Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ong Budi Setiawan

Klub Amsal - Hikmat Kebijaksanaan dalam Bisnis dan Kehidupan

Hikmat dalam Pernikahan

OPINI | 01 July 2011 | 08:26 Dibaca: 357   Komentar: 0   0

Guru Agung pernah menyatakan dirinya dengan ungkapan ini,“…sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” Orang ini yang juga pernah menyatakan dirinya sebagai lemah lembut dan rendah hati, tetapi saat ini berkata bahwa Guru Agung lebih tinggi dari pada Salomo? Nah, dengan rasa ingin tahu yang besar, saya selidiki apa saja yang diajarkan oleh Guru Agung. Ternyata dalam kitab Salomo, sedikit sekali membahas mengenai masalah keluarga. Prinsip-prinsip yang harus dipatuhi dalam ber-rumahtangga atau dengan kata lain Hikmat dalam Pernikahan.

Setelah dua bulan menikah, rekan saya berbincang-bincang mengenai rumah tangganya. “Istri saya sekarang lebih senang tinggal di rumah orang tuanya.”, katanya. “Apa lagi sekarang setelah hamil muda, dia malah tidak lagi mau ke rumah.” “Wah, jadi bujangan lagi, nih?!”, timpal saya. Ternyata ada prinsip yang telah dilanggar oleh pasangan muda ini.

Jadi sebetulnya Hikmat dalam Pernikahan itu apa? Mari kita bahas satu per satu.

Hikmat Pertama: “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan

Hal pertama yang paling penting adalah pernikahan dilakukan antara laki-laki dan perempuan TITIK. Di luar itu bukan dinamakan pernikahan.

Hikmat Kedua: “… sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya”

Laki-laki atau suami harus meninggalkan ayah dan ibunya setelah menikah. Dengan alasan apa pun prinsip ini tidak boleh dilanggar. Salah seorang kenalan kami melanggar hukum ini dengan alasan untuk mengumpulkan uang untuk nantinya bisa membeli rumah sehingga pasangan ini tinggal dengan orang tuanya. Apakah ini berhasil? Sampai sekarang mereka masih tinggal di rumah orang tua laki-laki. Ikuti prinsip ini dan janji Tuhan adalah pernikahan yang penuh kebahagiaan.

Hikmat Ketiga: … sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Hikmat ketiga ini mengenai menjadi satu daging, caranya bagaimana? Dalam salah satu kitab dikatakan, ”Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri…” Jadi dengan kata lain istri menghilangkan kepalanya (membuang keinginan untuk memimpin) dan suami menghilangkan tubuhnya (menghilangkan sikap egoisnya sehingga dapat memimpin) sehingga keduanya menjadi satu tubuh. Suami menjadi kepala berarti yang menentukan arah atau visi, mengambil keputusan, dan memimpin keluarga. Sedangkan istri mengikuti arahan, keputusan dan pimpinan suami. Ingat prinsip ini hanya berlaku dalam keluarga, bukan untuk seluruh wanita harus berada di bawah pimpinan suami. Setiap wanita boleh menjadi pemimpin, baik di organisasi, perusahaan bahkan menjadi pemimpin negara, tetapi dalam rumah tangga hanya suami yang boleh menjadi pemimpin.

Hikmat Keempat: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Sang Pencipta pernah berkata,”Sebab Aku membenci perceraian.” Setiap pernikahan dipersatukan oleh Allah dan Allah membenci perceraian. Pernikahan adalah keputusan satu kali, seperti yang diucapkan pada janji pernikahan, ”..sampai maut memisahkan.” Selalu ada jalan keluar dalam setiap persoalan yang dihadapi. Ketiga hikmat yang disebutkan sebelumnya akan menjamin untuk berkurangnya masalah yang akan dihadapi di depan. Saya katakan “berkurang” karena setiap pernikahan pasti mengalami permasalahan. “Badai pasti datang…” Ini yang selalu saya ucapkan pada pasangan yang baru mau menikah.

Akhir kata, pernikahan seperti pembentukan negara baru dan dengan menggunakan empat butir hikmat di atas menjadikan negara ini kuat dan berdaulat. Tidak ada intervensi dari luar seperti dari orang tua, mertua atau saudara yang lainnya.Selamat Menempuh Destiny Hidup Anda Melalui Pernikahan.

Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak,

Ong Budi Setiawan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 10 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 10 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 12 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 17 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 10 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 11 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: