Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ilhammajehuri

di hati ini ingin menulis..... pikiran trus berpikir....

PROGRAM KB NASIONAL

OPINI | 15 February 2012 | 18:33 Dibaca: 2431   Komentar: 0   0

13343781531537109169

PROGRAM KB NASIONAL.

Tanjung palas ,Program Keluarga berencana (KB) belum menyentuh keluarga praKS dan KS I (miskin) di kalimantan timur, asumsi sejumlah Keluarga miskin yang memiliki banyak anak belum mendapatkan pengetahuan tentang KB.

Hal ini masih banyaknya keluarga miskin yang belum mengikuti program KB, sehingga kehidupan mereka cukup memprihatikan dari segi kebutuhan sehari-hari, pendidikan maupun kesehatan.kata  Kabid advokasi Komunikasi, Impormasi dan Edukasi (BKKBN Kaltim) Drs.sudibyo.

Menurut dibyo berdasarkan pemantauan dimasyarakat ternyata masih memiliki banyak ditemui warga miskin yang memiliki anak hingga mencapai sepuluh kerena tidak mengikuti program KB.

Sebagai contoh yang dialami pasangan Suharto J ( 45 Tahun) bersama istrinya Erna (34 Tahun) ,warga kelurahan Tanjung Palas Ulu , yang memiliki sepuluh orang anak dan mendiami rumah kayu berukuran 6×8 meter. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja cukup sulit ,apalagi memenuhi gizi anak ,terlebih membiayai anak sekolah, ditambah jika ada anak yang sakit “Kata Suharto .Dikatakannya bahwa dia memiliki sepuluh orang anak , yang paling tua bernama sadam Husien,usia 19 tahun anak paling kecil bernama Fatimah Aulia, berusia 4 tahun. Anak Tertua hanya lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan anak kedua bernama Rita yanti putus sekolah ditingkat SMP,sedang adik-adik masih sekolah ditingkat dasar dan ada yang belum sekolah.

Suharto menjelaskan ,dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, anak pertama membantunya bekerja sebagai tukang taxi perahu (ces) dan anak kedua bersama istrinya menjadi pembantu ,mencuci pakaian dirumah Tangga.

Ini lah satu contoh keluarga miskin yang ada di kalimatan Timur pada khususnya  pada  umumnya penduduk indonesia, yang tidak ditunjang dengan  penunjang kebutuhan hidup yang layak seperti  sandang  pangan dan perumahan ini akan menimbulkan  masalah untuk kesejahteraan   masyakat indonesia  .

Kegagalan Program KB nasional, bisa akibat  belum adanya  penggalakkan pada proyek yang langsung menangani keluarga miskin dalam masalah KB  artinya  proyek kegiatan KIE baik di rumah keluarga PRA KS dan KS pada setiap Desa/Kelurahan secara menyeluruh sampai tingkat RT ini belum pernah diadakan.

PKB Tanjung Palas  ( ilham ), berpendapat  bahwa Faktor penyebab masalah ini adalah pertama minim nya petugas dilapangan PLKB sederajat SMA dan Bidan yang berada distiap pelosok Desa (POSTU) dan Pemukiman Kumuh perkotaan jumlah petugas yang terbatas akan kurang dapat memberikan kontribusi maksimal pada peningkatan pelayanan KB . jika saja satu PLKB dan satu petugas bidan berada distiap desa dan kelurahan bertugas ini dapat mempasilitasi serta meningkatkan penggerakan dan mengajak masyarkat menumbuhkan program KB yang selih potensial.

Kedua Ajakan dari Tokoh masyarakat, Tokoh adat kurang begitu mengkompanyekan program KB ini ,lembaga Sosial Masyakat tidak begitu peduli dengan masalah Baby boom untuk bantuan memberian kegiatan penyuluhan KB . jangan saja keberhasilan program KB dibebankan Pada tugas pemerintah tetapi lebih efektif jika progam KB masing elemen bergerak sesuai tugas fungsi turut menyukseskan dan memberikan dukungan nyata dalam program KB melaui pertemuan dengan masyarkat. Dengan demikian seperti LSM sebagai lembaga idependen yang bisa berperan stabilator perkembangan dan pertumbuhan penduduk indonesia yang mencapai 300 juta jiwa dengan 10.000 bayi lahir setiap hari . Artinya mereka turut peduli terhadap masalah Baby Boom .

Ketiga    menset budaya tradisioanal yaitu banyak anak dan cucu banyak rejeki seakan akan keluarga yang banyak itu lebih gampang tidak akan menimbulkan beban bagi negara  untuk dapat mensejahterakan masyarakat.

Keempat Menikah dini yang diakibatkan rentetan menset tadi , akibatnya banyak yang menikah diusia 13-15 tahun. padahal sebaiknya laki diusia 20 tahun untuk perempuan  25 tahun .jika  pada usai muda kita berikan cara berpikir tradisonal dan akibat budaya indonesia yang melegalkan  budaya  dan ada tradisional  sehingga banyak terjadi dimasyaarakat kita pernikahan tampa mempertimbangkan kematangan psychology  dengan topangan ekonomi anak stabil  yang belum matang untuk melahirkan  akan berdapak banyak ibu melahirkan bayi  meninggal , berujung pada kawin percerai dan perselingkuhan .

Kelima Dampak pengunaan alat Kontrasepsi oral  ( pil KB ) yang jangka Waktu pengunaannya satu bulan sering terlupakan , ini juga memberikan proses percepatan kelahiran karena  kelemahan cara  dari cara berKB tersebut, sehingga menurunnya kotinunitas yang berkelanjut  maka pada waktu step berhenti berKB inilah kehamilan terjadi sebaik cara berkb di indonesia lebih diarahkan pada suntikan 3 bulan dan  enam bulan. dari data Nasional cara berKB yang paling banyak diindonesia adalah pil .

Keenam Pemerintah belum benar-benar serius menangani masalah baby boom kelahiran  diatas 2,5 persen pertahun ini suatu angka yang masih tinggi  dan akan meningkat seiring dengan lemahnya pengawasan terhadap pertumbuhan penduduk indonesia di tahun  akan datang.seharusnya ada suatu kebijakan yang mengatur tentang kelahiran ,sehingga dapat menurunkan jumlah populasi penduduk indonesia yang semakin mencapai 300 juta jiwa.(il

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Survivor Lapindo Mulai Tenggelam …

Teguh Hariawan | | 22 September 2014 | 21:21

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | | 23 September 2014 | 04:08

Beginilah Antusiasme para Warga Belajar …

Pkbm Al-fath | | 22 September 2014 | 23:52

Ketika Animasi Tom & Jerry Ditegur KPI, …

Sahroha Lumbanraja | | 23 September 2014 | 00:24

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 1 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Tak Serenyah Makan Krupuk …

Sulis Voyager | 7 jam lalu

Konflik Perkalian PR SD, Bukti Pendidikan …

Muhammad | 7 jam lalu

Profesionalisme Guru Indonesia …

Huda Ahmadi | 7 jam lalu

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Menghaturkan Tanya …

Anis Fuadah Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: