Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ong Budi Setiawan

Klub Amsal - Hikmat Kebijaksanaan dalam Bisnis dan Kehidupan

Hikmat dalam Pernikahan

OPINI | 01 July 2011 | 08:26 Dibaca: 356   Komentar: 0   0

Guru Agung pernah menyatakan dirinya dengan ungkapan ini,“…sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” Orang ini yang juga pernah menyatakan dirinya sebagai lemah lembut dan rendah hati, tetapi saat ini berkata bahwa Guru Agung lebih tinggi dari pada Salomo? Nah, dengan rasa ingin tahu yang besar, saya selidiki apa saja yang diajarkan oleh Guru Agung. Ternyata dalam kitab Salomo, sedikit sekali membahas mengenai masalah keluarga. Prinsip-prinsip yang harus dipatuhi dalam ber-rumahtangga atau dengan kata lain Hikmat dalam Pernikahan.

Setelah dua bulan menikah, rekan saya berbincang-bincang mengenai rumah tangganya. “Istri saya sekarang lebih senang tinggal di rumah orang tuanya.”, katanya. “Apa lagi sekarang setelah hamil muda, dia malah tidak lagi mau ke rumah.” “Wah, jadi bujangan lagi, nih?!”, timpal saya. Ternyata ada prinsip yang telah dilanggar oleh pasangan muda ini.

Jadi sebetulnya Hikmat dalam Pernikahan itu apa? Mari kita bahas satu per satu.

Hikmat Pertama: “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan

Hal pertama yang paling penting adalah pernikahan dilakukan antara laki-laki dan perempuan TITIK. Di luar itu bukan dinamakan pernikahan.

Hikmat Kedua: “… sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya”

Laki-laki atau suami harus meninggalkan ayah dan ibunya setelah menikah. Dengan alasan apa pun prinsip ini tidak boleh dilanggar. Salah seorang kenalan kami melanggar hukum ini dengan alasan untuk mengumpulkan uang untuk nantinya bisa membeli rumah sehingga pasangan ini tinggal dengan orang tuanya. Apakah ini berhasil? Sampai sekarang mereka masih tinggal di rumah orang tua laki-laki. Ikuti prinsip ini dan janji Tuhan adalah pernikahan yang penuh kebahagiaan.

Hikmat Ketiga: … sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Hikmat ketiga ini mengenai menjadi satu daging, caranya bagaimana? Dalam salah satu kitab dikatakan, ”Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri…” Jadi dengan kata lain istri menghilangkan kepalanya (membuang keinginan untuk memimpin) dan suami menghilangkan tubuhnya (menghilangkan sikap egoisnya sehingga dapat memimpin) sehingga keduanya menjadi satu tubuh. Suami menjadi kepala berarti yang menentukan arah atau visi, mengambil keputusan, dan memimpin keluarga. Sedangkan istri mengikuti arahan, keputusan dan pimpinan suami. Ingat prinsip ini hanya berlaku dalam keluarga, bukan untuk seluruh wanita harus berada di bawah pimpinan suami. Setiap wanita boleh menjadi pemimpin, baik di organisasi, perusahaan bahkan menjadi pemimpin negara, tetapi dalam rumah tangga hanya suami yang boleh menjadi pemimpin.

Hikmat Keempat: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Sang Pencipta pernah berkata,”Sebab Aku membenci perceraian.” Setiap pernikahan dipersatukan oleh Allah dan Allah membenci perceraian. Pernikahan adalah keputusan satu kali, seperti yang diucapkan pada janji pernikahan, ”..sampai maut memisahkan.” Selalu ada jalan keluar dalam setiap persoalan yang dihadapi. Ketiga hikmat yang disebutkan sebelumnya akan menjamin untuk berkurangnya masalah yang akan dihadapi di depan. Saya katakan “berkurang” karena setiap pernikahan pasti mengalami permasalahan. “Badai pasti datang…” Ini yang selalu saya ucapkan pada pasangan yang baru mau menikah.

Akhir kata, pernikahan seperti pembentukan negara baru dan dengan menggunakan empat butir hikmat di atas menjadikan negara ini kuat dan berdaulat. Tidak ada intervensi dari luar seperti dari orang tua, mertua atau saudara yang lainnya.Selamat Menempuh Destiny Hidup Anda Melalui Pernikahan.

Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak,

Ong Budi Setiawan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 10 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 11 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gimana Terhindar dari Jebakan Oknum Trading …

Adhie Koencoro | 8 jam lalu

Dari Priyo Sampai Ahok, Akhirnya Demokrat …

Auda Zaschkya | 8 jam lalu

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Cycling, Longevity and Health …

Putri Indah | 9 jam lalu

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: