Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Joshua Limyadi

Akun Kompasiana resmi Joshua Limyadi. Info dan artikel terbaru dapat Anda lihat di www.joshualimyadi.com | selengkapnya

Mengenalkan Parenting Kepada Anak, Pentingkah?

HL | 06 July 2011 | 15:27 Dibaca: 903   Komentar: 43   8

1309949695866370911

Cinta anak kepada ibunya. (Ilustrasi / Shutterstock)

Parenting adalah dunianya para ibu. Namun saya sendiri tidak yakin dengan pendapat ini. Sebenarnya jika ibu saja yang berperan, itu lebih tepat disebut “motherhood” atau sifat keibuan. Seiring dengan perkembangan zaman, parenting tidak hanya perlu diketahui oleh kaum ibu saja, yang mana ibu memiliki peranan dominan dalam kehidupan anak. Tak dinyana parenting berkembang lebih luas, bahkan mencapai figur ayah, sekalipun peran ayah berbeda dengan peran ibu dalam keluarga. Saya masih yakin ada ayah yang masih memiliki jiwa keibuan di dalam dirinya, walaupun tidak dominan.

Sebelum memasuki milenium ketiga, parenting hanya sebatas ibu ke anak saja, tidak ada perluasan atau penyempitan ruang lingkup parenting dalam ilmu dan penerapan konsepnya. Pada era milenium ketiga seperti saat ini, setiap orang dituntut untuk berfikir maju dan siap menghadapi segala tantangan globalisasi, termasuk halnya menghadapi tantangan kejiwaan. Pengetahuan parenting amatlah penting karena selain dapat mengembangkan harmoni hubungan anak dengan orangtua, juga dapat membuat anak dan orangtua saling mengenal, baik karakter, kebiasaan, maupun jati dirinya.

Tidak semua orangtua di Indonesia sadar parenting, jika diukur dari segi kualitasnya. Banyak orangtua di Indonesia masih menganggap parenting hanyalah milik kaum urban, terlepas dari esensi hubungan orangtua kepada anak dan parenting sebagai cabang ilmu pengetahuan kejiwaan. Artinya masih banyak orangtua yang belum memahami kemajuan dan geliat dalam parenting masa kini. Misalnya, ketika anak berpacaran, sebagian orangtua belum memberi kepercayaan kepada anaknya untuk berpacaran karena belum tahu perkembangan yang sebenarnya.

Mempelajari parenting itu mudah. Tak harus menjadi sarjana atau ahli kejiwaan. Mempelajari parenting secara cepat dan mudah berawal dari mengenal kepribadian anak dan cara menyesuaikan perlakuan (tindakan orangtua) terhadap anak sesuai dengan minat dan kepribadiannya. Tidak lupa hukum “aksi-reaksi” juga berlaku dari segi emosi. Hal ini bisa diperkenalkan sejak dini kepada anak, dengan tujuan bukan hanya mengenal orangtuanya dari banyak perspektif, tetapi juga membuat tindakan anak lebih sinkron dengan apa yang diinginkan orangtua.

Mengenalkan parenting kepada anak memang tidak gampang. Hanya mereka yang mulai dewasa yang dapat mengerti tujuan, arti dan maksud dari perilaku orangtuanya. Tahapan usia remaja adalah saat yang tepat untuk mengenalkannya. Dengan cara apa? Membangun komunikasi intensif dan menjadikan anak sebagai mitra dan teman dalam kehidupan. Ini membuat anak memahami, menyadari dan melihat tugas dan tanggung jawab orangtuanya dengan anak sebagai prioritas utamanya. Lebih tepatnya mengenalkan melalui “role behaving” terhadap anak.

Sedikit pengalaman saya, saya tidak pernah dekat dengan ibu sejak mengetahui ayah meninggal saat masih bayi. Hal itu saya ketahui saat saya masih TK dulu ketika saya tidak menemukan figur ayah dimana-mana. Semakin dewasa, saya semakin memahami tugas orangtua dari testimoni teman-teman saya. Pandangan mereka pun beragam, ada yang menjadikan ayah sebagai idola, pemimpin, panutan, teman, rekan, sampai kepada pelindung. Saat mempelajari ilmu parenting secara otodidak melalui membaca dan observasi perilaku saat saya mulai duduk di bangku SMA, saya bisa memperbaiki hubungan yang sempat hancur dengan Ibu saya, terutama di saat kritisnya yang sering saya acuhkan dulu.

Anak yang sudah sadar parenting, begitu juga dengan orangtuanya, dapat membantu meningkatkan kesejahteraan emosi dan mental keluarganya dengan keakraban yang baik, didasari dengan pemahaman yang baik terhadap seluruh anggota keluarga. Dalam berbagai aspek parenting, anak adalah keutamaannya.

Sudahkah Anda mengenalkan parenting kepada anak Anda, dan bagaimana Anda memperkenalkannya?

.

1397982021156463896

13979821921772011122

13979821452057137018

139798216641882395

.

© Joshua Martin Limyadi. All rights reserved.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menumbuhkan Minat Baca Anak Cara Pemerintah …

Benny Rhamdani | | 16 September 2014 | 10:01

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Jalan Kaki Camping Heboh di Mandalawangi …

Rahmat Hadi | | 16 September 2014 | 12:32

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 6 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 8 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

I Am Groot …

Jeba | 7 jam lalu

Peran Google Drive Sebagai Alternatif …

Agus Oloan | 7 jam lalu

Kesatria itu Bernama Norman …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Republikarnivor …

Den Hard | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Perawan Sunthi …

Siti Swandari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: