
Eddy Mesakh, mantan wartawan di lingkungan Persda Network (Kompas Gramedia), yakni Harian Tribun Batam di Batam, Kepulauan Riau dan Tribun Manado di Manado, Sulawesi Utara. Kini menjadi karyawan sebuah minimarket di Batam.
Dibaca: 314
Komentar: 2
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
JELANG tengah hari, Rabu 21 September 2011. Roda sepeda motor yang saya kendarai baru menyentuh aspal jalan di depan rumah ayah saya. Tiba-tiba seorang sepupu perempuan berteriak dari mulut lorong di seberang jalan. Dia terlihat sangat panik. Wajahnya cemas. Penuh keringat. Dengan dialeg melayu Kupang, dia berujar, “To’o, tolong dolu, Om Natan pung anak su mau mati!” (Paman, tolong dulu, anaknya Om Natan sekarat). “Dia telan cincin, taga’e (tersangkut) di kerongkongan,” lanjutnya.
Saya langsung mengarahkan sepeda motor ke rumah yang dimaksud, kira-kira seratus meter dari rumah kami. Di depan rumah, seorang ibu muda menggendong bayi mungil sambil menangis histeris. Semua orang terlihat panik. Bingung. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Saya memerintahkan ibu muda itu segera duduk di boncengan.
Motor butut itu saya paksa melaju sebisanya. Kami melaju dari Lasiana ke arah pusat Kota Kupang, mencari pertolongan medis terdekat. Bayi empat bulan itu terus menangis, tapi suara tangisannya sangat kecil. Nafasnya tersengal-sengal, seperti orang mendengkur. Sang ibupun tak berhenti menangis. Tangisannya semakin menjadi-jadi. “Ado kasian, beta pung anak pung badan su dingin.” (Aduh kasihan, badan anakku sudah dingin).
Mendengar itu, saya pun panik dan berpikir, “Duh, gawat! Bagaimana kalau bayi laki-laki yang tampan ini meninggal di perjalanan?” Semakin kencang saya memacu sepeda motor. Tapi dasar motor butut, rasanya gas sudah kutarik habis, tapi kutaksir motor itu hanya bisa melaju sekitar 60 km/jam.
Tiba di Oesapa, sekitar tiga kilometer dari Lasiana, ada beberapa papan praktek dokter terpampang di depan sebuah apotek. Saya membelokkan motor ke apotek itu. “Ada dokter?” Kata petugas di apotek itu, para dokter hanya praktik malam. “Di mana rumah sakit atau Puskesmas terdekat,” tanya saya. “Terus sa ke sebelah, Om. Terus ke rumah sakit Kota Kupang di sebelah,” jawab sembari menunjuk ke arah pusat kota. Hati saya gembira, pikirku rumah sakit itu hanya beberapa puluh meter dari apotek itu. “Di mana,” tanya saya lagi. Dia menjawab, “di Pasir panjang!”
Ya Tuhan! Itu masih sekitar tujuh atau delapan kilometer lagi di depan. Saya tak lagi mendengar “dengkuran” bayi itu. Sementara tangisan sang ibu kian menjadi-jadi. Terlintas dalam pikiran agar menyetop mobil apa saja agar mengantar bayi ini ke rumah sakit secepatnya. Tapi pas jam sibuk, kondisi jalan tak begitu lancar. Kalaupun ada pengendara mobil yang hendak menolong, belum tentu mereka bisa lebih cepat tiba di rumah sakit.
Di persimpangan segitiga Jl Adisucipto-Jl Timor Raya, Oesapa, traffic light sedang menyala merah. Terpaksa saya terobos. Lima menit kemudian kami sudah tiba di RSU Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kami tergopoh-gopoh ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Sejumlah petugas di sana sigap menyambut kami. Seorang petugas medis langsung mengambil sang bayi dari gendongan ibunya sambil menanyakan apa yang terjadi. Saya melirik ke arah bayi itu, syukurlah, dia terlihat masih bernafas.
Sementara saya berurusan dengan petugas administrasi. Dia menanyakan identitas pasien.
“Bapak ayahnya?”
“Bukan!”
“Bapak siapanya?”
“Tetangga.”
“Nama bayinya?”
“Tidak tahu..”
“Nama ibunya?”
“Tidak tahu.”
Ya, kendati bertetangga, saya sama sekali tidak mengenal siapa mereka. Mereka warga baru, sementara sudah bertahun-tahun saya meninggalkan Kota Kupang. Baru dua hari saya pulang kampung.
Petugas itu melanjutkan pertanyaannya. “Ada kartu Jamkesda?”
“Mestinya ada,” jawab saya. “Tapi ibu, tolong tangani bayi itu secepatnya. Urusan administrasi menyusul. Berapa biayanya?” lanjutku.
Petugas medis keluar dari ruang perawatan sambil menggendong sang bayi. “Tidak bisa. Cincin itu tersangkut di tenggorokannya. Tapi syukurlah ini cincin, bukan koin. Jadi dia masih bisa bernafas. Harus dirujuk ke rumah sakit umum,” kata petugas itu.
Seorang dokter perempuan langsung membuat surat rujukan ke RSUD Prof W Z Johannes. Celaka, saat hendak membubuhkan stempel ke surat rujukan, ternyata pegas stempel itu macet. Kira-kira satu atau dua menit dia berusaha membubuhkan cap, tapi waktu terasa berjalan begitu lambat. Ambulance sudah siap di depan.
Semenit kemudian, suster yang menggendong bayi itu bersama ibunya sudah berada di atas ambulance. Seorang suster lainnya ikut mengantar bersama seorang pemuda. Belakangan saya diberitahu bahwa pemuda itu adalah paman sang bayi. Dia adik dari ayah bayi malang itu. Mereka segera melaju kencang ke RSUD Prof W Z Johannes, berjarak kira-kira lima atau enam kilometer lagi. Saya menyusul dari belakang, tapi “kami” (saya dan si butut) tak bisa mengejar. “Kami” ketinggalan hingga ambulance tak lagi terlihat.
Di Instalasi Rawat Darurat (IRD), saya tak menemukan si bayi dan ibunya. Bertanya ke para suster maupun dokter yang bertugas, tak seorangpun tahu. Saya menelusuri sejumlah ruangan. Tetap nihil. Kira-kira satu jam kemudian, suster dari RSUD Kota Kupang terlihat menggendong sang bayi melewati koridor ke arah IRD. Sang ibunya berjalan di belakang. Saya segera menghampiri mereka.
“Bagaimana kondisinya, Bu?”
“Sudah keluar. Ini cincinnya,” jawab suster itu sambil menunjukkan sebuah cincin berlumur darah. Cincin itu ternyata memiliki semacam pengait. Mungkin pengait itulah yang melukai tenggorokan pasien mungil itu ketika dokter menarik keluar cincinnya.
“Berapa biayanya?”
“Dokter kasih gratis..”
“Hanya perlu bayar biaya obat. Nanti obatnya diambil di RSUD Kota Kupang. Biayanya paling-paling lima belas ribu atau dua puluh ribu saja,” sambung suster lainnya.
Paman si pasien mungil menolak ketika saya menyodorkan sejumlah uang. “Terima kasih, kaka. Sonde usah, beta ada bawa uang,” ujarnya. (Terima kasih, kakak. Tidak usah, saya ada bawa uang). Lalu saya meninggalkan mereka, melanjutkan pekerjaan saya.
Malamnya, ketika pulang ke rumah, kakak saya menuturkan, bayi itu menelan cincin permainan dari dalam kemasan sejenis makanan ringan. Entah siapa yang memberi permainan berbahaya bagi bayi empat bulan itu. Lucunya, saat Om Natan, ayah si bayi, datang ke rumah kami untuk menyampaikan rasa terima kasih karena sudah menolong bayinya. Kata kakak saya, bukannya mengucapkan terima kasih, dia justru meminta maaf.
Tapi pesan penting dari peristiwa ini, selalu waspada menjaga keselamatan buah hati kita. Jangan coba-coba memberi permainan atau benda apapun yang berukuran kecil kepada anak-anak di bawah lima tahun. Apalagi kepada bayi di bawah satu tahun. Jangan sampai Anda kehilangan buah hati lantaran hal ’sepele’ itu. (*)
Lasiana, Kupang (NTT), 23 September 2011