Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ariyantie L-a

Mahasiswi Jurusan Biologi, Aktif Di Lembaga Kajian Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) Uin Malang

Reproduksi Manusia dalam Qur’an

OPINI | 28 February 2011 | 20:10 Dibaca: 1641   Komentar: 0   0

Reproduksi merupakan suatu hal yang penting untuk dibahas. Karena, Dari permulaan dan juga dalam perincian-perinciannya pembahasan itu mengandung konsepsi yang salah. Pada abad pertengahan dan sampai periode yang belum begitu lama, mitos dan khayal meliputi soal reproduksi. Hal tersebut memang wajar, oleh karena untuk memahami mekanisme reproduksi yang kompleks, orang harus tahu anatomi, dengan ditemukanya mikroskop dan berbgai ilmu-ilmu fundamental yang menjadi sumber fisiologi, embriyologi, obstetrik dan

lain-lain.

Dalam Al-Qur-an telah di jelaskan bahwa teori yang ada berlainan dengan itu semua. Disebutkan pula tempat-tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikit pun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah difahami oleh semua orang, serta sangat sesuai dengan hal-hal yang ditemukan Sains pada kemudian hari.

Reproduksi pada manusia merupakan proses untuk melestarikan jenisnya dan memperbanyak populasinya. Di dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa yang kompleks baik mekanik, kimiawi maupun illahiah.

Hal inilah yang menjadi suatu masalah untuk bisa dipecahkan dan diketahui bersama, apakah fertililasi atau pembuahan sesungguhnya terjadi melalui peleburan antara sel sperma dengan sel telur?.

Karena berdasarkan hipotesis yang ada selama ini, baik pada manusia maupun hewan fertilisasi terjadi di mulai pada saat pertemuan sel telur dengan sperma yang kemudian menjadi zigot dan berkembang menjadi individu baru yang sosoknya sama dengan induknya.

Fertilisasi terjadi setelah pertemuan antara sel spermatozoa dengan sel telur di dalam tuba Falopii, selanjutnya akan terjadi peleburan antara kedua inti sel tersebut. Hasil fertilisasi ini berupa makhluk hidup bersel tunggal yang di sebut zigot, yang kemudian zigot akan menempel ke rahim ibu agar dapat menghisap sari-sari makanan dari rahim ibu.

Adapun ayat al-qur’an yang menyebutkan mengenai fertilisai ini, yaitu yang termaktub dalam Surat Al-Qiyamah: ayat 3

óOs9r& à7tƒ ZpxÿôÜçR ‘ÏiB %cÓÍ_¨B 4Óo_ôJムÇÌÐÈ

Yang artinya

“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)

Dari ayat tersebut dapat diterjemahkan kata bahasa Arab Nutfah dengan

kata “setetes sperma,” kecuali jika nanti ada kata bahasa Prancis yang lebih cocok. Perlu diterangkan bahwa “Nutfah” berasal dan akar kata yang berarti: mengalir; kata tersebut dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadah,

sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata itu menunjukkan setetes kecil, dan di sini berarti setetes air sperma, karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma. Nutfah sendiri merupakan proses pencampuran anatara setetes mani laki-laki dan wanita yang di sebut sperma yang mengandung sel spermatozoa yang bercampur dengan sel telur (ovum).

Kata bahasa Arab Maniy berarti Sperma. Suatu ayat lain menunjukkan bahwa setetes air itu ditaruh di tempat yang tetap (Qarar) yang berarti alat kelamin. Perlu ditambahkan di sini bahwa kata sifat “makin” tak dapat diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Kata tersebut menunjukkan tempat yang terhormat, tinggi dan kokoh. Bagaimanapun, maksudnya adalah tempat membesarnya manusia dalam organisme ibu. Tetapi yang lebih penting ialah bahwa ide tentang setitik cair yang diperlukan untuk pembuahan, sesuai tepat dengan Sains yang sudah diketahui sekarang.

Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah berpendapat bahwa campuran itu adalah campuran unsur lelaki. Begitu juga ahli-ahli tafsir kuno yang tidak memiliki ide sedikitpun tentang fisiologi pembuahan, khususnya kondisi-kondisi biologi wanita-wanita. Mereka itu berpendapat bahwa kata “campuran” hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita. Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan oleh Majlis Tertinggi Soal-soal Islam di Cairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma mengandung banyak unsur-unsur. Ahli-ahli tafsir Muntakhab tidak memberikan perincian tetapi dirasa keterangannya sangat tepat. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan sperma dibikin oleh pengeluaran-pengeluaran bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar seperti berikut :

  1. Testicule, pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang mengandung spermatozoide yakni sel panjang yang berekor dan berenang dalam cairan serolite.
  2. Kantong-kantong benih (vesicules seminates); organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoide, tempatnya dekat prostrate, organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi cairan itu tidak membuahi.
  3. Prostrate, mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
  4. Kelenjar yang tertempel kepada jalan air kencing. Kelenjar Cooper atau Mery mengeluarkan cairan yang melekat, dan kelenjar Lettre mengeluarkan semacam lendir.

Itulah unsur-unsur campuran yang tersebut dalam Al-Qur-an. Tetapi ada lagi suatu hal yang penting. Jika Al-Qur-an berbicara tentang cairan yang membuahi dan yang terdiri dari bermacam-macam unsur, maka di dalamnya terkandung asal muasal terjadinya manusia adalah karena sesuatu yang dapat dikeluarkan dari cairan tersebut.

Sehingga dari penjelasan semua itu dapat dibuktikan pada saat ini melalui banyak penelitian dan dari hasil penelitian itu samapi sekarang ini dapat diterapkan dalam ilmu kedokteran. Didapatkan bahwa sesungguhnya Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum pembuahan (fecondation) dalam rahim. Ada suatu ovule yang memisahkan diri dan ovarium di tengah-tengah siklus menstruasi. Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma lelaki,

atau lebih tepat lagi spermatozoide, karena satu sel benih sudah cukup satu kadar yang sangat sedikit dari sperma mengandung spermatozoide sejumlah puluhan juta. Cairan itu dihasilkan oleh kelenjar lelaki dan disimpan untuk sementara

dalam ruangan dan saluran yang bermuara ke jalan air kencing. Ada kelenjar tambahan yang bertebaran sepanjang saluran sperma, dan menambah zat pelumas kepada sperma, tetapi zat itu tidak mengandung unsur pembuahan. Telor yang dibuahi semacam itu menetap pada suatu titik tertentu dalam rahim wanita.

Telor itu turun sampai ke rahim dan menetap di sana dengan berpegangan dengan zat liat dan dengan otot sesudah tersusunnya placenta. Jika telur yang sudah dibuahi itu menetap di (tempat lain) dan tidak di uterus, kehamilan akan terganggu.

Jika embrio sudah dapat dilihat oleh mata biasa, embrio tersebut terlihat sebagai sepotong daging yang di dalamnya bentuk manusia belum nampak. Bentuk manusia terjadi secara bertahap dan menimbulkan tulang-tulang serta perlengkapan lainnya seperti otot, sistem syaraf, sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain-lain. Inilah catatan-catatan yang dapat kita gunakan sebagai bahan perbandingan dengan apa yang dapat dibaca dalam Al-Qur-an tentang reproduksi.

Akan tetapi ketika melihat ayat Al-quran yang lain dimana menjelaskan peristiwa Parthenogenesis yang terdapat dalam kisah ibu Maryam pada saat mengandung Nabi Isa As tanpa melakukan hubungan seksual, bahkan ibu maryam dalam keadaan masih perawan.

Surat Maryam (19): 20-21

ôMs9$s% 4′¯Tr& ãbqä3tƒ ‘Í< ÖN»n=äî öNs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJtƒ ׎|³o0 öNs9ur à8r& $|‹Éót/ ÇËÉÈ tA$s% Å7Ï9ºx‹x. tA$s% Å7š/u' uqèd ¥'n?tã ×ûÎiüyd ( ÿ¼ã&s#yèôfuZÏ9ur Zptƒ#uä Ĩ$¨Z=Ïj9 ZpuH÷qu'ur $¨YÏiB 4 šc%x.ur #øBr& $|‹ÅÒø)¨B ÇËÊÈ

Yang Arinya:

20. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan Aku bukan (pula) seorang pezina!”

21. Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Dalam peristiwa ini, proses hamilnya Maryam yang masih perawan merupakan suatu peristiwa ghaib, namun dengan perkembangan dunia kedokteran mengatakan bahwa peristiwa itu dikenal sebagai Parthenogenesis.

Parthenogenesis. Berasal dari bahasa Yunani yang berarti lahir dari perawan. Proses ini melihat adanya fenomena reproduksi yang ditemukan pada serangga, ikan, dan pada reptil, yaitu pada telor (ovum) yang tidak di buahi ternyata ada dua kromosom, telur itu berkembang sebagaimana telur yang di buahi, dan dapat dikatakan hal tersebut tidak mungkin terjadi pada mamalian termasuk manusia. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, hasil eksperimen di jepang telah mematahkan teori tersebut. “tikus jepang” tidak berasal dari hasil kloning, dan itu adalah tikus Parthenogenesis menurut Jean-Pierre Ozil, seorang peneliti di National Institute of Aronomonik Research, Perancis.

Parthenogenesis buatan dilaksanakan di laboratorium buatan untuk mengaktivasi sel telur yang tidak di buahi. Teknik tersebut dijalankan oleh Tim yang di pimpin oleh Tomohiro Kono dari Tokyo University og Agriculture itu menciptakan bayi tikus hanya dengan menggunakan materi genetik tikus betina, dan penelitian tersebut menunjukan bahwa bayi tikus itu mampu bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang menjadi tikus dewasa yang sehat dan subur.

Sehingga dilihat dari Rumusan Masalah diatas, Fertilisasi terjadi setelah pertemuan antara sel spermatozoa dengan sel telur di dalam tuba Falopii, selanjutnya akan terjadi peleburan antara kedua inti sel tersebut. Hasil fertilisasi ini berupa makhluk hidup bersel tunggal yang di sebut zigot, yang kemudian zigot akan menempel ke rahim ibu agar dapat menghisap sari-sari makanan dari rahim ibu.

Sedangkan dalam penemuan lain mengatakan, bahwa fertilisasi dapat terjadi walaupun tanpa melalui peleburan dengan sel sperma seperti dalam kasus kelahiran Nabi Isa As. Yang mana telah dibuktikan oleh Tomohiro Kono dan timnya, yang telah berhasil membuat tikus betina melahirkan tanpa campur tangan tikus jantan sama sekali, atau di sebut bayi tikus tanpa ayah, yang artinya bahwa proses pembuahan yang terjadi pada tikus betina tanpa proses perkawinan dengan tikus jantan, dan dapat pula di terapkan pada wanita yang dapat hamil tanpa proses hubungan seksual. Inilah yang terjadi pada Maryam yang mengandung Isa al-Masih tanpa hubungan seksual, serta terjadi pada Adam yang dapat menghasilkan wanita yang bernama Hawa tanpa proses hubungan seksual.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Cari Info Wisata Bukan Paket Liburan …

Pandu Aji Wirawan | 8 jam lalu

KIS Diberlakukan, SDM Kesehatan Siap-Siap …

Dian Arestria | 8 jam lalu

#R …

Katedrarajawen | 8 jam lalu

Australia Berubah Total, Indonesia Perlu …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Bebaskan MA! …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: