Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Perceraian Bentuk Kejahatan terhadap Anak

REP | 08 January 2011 | 17:07 Dibaca: 361   Komentar: 4   4

Perceraian adalah bentuk kejahatan terhadap anak. Hal ini menanggapi tinggi kasus percerian pada beberapa tahun belakangan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Badan Peradilan Agama Makamah Agung, pada 2007 penceraian di DKI Jakarta mencapai 6.218 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.482 kasus, dan suami gugat cerai istri 2.115 kasus. Sedangkan pada 2008 tercatat 5.193 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.105 kasus, dan suami gugat cerai istri 1.462 kasus.

Dampak dari perceraian ini mematikan beribu-ribu harapan dan impian anak untuk mendapatkan kehidupan yang hormonis dan cintah kasih. Pernakah sepasang kekasih saat beradu kasih telah mempersiapkan konsekuensi apabila pada suatu saat mereka akan bercerai? Isu perceraian sebaiknya menjadi salah topik pembicaraan sebelum mereka menikah.

Konsekuensi Perceraian Terhadap Anak

Menurut Steven L. Nock, sosiolog keluarga dari Amerika, dalam bukunya ”Sociology of the Family” mungkin karena takut konsekuensi, sebagian besar orang tua menunda sampai detik-detik terakhir menceritakan perceraian kepada anak-anak mereka. Ketika orang tua akhirnya menyampaikan keputusan ini, banyak kejadian begitu cepat berlalu. Orang tua hanya mempunyai waktu singkat menjelaskan tentang perceraian, bagaimana pengaruhnya terhadap anak, pengaturan untuk berkunjung, dan tentu setiap orang ingin hidup.

Dampak dari penyampaian informasi ini pada kenyataan yang ada anak mengalami trauma, banyak efek negatif yang dialami oleh anak sepanjang hidupnya, terutama pada lima sampai sepuluh tahun pertama (Wallerstein, 1983).

Reaksi yang khas anak mendapatkan informasi dari orang tua yang berniat untuk berpisah adalah kemarahan pada orang tua, ketakutan, dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi. Anak mengalami trauma, menutup diri, dan keadaan ini diperparah oleh tidak ada orang yang dapat membantu mereka. 

Tema Perceraian

Tema sentral dari pengalaman anak terhadap perceraian orang tua mereka, sebagaimana dicatat oleh Wallerstein dan Kelly (1980), adalah sebagai berikut (Steven L. Nock, 1987:166):

1. Ketakutan. Anak-anak khawatir tentang siapa yang akan peduli kepada mereka. Dunia mereka tidak dapat diprediksi dan mereka khawatir bahwa mereka akan ditinggalkan atau kebutuhan masa depan tidak akan terpenuhi.

2. Kesedihan dan kerinduan. Anak-anak mengalami rasa kehilangan yang luar biasa ketika orang tua meninggalkan rumah. Anak-anak dari segala usia merindukan orang tua yang telah meninggal dan membangun fantasi dari reuni sulit.

3. Cemas. Anak-anak menyadari kekhawatiran orang tua mengenai kesusahan dan penderitaan mereka. Gangguan penyebab perceraian yang dialami orangtua adalah khawatir akan kehidupan anak-anak, mereka menjadi rentan. Apa yang akan terjadi pada mereka jika orangtua mereka terluka atau menjadi sakit? Kekhatitan seorang anak berusia 9 tahun, “Kalau ibu saya merokok dan mendapat kanker, apa yang akan terjadi padaku?”

4. Penolakan. Ketika orang tua meninggalkan rumah, anak-anak merasakan sebagai penolakan terhadap mereka. Orang tua ‘keasyikan dengan kekhawatiran mereka sendiri memperkuat persepsi ini.

5. Bertentangan kesetiaan. Anak-anak menganggap perceraian sebagai suatu pertempuran antara dua pihak dan merasa bahwa kesetiaan kepada salah satu orangtua adalah pengkhianatan dari yang lain. Orang tua sering berkontribusi melibatkan anak-anak dalam perselisihan mereka.

6. Kemarahan. Anak-anak merasa orangtua mereka egois dalam menempatkan kebutuhan anak-anak mereka di belakang pada mereka. Anak-anak sering merasa dikhianati. Kemarahan mereka kadang-kadang diarahkan tegas pada orangtua mereka, kadang-kadang lebih umum di dunia yang telah menangani mereka seperti pukulan.

Tulisan ini telah dipublikasikan di www.ykai.net pada tanggal 25 Februari 2010.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 5 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 10 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tokoh ISIS Perintahkan: “Eksekusi …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pesawat Terbesar Dunia Airbus A380 Hadir …

Muhamad Kamaluddin | 7 jam lalu

Aceh dan Mimpi yang Belum Berhenti …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Untuk Pengarang Pemula yang Mabuk Gaya …

Revo Samantha | 8 jam lalu

Forever Love …

Bapake Azka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: