Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

bahaya jajanan anak di pasaran

REP | 28 April 2011 | 16:03 Dibaca: 578   Komentar: 0   0


Anak-anak terutama anak usia sekolah merupakan generasi penerus bangsa. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut, pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna.

Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan jajanan disekitar sekolah. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima menurut FAO didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima dijalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Makanan jajanan di pasaran menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29%, dan zat besi 52%. Oleh karena itu, makanan jajanan kaki lima mempunyai peranan yang penting pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak. Menurut penelitian BPOM ditemukan hampir separo atau 44% jajanan anak di pasaran tidak sehat dan banyak mengandung zat aditif.

Jajanan kaki lima ini berasal dari industri rumah tangga yang pembuatannya dilakukan oleh ibu rumah tangga bukan profesional, sehingga keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) illegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah pada tekstil), dan methanol yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Selain itu, reaksi simpang pada makanan tersebut dapat memengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut seperti gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif, dan memperberat gejala pada penderita autism.

Untuk pencegahan, hal ini harus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat karena penggunaan BTP ini berbahaya untuk di konsumsi. Hal ini dikarenakan risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat jajanan yang tidak aman dan tidak bermutu berdampak jangka panjang terhadap pembentukan generasi bangsa yang lebih baik. Apalagi diketahui bahwa terdapat 40 - 44% jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi standard kesehatan.

Tags: ibu anak jajanan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,6 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 10 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 11 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 12 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: