Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Nurhayati Yazid

Merangkai cerita dalam pikiran, membangunnya menjadi indah dan berusaha membaginya kepada orang lain melalui tulisan… Moga selengkapnya

Aku dan Anak Burung

REP | 09 February 2012 | 03:40 Dibaca: 118   Komentar: 2   0

Inilah sore yang indah setiap kali aku pulang dari bekerja. Kujumpai ayah, ibu dan adikku yang manis-manis. Hidangan makan malam masih tercium harumnya dari arah dapur ibuku. Sedaappp!

Seperti kebiasaan adikku. Makan malam seringkali diisi dengan acara suap-suapan. Pastinya sih, ibuku yang nyuapin adikku makan. Makan langsung dari tangannya yang mulai keriput. Kebiasaan ini sudah dimulai ketika adikku kecil. Mulai dari berangkat sekolah hingga pulang.  Padahal sekarang ini adikku sudah tingkat satu di sebuah perguruan tinggi. Maklumlah, adikku itu bungsu. Seperti kata orang, bungsu memang selalu jadi kesayangan. Orang serumah menyayanginya.

Tapi sore ini lain! Pasalnya adikku sedang ngambek sama ibuku. Karena hari sebelumnya ibuku menggodanya. Ia tidak mau lagi nyuapin adikku itu. Aha! Ini alamat aku yang dapat rejeki, begitu pikirku.

Tanpa mandi dulu, aku langsung minta disuapin makan dari tangan ibuku. Kebetulan saat itu ibuku tersayang sedang makan sore. Waduuh, betapa senang dan mengharu birunya perasaanku.

Tahukah kau, kawan? Betapa ingin menangisnya aku. Air mataku serasa tak dapat kutahan saat tangan ibuku menyentuh mulutku untuk memasukkan makanan.

Saat itu aku seperti anak burung. Anak burung yang tak bisa apa-apa saat sayapnya belum mampu terbang, saat tubuhnya masih lemah, saat bulu-buluh indah belum menghias tubuhku. Meski aku tahu, aku sudah cukup mampu terbang dan cukup kuat, tapi…. bila berhadapan dengan ibuku, aku layaknya anak burung.

Ibuku tertawa. “Mulutnya kecil!” Kata ibuku saat nyuapin aku.

Adikku yang besar menjawab, “Makanya makanannya tumpah-tumpah.”

“Iya. Coba kalau Bungsu yang makan. Waaah, mulutnya lebar! Semuanya muat,” kelakar ibuku.

Aku terseyum. Sementara adikku itu dan ibuku tertawa-tawa. Untung saat itu si Bungsu sedang ngambek. Hahahaa…

Aku mengucap doa kepada Tuhan, semoga segala cinta, kebaikan, kebahagiaan dan kesehatan selalu dilimpahkan untuk ibuku. Satu-satunya ibu yang tidak ingin kuganti dengan siapapun. Bagaimanapun dia, dialah ibuku tersayang.

Kawan, seperti itukah perasaan hatimu terhadap ibumu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 8 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: