagaimana ini Dok? “Sekarang apa-apa mahal, biaya pendidikkan sangat mahal” kata sang suami. Jelas sekali dia tidak menerima kehamilan istrinya. Istrinya pun terlihat lesu.

Tidak bisa disalahkan sikap si Bapak dan Ibu ini. Sekarang siapa sih yang tidak merasa semua serba mahal? Untuk menyekolahkan anak SD saja harus membayar buku yang tidak murah. Tidak seperti kita dulu yang bukunya dari sekolah, kalaupun ada yang harus beli, masih bisa diwariskan ke adiknya. Sekarang buku si kakak tak bisa di wariskan ke adik, karena tiap tahun buku acuan berganti. Hidup jadi terasa sulit, bila tak dibarengi dengan iman yang membuahkan kesabaran dan ketabahan.

Anak yang sedang di kandung bisa jadi justru menjadi anak yang lebih berbakti

Saya sadarkan Bapak dan Ibu ini untuk sepenuhnya menerima kehadiran si kecil. Diterima dengan sepenuh hati, insya Allah nanti banyak jalan kemudahan. Anak kita yang sudah lahir belum tentu menjadi anak yang berbakti kepada kita (naudzubillahi min dzalik). Bisa jadi anak kita yang sedang  dikandung istrinya itulah yang akan menjadi kebanggaan Bapak Ibu dan berbakti. Ada beberapa orang tua yang punya anak banyak, tapi ketika orang tuanya sakit, anak-anaknya yang sudah berpencar ke kota-kota besar tak ada yang bisa mengurusi orang tuanya yang sedang sakit. Apalagi kalau anaknya sedikit. Jangan sampai ketika kita tua,  terbaring sakit sendirian tak ada yang menunggu, kita hanya bisa bergumam  “seandainya dulu dia tidak saya gugurkan, tentu sekarang ada yang menjagaku ketika sakit…”

Saya teringat kata-kata Herri Komala, ST, CFT,CBC, master pada super camp SOS (Spirit of Success). Beliau mengatakan bahwa kebutuhan dasar seorang anak ada 2 yaitu diterima dengan sepenuh hati, dan dicintai. Justru bukan kebutuhan materi yang utama. Ketika seorang anak meskipun prestasi belajarnya mengecewakan, tetapi diterima dengan sepenuh hati, dicintai, akhirnya anak akan bangkit dan bisa sukses. Barangkali itu yang bisa menjelaskan, kenapa banyak orang sukses sekarang kalau dirunut ke belakang tidak selalu berasal dari orang tua yang kaya.  Banyak anak yang berasal dari keluarga kaya ketika dewasa hidupnya sulit  (sulit untuk menolong dirinya sendiri, sulit menghidupi dirinya sendiri, apalagi untuk menghidupi orang  lain).

Namun sesungguhnya  kesuksesan  seseorang tidak harus dilihat dari berapa banyak harta yang dia kumpulkan.   Tidak  bisa dilihat dari gelar yang disandangnya.  Banyak orang kaya yang hidupnya  tak nyaman,  tapi banyak orang yang penghasilannya pas-pasan  mereka  bisa bahagia, karena cara pandang  hidupnya yang  bijak.

Masalah rejeki sungguh bukan masalah manusia, kita hanya berusaha. Masing-masing anak yang dilahirkan telah membawa rejekinya sendiri-sendiri. Saya contohkan, dokter-dokter spesialis yang ada sekarang tidak semuanya dari orang tua yang kaya. Ada dari mereka yang karena kemauannya yang sangat kuat, maka jalan kemudahan terbuka baginya. Anak orang miskin tapi bisa sekolah kedokteran dengan hidup sangat prihatin,sederhana dan aktif mencari beasiswa, bahkan bisa sampai spesialis. Sesungguhnya ada banyak beasiswa di dalam dan luar negeri, selama anak yang bersangkutan aktif mencari. Tidak harus biaya pendidikkan ibebankan kepada orang tua semua.

“Ya kalau anaknya pintar, bisa dapat beasiswa, kalau bodoh?” kata sang suami.

“Ya kita yang menjadikan anak kita pintar, Pak” Kataku.

“Dari puskesmas apa ada tindakan untuk kasus yang seperti ini” tanya si suami. “Ya bagaimana ya, kami belum siap…”lanjutnya.

Wah, dialog berjalan alot. Intinya si suami seolah ingin meminta puskesmas untuk menggugurkan kandungannya. Kami yakinkan sekali lagi agar mereka menerima calon sikecil dan tidak menggugurkannya. Kami doakan dialah yang akan menjadi anak yang jauh lebih baik daripada anak-anak yang lain. Penerimaan orangtua terhadap anak akan sangat membekas di hati anak, anak merasa di sayang, dilindungi, aman. Apa jadinya kalau ayah ibunya telah menolak dia sejak dari kandungan? Tentu akan sangat berefek buruk pada psikologis anak ini kelak.

Masing-masing alat KB  memang ada kelemahannya sendiri. Dan tak ada yang menjamin 100% berhasil. Namun meskipun ribuan Ibu dipasang IUD, tapi bisa dibilang yang gagal bisa dihitung, teramat sangat jarang.

Tapi ada lho, dengan benda yang amat sederhana, dijamin istri tidak hamil lagi. Mau tahu? Temanku yang humoris (pernah juga saya dengar dari salah satu Pak Camat dalam sosialisasi Gerakan Sayang Ibu), bilang : “Pakailah kacang hijau. Kempit (cepit) itu kacang hijau dengan kedua lutut istri, jangan sampai lepas…… “

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 5 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: