Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Didit Wisnu Purwanto

MAHASISWA S1 PGSD UNS KAMPUS VI KEBUMEN ANGKATAN 2010.

(Gawat) Anak Kecil Ngomong Jorok

OPINI | 25 October 2010 | 15:13 Dibaca: 245   Komentar: 2   0

Banyak dari kita sebagai orangtua atau sebagai calon pendidik yang memperhatikan anaknya dengan baik tiba-tiba menemukan anak kita melontarkan kata-kata yang kasar/ jorok di hadapan kita. Kita kaget karena kata-kata tadi tidak pernah diucapkan sebelumnya di lingkungan keluarga.

Kita mengkhawatirkan anak kita akan mendapatkan pengaruh buruk dari lingkungan itu lebih banyak, dan mulai mencari-cari solusi bagaimana menjaga agar anak kita tidak terkontaminasi dengan yang buruk, salah satunya yaitu kata-kata kasar/ jorok.

Anak mengatakan kata kasar/jorok bisa karena menikmati reaksi orang-orang di sekitarnya, seperti ia ditertawakan seolah-olah itu lucu dan menghibur, atau diperhatikan dengan rasa kaget dan ingin tahu dari lingkungannya.

Entah musim atau apa sifat ini bisa menular. Anak berkata kasar/ jorok bisa karena ia menirunya dari teman di sekolah, sekadar iseng, atau saat ia merasa marah dan mengetahui bahwa kata tadi dapat memancing kekesalan orang lain, atau hanya karena sedang mempelajari kata-kata yang baru dan senang dengan bunyi kata itu tanpa mengetahui artinya.

Ada banyak alasan anak kita berkata kasar/ jorok. Maka, perhatikanlah saat kapan dan apa yang terjadi setelah anak berkata kasar/ jorok. Ini agar kita bisa mengerti alasan mengapa anak kita berkata kasar/ jorok.

Dengan mengetahui itu, kita akan lebih mudah mengatasinya. Saat anak mengucapkan kata kasar/jorok, kita bisa bertanya kepada anak kita, “Dari siapa kamu mendengar kata XXX?”, “Tahukah kamu XXX artinya apa?”, atau “Tahukah kamu apa akibatnya kalau orang lain dikatakan XXX?”

Bila ia mengucapkan kata kasar/jorok karena marah, kita bisa mengajarkannya dengan memberitahu kata-kata apa yang boleh diucapkannya saat ia sedang marah. Kita dapat memberitahu kepada Si Kecil, kita tidak menggunakan kata itu di dalam keluarga kita.

Ketimbang memberikan hukuman atau peringatan keras kepada anak saat mengucapkan kata kasar/ jorok, lebih baik kita memberikan perhatian saat ia mengucapkan kata-kata yang sopan, sehingga ia lebih sering dan senang mengucapkan kata-kata yang baik.

Jika kata-kata kasar/ jorok yang diucapkan oleh anak berasal dari sekolah, memindahkan dirinya ke sekolah lain tidaklah menyelesaikan masalah. Kita tidak mungkin menemukan sekolah dan teman-teman yang steril bagi anak kita, karena sekolah dan teman merupakan lingkungan sosialisasi anak, dimana hal-hal yang dinilai baik dan buruk sangat sulit dipisahkan.

Anak lebih mudah mengucapkan kata-kata kotor seperti itu, karena saat ini, sesuatu yang negatif lebih dominan atau lebih bermunculan lebih dahulu daripada sesuatu yang baik. Kata-kata kotor yang diungkapkan bersamaan dengan mulut, pasti juga diiringi dengan nafsu yang muncul dalam hati. Maka tidak mungkin, anak mengatakan kata-kata kotor jikalau hati orang itu tenang dan damai.

Sekian keterangan dari saya dan Terima Kasih.

Tags: anak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 5 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 5 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 14 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 15 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: