Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Erna Suminar

Menulis kembali bagiku seperti titik balik hidup, dan belajar melihat hidup serta untuk menemukan makna selengkapnya

Pengalamanku Menjadi “Single Parent”

HL | 25 January 2012 | 09:37 Dibaca: 1672   Komentar: 61   10

Februari tahun 2000. Ketika itu putra pertama saya Hanif, masih duduk di kelas 4 SD Prof. Dr. Moestopo, Bandung, Irsyad kelas 3 di sekolah yang sama, sementara Fai sekolah di TK dan Firdaus berusia 3 tahun. Peta keluarga berubah. Kami tinggal di Bandung, sementara suami tinggal di Amerika.

Sebenarnya berpisah seperti ini sebuah hal yang biasa saja untuk kami. Berulang kali saya dan anak-anak ditinggal bertugas suami ke berbagai kota di Indonesia maupun ke luar negeri, hanya jangka waktunya dapat diprediksi, dan pulang kembali ke Bandung. Sementara kepergian ke Amerika, kami sudah merencanakan akan bekerja, untuk kemudian “menetap” di sana. Namun, pada saat saya mengajukan visa untuk menyusul suami pada bulan September 2001, sesaat setelah tragedi 11 September-peristiwa hancurnya WTC di New York- visa saya di tolak. Saya bisa pahami, phobia terhadap Islam saat itu sangat tinggi, apalagi saya memakai jilbab. Ada teman saya seorang professor yang akan menghadiri seminar di sebuah kota di Amerika  visanya di tolak,  hanya karena namanya berbau ke-Islaman, dan banyak cerita-cerita sedih di saat itu, yang semuanya mengukuhkan paranoid sebuah negara adi daya bernama Amerika.

Kendati rencana keluarga gagal, saya masih bersyukur, suami  masih bisa pulang-pergi Amerika-Indonesia dalam periode waktu tertentu. Sekali pun kami sedih, namun kami tak boleh larut. Akhirnya, di mulai lah petualangan baru dengan 4 putra saya yang masih kecil-kecil.

13274832481312821144

Sebagai ibu yang bekerja, waktu yang diberikan kepada anak-anak jelas lebih sedikit dibandingkan para ibu  rumah tangga yang hanya mengurus keluarga.  ‘Ketiadaan’ ayah disamping mereka, membuat saya berpikir keras mengatasi situasinya. Karena tak ada satu pun keluarga besar yang dekat dengan kami.Maka langkah pertama yang harus saya lakukan adalah memiliki pembantu. Dan saya tidak memusingkan urusan-urusan pekerjaan rumah tangga, biarlah diurus pembantu saja. Pikiran saya hanya tertuju pada pekerjaan dan terutama anak-anak.

Kebetulan pekerjaan saya mengajar mahasiswa dan menjadi konsutan pendidikan, waktu menjadi lebih fleksibel untuk mengatur irama keluarga. Sebelum saya berangkat ke kantor, saya mengantar anak-anak ke sekolah terlebih dahulu, dan saya selalu menyempatkan diri untuk menjemput anak-anak seusai jam kerja. Namun itu saja ternyata tak cukup. Saya harus memerankan diri menjadi ‘ayah’ untuk anak-anak yang semuanya lelaki. Akhirnya kegiatan-kegiatan kami menjadi “lelaki banget”.

Seiring dengan usia anak-anak, kami memilih kegiatan-kegiatan lintas alam, naik gunung Tangkuban Perahu, camping di tepi pantai. Jika camping tak memungkinkan, saya menyewa bungalow dan berhari-hari kami ada disana hingga anak-anak merasa senang dan puas. Kadang-kadang  sebagai selingan, kami nonton bioskop sama-sama. Saya juga menyediakan buku-buku untuk ‘menemani’ mereka yang berhubungan dengan percobaan sains, biografi tokoh-tokoh terkenal dalam bentuk komik, alam raya, tumbuhan, geologi, astronomi dari buku Cakrawala Pengetahuan Dasar, Widya Wiyata Petama Anak-Anak dan Hamparan Dunia Ilmu, dan lainnya. Sesekali kalau pulang, suami saya juga membawa buku-buku berbahasa Inggris sebagai hadiah untuk putra-putra kami, yang tenyata di kemudian hari membuat putra-putra saya dapat berbahasa Inggris dengan baik. Dan, dari seluruh buku-buku yang disukai anak-anak saya adalah komik Dora Emon.

13274836281275742715

Disamping kegiatan-kegiatan bermain outdoor, ada kegiatan yang sangat disukai ke-4 putra saya, yaitu percobaan sains. Akhirnya saya memfasilitasi seluruh kesukaan mereka dengan mengirimnya ke sebuah klub percobaan sains. Layaknya ilmuwan cilik, mereka membuat percobaan-percobaan fisika, kimia dan biologi secara sederhana, salah satunya percobaan gunung berapi, cara kerja magnet dan lainnya. Karena itu, setiap kami pergi ke luar jalan-jalan ber-lima, seperangkat alat-alat yang membantu rasa ingin tahu mereka selalu ada, seperti magnet dengan berbagai jenis bentuk, kaca pembesar, teropong, dan alat-alat percobaan lainnya. Pada suatu ketika, ayah mereka  membelikan  teropong bintang dari Amerika. Teropong bintang itu membuat kami terpaku di depan langit  hampir setiap malam,  jika langit tak mendung.  Saya dan anak-anak mengamati bintang dan bulan. Berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama-sama membuat kami menjadi tim bermain yang solid. Walau pun demikian,  terkadang kami bertengkar untuk urusan hal-hal yang remeh temeh, untuk sesaat kemudian berbaikan kembali.

Pada bulan Oktober 2005, suami saya memutuskan pulang ke Indonesia. Namun, mungkin sudah menjadi garis takdir kami untuk menjadi keluarga jarak jauh. Suami saya bekerja di Jakarta, tetapi  seringkali melakukan tugas-tugas ke luar Jakarta dan luar negeri. Jadi apa gunanya kami pindah ke Jakarta, tempat menetap suami tak bisa ‘dipegang’. Dan saya kembali berpetualang dengan anak-anak yang sudah mulai berangkat remaja. Tentu saja, sekarang jauh lebih asyik. Anak-anakku yang remaja sudah mulai jatuh cinta. Pokok bahasan kami sudah mulai ke urusan cewek.. Saya mulai agak mengendurkan kontrol kepada anak-anak, supaya  mereka memiliki ruang (space), dengan demikian  mereka dapat mengembangkan pikiran dan perasaan mereka. Tetapi dalam situasi tertentu,saya selalu bersama dan ada untuk  mereka. Terkadang, malam-malam ditengah hujan lebat saya menjemput mereka dari sekolah, rumah temannya, atau tempat les-nya masing-masing. Namun kami tetap sering pergi bersama ke luar kota dan kerja bakti di rumah (walaupun banyak malasnya), serta mengasuh binatang kesayangan bersama-sama.

Ternyata pengalaman masa kecil mereka berurusan dengan percobaan sains, membuat mereka memilih jurusan kuliah tak jauh dari basic –nya. Hanif akhirnya kuliah di Jurusan Teknik Kimia- Universitas Diponegoro dan Irsyad di jurusan Geofisika- Universitas Gadjah Mada. Sementara putra ke-3 saya Fai, yang duduk di kelas 1 SMA 3 Bandung, sejak SMP sudah mampu merakit computer sendiri. Beberapa komputer telah ia rakit dan perbaiki. Saya hanya membelikan motherboard, VGA dll. Dan Fai juga mampu membobol password orang, namun ia tidak lakukan, apalagi ia sudah jadi aktivis Dewan Kerja Mesjid (katanya mau jadi orang baik, hihiii). Sementara anak bungsu saya Firdaus kelas 3- SMP Negeri 1 Bandung, senang dengan gambar-gambar teknik yang ia wujudkan pada sebuah model dalam bentuk paper craft. Hanif, Irsyad dan Fai sempat  beberapa kali mengikuti olimpiade sains, tetapi  keberuntungan saat itu belum berpihak pada mereka.

Sekarang, suami saya tinggal di  Kupang, Nusa Tenggara Timur. Namun demikian anak-anak sudah mampu menyikapinya dengan ‘dewasa’, “ Papa itu, walau seringkali tak ada ditengah kita, kehadirannya selalu ada, ” kata Fai sok bijak, jeeeee…

_____

Sumber gambar : www.howstuffworks.com, www.sains-ipa-fisika.blogspot.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Indonesia Tanpa Pancasila …

Fadjar Hadi | 7 jam lalu

16 Milyar Rupiah Hanya untuk Sumpah Janji …

Muhammad Nur,se | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

Anggota DPR RI dan Gadget …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: