Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Khairunnisa Musari

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala" selengkapnya

Anakku Ber-IQ Superior, Mmm… What I Should Do???!!!

OPINI | 04 April 2011 | 06:20 Dibaca: 3910   Komentar: 13   0

1301897519198149143

Banjir Probolinggo-Pasuruan, 2 April 2011

Dua malam lalu, setelah perjalanan melelahkan hampir 7 jam Surabaya-Lumajang, akhirnya saya tiba kembali di rumah sekitar pukul 21.30. Ya, Pasuruan-Probolinggo mengalami kemacetan luar biasa. Mulai masuk Rejoso hingga Tongas, kendaraan merayap. Berdasarkan informasi yang saya dengar dari sopir bis dan sejumlah penumpang, ternyata sudah sejak semalam terjadi banjir ditambah lahar dingin Gunung Bromo di beberapa titik sepanjang perbatasan Pasuruan-Probolinggo. Perjalanan saya yang biasanya macet di sekitar Gempol-Porong, kini berpindah lokasi.

Sampai di Lumajang, seperti biasa Bapak menjemput saya di terminal. Nau, anak saya yang pertama, ikut menjemput. Masih dengan pakaian bepergian plus jilbab, Nau yang baru pulang dari Islamic Center tampak mengantuk di kursi tengah. Setiap sore, kalau tidak ada jadwal les bahasa Inggris, Nau memang rajin ke Islamic Center untuk hafalan Al-Qur’an. Sepulang dari kegiatannya tersebut, Nau ikut Bapak menjemput saya.

1301897866780378764

Nau Naj in Action

Di mobil, Bapak bercerita tentang Nau selama saya tidak ada. Nau diceritakan dua hari ini kena marah Bapak. Kemarin, Nau membentak Ibu saya hingga menangis. “Tapi Kakak sudah minta maaf, Nda. Kakak juga ikut nangis waktu minta maaf ke Ibu,” sahut Nau sambil menggenggam tangan saya. Hari ini, Nau dan Naj, anak saya yang ke-2, bercanda di mobil sampai memecahkan hampir semua telur dalam kresek. “Nda, bukan Kakak yang menginjak-nginjak, tapi Naj…” seru Nau sambil terus menggenggam tangan saya.

Ya, sambil mengelus-ngelus pipinya, saya sampaikan bahwa saya sedih karena Nau telah berbuat kurang baik selama saya tidak ada. “Kalau Ibu ngomel, Nau jangan membalas ngomel. Didengarkan saja. Gak usah dibantah, apalagi sampai membentak. Ibu itu sudah tua. Gampang perasaan.”. Nau manggut-manggut sembari berjanji tidak mengulanginya kembali. “Nau mestinya juga bisa bilang ke Naj supaya enggak nginjak-nginjak telur. Meskipun dalam kresek hitam, mestinya kan Nau sama Naj tahu kalau itu telur. Masak sih sudah mau kelas 5 dan kelas 1, masih gak tahu bentuknya telur meskipun dalam kresek…”.

1301899263588967873

Naj (5 years) said

Cerita lain yang disampaikan Bapak adalah tentang surat dari TK-nya Naj. Bapak bilang, Naj mungkin pernah di tes psikologi di sekolahnya. “Kok ada kop lembaga psikologi di suratnya itu, “ kata bapak saya. “Iya Nda, ada tulisan “RAHASIA” di suratnya itu,” tambah Nau.

Sampai di rumah, Naj yang sedang menonton kartun edisi Malam Minggu langsung berteriak-teriak kesenangan menyambut saya. Setelah berganti pakaian, Nau Naj menemani saya makan malam. Setelah membersihkan diri, kemudian saya bercengkerama dengan Nau Naj di kamar. Naj berceloteh tentang surat dari sekolahnya. Surat tersebut sudah diletakkan Bapak di meja depan kamar saya. Naj kemudian mengambilkannya sembari menunjukkan kata “RAHASIA” di lembar amplop ukuran A4 tersebut. Ya, Nau dan Naj tampaknya penasaran dengan kode “RAHASIA” tersebut.

Mmm… ternyata benar, itu memang surat tentang hasil pemeriksaan psikologi Naj.

Wow, surprise, ternyata hasil tes dari lembaga psikologi di Malang tersebut menunjukkan Intelligence Quotient (IQ) Naj termasuk kategori superior. IQ-nya 124. Kategori ini satu level di bawah kategori berbakat yang IQ-nya > 130 dan berada di atas kategori rata-rata atas (105-109) dan kategori di atas rata-rata (110-119).

13018985661699189606

Nau n Naj with Their Friends at Majelis Liqo

Dalam lembaran tersebut, juga terdapat hasil pemeriksaan tentang kepribadian positif dan negatif Naj. Beberapa diantaranya, saya mengakui kebenarannya. Tapi beberapa diantaranya, saya tidak begitu sepakat. Menurut hasil pemeriksaan psikologi tersebut, kepribadian positif Naj adalah: (1) peka, (2) cukup bisa bersosialisasi, (3) santai, ceria, (4) suka menghibur, (5) suka mencoba-coba, dan (6) rasa ingin tahunya tinggi.

Sementara itu, kepribadian negatifnya Naj ternyata cukup panjang. Yaitu: (1) kurang terbuka/menutup diri (saya tidak sepakat), (2) ragu-ragu, mudah cemas, ceroboh (saya sepakat), (3) perasaan tidak stabil (saya tidak begitu yakin), (4) kontrol diri kurang/kurang teliti (saya sepakat), serakah/suka menumpuk tugas, kurang tekun (saya tidak sepakat dengan istilah “serakah”), (5) sombong, suka pamer/menonjolkan diri, iri, cemburu (saya tidak begitu sepakat), (6) mudah putus asa/motivasi lemah (saya tidak begitu sepakat), (7) egois (saya juga tidak begitu sepakat), (8) butuh dorongan/ingin diperhatikan (cukup sepakat), (9) adaptasi kurang, kurang komunikasi (sangaaaaat tidak sepakat).

Catatan lain yang disertakan dalam lembaran hasil pemeriksaan tersebut adalah Ambisi: Suka Pamer dan Suka Kebebasan. Mmm… Rasanya tidak sepakat kalo ini disebut ambisi!!!

13019030111375300789

Nau Naj said

Secara prinsip, saya menerima hasil pemeriksaan tersebut dari ahlinya yang tentu lebih kompeten di bidangnya. Tapi jujur saja, saya tidak merasa perlu meyakini sepenuhnya. Intinya bagi saya adalah bagaimana saya mengenali kelebihan dan kelemahan masing-masing anak. Sebagai seorang Ibu, sudah seharusnya saya yang paling tahu karakter mereka. Dan dalam hal ini, kapasitas saya adalah bagaimana mengoptimalkan potensi-potensi yang dimiliki anak-anak dan mengeliminir kelemahan-kelemahan yang mereka miliki.

Begitu pula dengan IQ-nya Naj, saya memang surprise, tapi saya tidak pula berarti jumawa dan merasa harus berbesar hati terlalu jauh. Apa yang dimiliki Naj adalah karunia Allah, bukan mutlak dari upaya saya. Bagi saya, IQ itu memang sangat penting. Tapi bukan segalanya. Karena IQ juga harus diimbangi oleh Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ). IQ tidak berarti apa-apa jika tidak memiliki EQ dan SQ. Selain itu pula, setiap anak memiliki kecerdasan di bidangnya masing-masing kan. Ada kecerdasan matematik (logika), bahasa, musikal, visual spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

1301902357924967055Btw, saya menjadi tertarik menelisik lebih jauh tentang IQ. Ternyata ada beberapa versi klasifikasi IQ.

Menurut Klasifikasi Terman: IQ > 140 termasuk Genius atau Near Genius, IQ 120-140 termasuk Very Superior Intelligence, IQ 110-120 termasuk Superior Intelligence, IQ 90-110 termasuk Normal or Average Intelligence, IQ 80-90 termasuk Dullness, danIQ 70-80 termasuk Borderline Deficiency.

Sementara itu, menurut Klasifikasi Wechsler: Very Superior termasuk dalam IQ > 128 (2,2%), Superior termasuk IQ 120-127 (6,7%), Bright Normal termasuk IQ 111-119 (16,1%),  Average termasuk IQ 91-110 (50%), Dull Normal ber-IQ 80-90 (16,1%), Borderline ber-IQ 66-79 (6,7%), dan Defective ber-IQ <65 (2,2%).

Tidak hanya itu, IQ ternyata juga bisa naik-turun mengikuti perkembangan usia anak. Lingkungan, pengalaman, dan rangsangan juga memberi pengaruh besar dalam mengoptimalkan atau malah melemahkan potensi kecerdasan alamiah anak-anak. Hal ini berarti, IQ Naj saat ini tidak menjadi jaminan IQ Naj di masa yang akan datang akan sama superior-nya jika tidak dikelola dengan baik dan benar…

13018971791898607923

Naj (3,9 years) was typing with an umbrella

Ya, saya sangat yakin memiliki anak ber-IQ superior bukan tanpa konsekuensi. Saya paham betul, Naj sering berada dalam wilayah kebosanan setiap kali belajar. Ketika Naj merasa bisa, motivasinya untuk konsisten belajar pun goyah. Naj seringkali beralasan untuk mencari kompensasi lain atas kegiatan belajarnya. Tentu saja saya paham benar jika keadaan ini dibiarkan, maka bukan keberhasilan yang akan diperolehnya melainkan kegagalan. Oleh karena itulah, saya tidak pernah memberlakukan jam belajar terlalu lama pada Naj. Kegiatan belajar juga lebih banyak diisi sembari bermain.

Naj yang baru berusia 5,5 tahun ini memang unik sejak lahir. Betapa tidak, Naj berada dalam kandungan melampaui 9 bulan 10 hari. Saya sampai khawatir mengapa Naj tidak lahir-lahir. Tapi menurut dokter kandungan saya, plasenta saya masih baik-baik saja dan belum mengalami pengapuran. Tapi jika sampai batas waktu seminggu usai pemeriksaan belum juga saya melahirkan, direncanakan akan dilakukan induksi. Waaaah, saya merinding membayangkan akan diinduksi. Saya ingat sekali betapa sakitnya diinduksi ketika melahirkan Nau. Ketika Nau usia 8 bulan dalam kandungan, ketuban saya pecah lantaran semalaman begadang mengetik tugas kuliah. Mungkin karena kelelahan kelamaan duduk mengetik, baby Nau bereaksi dan minta segera dilahirkan ke dunia…

13019021961904635242

Nau (6 thn) n Naj (2 thn)

Selisih sehari, sesaat setelah saya ditinggal suami pulang ke Jember, perut saya berkontraksi. Akhirul kalam, dalam perjalanan menuju Jember, sekitar 5-7 menit menjelang RS Jember Klinik yang saya tuju, saya melahirkan Naj di dalam mobil. Tepatnya di Jalan Sultan Agung… Ya, Naj lahir disaksikan Bapak saya yang menjadi sopir serta Ibu saya dan Ibu Mertua yang mendampingi di kursi belakang bersama Nau kecil. Sedangkan saya yang berbaring di kursi tengah didampingi suami yang membantu kelahiran saya. Ya, karena perut kontraksi, saya dan suami kemudian melakukan pertemuan di jalan raya untuk bersama-sama ke RS. Mmmmm, peristiwa yang tidak terlupakan. Uniknya lagi, Nau yang terlahir “hanya” 2,75 kg, si Naj ini lahir dengan berat 4 kg!!! Rambutnya tebal…!!!

Dalam perkembangannya, Naj memang tumbuh signifikan. Saya percaya, Allah itu adil. Setiap anak pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi, mereka juga diberi kelemahan yang setara dengan kelebihan yang mereka miliki. Ya, Naj tumbuh dengan kecerdasan yang signifikan tapi juga memiliki emosi yang signifikan. Naj gampang bergaul, mulai dari tukang becak, tukang batu, sampai pada teman-teman Nau. Naj memang supel dan ramah serta gampang sekali ceria. Namun demikian, Naj juga relatif perasa. Naj gampang ngambek jika mendengar sesuatu yang kurang berkenan di hatinya. Butuh waktu rada lama untuk bisa kembali mengambil hatinya. Tidak hanya itu, Naj juga penakut dalam beberapa hal, tetapi juga menjadi pemberani dalam beberapa hal. Salah satunya adalah keberaniannya menjadi “satpam” bagi Nau ketika ada kawan-kawan lelakinya yang mengganggu. Naj juga beberapa kali berantem dengan teman-teman prianya. Meski demikian,  Naj tumbuh dengan sisi feminitas yang kental dalam hal berpakaian. Naj selalu berdebat dengan saya dalam hal pemilihan pakaian dan sepatu… Yang paling sering kami ributkan adalah sepatu jinjit yang sangat disukainya itu justru menjadi sepatu yang paling saya hindari dan sepatu kets yang sangat saya sukai justru paling dihindari oleh Naj!

13018964021152410766

Naj (3,5 years) was singing

Saya jadi teringat, pernah suatu hari ketika Naj masih berusia sekitar 3 tahun, usai berdandan di cermin, Naj kemudian jalan merayap melewati saya seperti tentara yang sedang latihan berperang. Saya yang heran kemudian bertanya, “Naj kok kayak begitu. Kenapa?”. Jawabnya, “Gak kenapa-kenapa, Nda. Mbak takut kalo rambutnya Mbak kena kipas angin. Kan sudah sisiran, nanti enggak rapi.” Astaghfirullaah…. Kok bisa-bisanya sampai terpikir demikian…

Ya, Naj sering menjadi “star” di lingkungannya. Selain vokal dan aktif, suaranya juga terkenal kenceng!!! Ipar saya pernah menceritakan tentang ustadzah liqo’nya Nau Naj yang kebetulan juga adalah Wakil kepala Sekolah TK-nya Naj yang bercerita tentang Naj di sekolah. “Di sekolah, gak ada yang gak kenal si Naj. Mulai dari teman-teman sekolah, guru, office-boy (OB) sampai orang tua murid. Selain dikenal berani dan pintar, suaranya Naj paling keras sendiri…”, cerita ipar saya.

Ya, tidak hanya urusan suara dan kevokalan, urusan polah memang Naj juga “jagonya”. Selain perangkat alat tulisnya yang rutin hilang tanpa bekas hampir setiap hari, saya dulu juga sering mendapati laporan dari pihak sekolah TK maupun TPA tentang Naj yang sering berjalan-jalan di kelas ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Naj juga sering ngobrol sendiri. Mungkin juga ini terjadi karena Naj merasa mampu menangkap pelajaran, kemudian bosan dan menggampangkan lalu berlaku ’seenaknya sendiri’. Tidak hanya itu, Naj sering kali meminta kue teman-temannya meski Naj juga membawa kuenya sendiri.

1301900557808087993

Menjadi Imam

Di rumah, Naj bukannya juga tak berulah. Saya paham betul betapa Naj seringkali “mengeles” alias bersilat lidah. Beberapa kali juga melakukan kebohongan, terutama dalam menggunakan uang yang diamanahi untuk infak atau tabungan, malah dipakai untuk jajan. Jika dimintai tolong, juga sering memiliki berbagai jurus penolakan. Jika bertengkar dengan Nau, selalu pandai berkelit dan memposisikan Nau yang bersalah dan yang memulai perkara. Untuk urusan sholat berjamaah, Naj juga sering tak mau diposisikan selalu sebagai makmum. Beberapa kali Naj memaksa kakaknya untuk bergantian menjadi imam sholat.

Mmm… ya, itulah Naj 1-2 tahun lalu meski sisa-sisa karakter tersebut masih ada hingga saat ini. Kini di usianya yang 5,5 tahun, Naj sudah lebih dewasa. Naj tidak hanya menjadi satpam bagi Nau sang kakak, tapi juga menjadi teman dan guru bagi Nad sang adik. Naj kini sudah mengaji buku Qira’ati 4. Hafalan Al-Qur’annya juga mengikuti kemampuan Nau. Selain hafalan-hafalan pendek yang lumrah diajarkan pada anak-anak kecil, Naj kini sudah mulai menghafal An-Naba’. Meski sholat 5 waktunya sering bolong-bolong, tapi urusan rajin berdo’a, Naj lebih unggul dibanding Nau. Terutama setiap kali turun hujan, Naj tidak pernah tidak berdoa. Ritual doanya yang rada “nyeleneh” adalah ketika jelang tidur. Belakangan ini Naj kalau hendak tidur selalu berwudhu mengikuti nasehat saya. Dan doanya ketika hendak memejamkan mata setelah membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, dan doa mau tidur adalah “Ya Allah, jangan beri aku mimpi apa-apa dan juga jangan beri aku mimpi buruk. Aamiin”.

13018957591517427257

Nau (4SD) n Naj (TK B)

Ya, seperti yang saya utarakan di atas, saya tentu saja senang dan mensyukuri anugrah yang diberikan Allah untuk kecerdasan Naj. Meski saya mengakui sejumlah keunggulan Naj dibanding Nau, tapi itu tidak berarti Nau menjadi kalah unggul dibanding adiknya. Saya sering mendapati sejumlah orang membanding-bandingkan Nau dan Naj. Saya selalu tegas mengatakan bahwa Allah itu adil dan setiap anak pasti diberi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Nau sang kakak memang lebih pendiam dan itu tidak berarti Nau tak memiliki potensi apa-apa. Toleransi dan solidaritasnya yang tinggi kepada teman-teman dan lingkungannya, ditambah juga kemampuan dan kesenangannya menghafal Al-Qur’an, adalah karunia yang tak terhingga yang dimilikinya.

Mmm, sedangkan Nad sang adik yang baru berusia satu tahun tiga bulan masih belum terlihat kecenderungan kecerdasannya. Tapi kemarin saya surprise dengan “pekerjaannya” yang tampaknya “paham” cara kerja flash-disk yang harus dimasukkan ke dalam lubang USB di laptop. Nad tampaknya juga mengerti perbedaan laptop dalam kondisi on atau off. Ketika layar monitor dalam keadaan berwarna hitam, Nad memanggil-manggil saya sembari menunjuk layar monitor. Kemudian setelah layar menyala berwarna-warni, barulah Nad diam sambil menekan-nekan tuts keyboard secara serampangan.

1301895458635522431

Nad, 1,1 years old, was typing

Ya, superior Naj tidak membuat saya harus membuat Naj menjadi lebih berbeda daripada Nau dan Nad. Terlebih lagi saya memang tidak tahu  berapa IQ Nau dan Nad. Tapi saya sangat yakin, masing-masing memiliki keunggulan. Saya sangat menyadari, keunggulan yang mereka miliki akan diiringi pula dengan konsekuensi kelemahan yang setara dengan keunggulan yang mereka miliki. Dalam hal inilah, kehadiran saya menjadi penting untuk memahami keunggulan dan kelemahan anak-anak. Disinilah peran Ibu untuk mengoptimalkan keunggulan dan mengeliminir kelemahan mereka. Disini pulalah substansi ibu menjadi madrasah bagi anak-anaknya agar IQ mereka berkembang optimal diiringi dengan perkembangan EQ dan SQ yang optimal pula. Ahhh, betapa banyak di negeri ini orang-orang ber-IQ tinggi tetapi perilaku mereka memiskinkan dan melumpuhkan hak-hak orang lain. Betapa banyak orang-orang cerdas di negeri ini tetapi mereka hanya memikirkan kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya saja. Betapa banyak orang-orang pintar di negeri ini tetapi mereka berakhir dengan sia-sia karena terlena kehidupan dunia dan tak bermanfaat bagi sesama dan malah membuat kerusakan bagi manusia dan alam sekitar… Na’udzubillahimindzalik…

* Nau membaca artikel ini. Nau protes, ternyata yang saya ceritakan tentang Naj yang sisiran dan kemudian merayap bak tentara itu adalah Nau dan bukan Naj. Ya, ternyata saya yang kelupaan. Nau meminta saya mengganti nama “Naj” menjadi “Nau”. Ralat ini saya berikan untuk mengakomodir komplain Nau… Sori ya, Sayang. Bunda lupa… *_^

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 6 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 8 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 8 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 9 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 9 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: