Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Johan Wahyudi

Kolumnis, Penulis, Penyunting, dan Motivator Kepenulisan dan PTK. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Deskripsi Lengkap: selengkapnya

Makna Sebuah Nama

OPINI | 14 July 2010 | 04:45 Dibaca: 621   Komentar: 18   5

Kewajiban orang tua terhadap anak ada empat: melahirkan, menamai, mendidik, dan menikahkan. Tugas-tugas itu menjadi rutinitas berkesinambungan tiada henti, hingga puncaknya. Jika keempat tugas itu dapat dilaksanakan dengan tuntas, berbahagialah dirinya sebagai orang tua.

Menurut saya, tugas terberat orang tua adalah menamai. Mungkin ada sahabat kompasiana yang berbeda pendapat dengan saya. Itu tak mengapa. Melahirkan memang menjadi kewajiban istri saya. Saya hanya membantunya dengan menyediakan makanan bergizi dan perhatian. Tugas mendidik dapat dilakukan suami dan istri. Keduanya mempunyai peran untuk saling melengkapi demi anak. Jika mendidik usai, anak akan beranjak dewasa. Setelah meraih pendidikan layak dan mendapatkan pekerjaan, anak harus dicarikan jodoh. Meminjam istilah Jawa: Bibit, Bobot, Bebet. Ketiga tugas di atas, menurut saya, cukup ringan.

Tugas terberat bagi orang tua kepada anak adalah memberi nama. Ini disebabkan nama merupakan doa. Oleh karena itu, Nabi Muhammad sudah wanti-wanti agar orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang baik. Karena nama adalah doa, nama itu dapat menjadi cirri khas masa depannya.

Dengan namanya, orang tua bermaksud untuk memberikan tanggung jawab kepada anak. Anak harus diajarkan untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ketika makna sebuah nama sudah dipahami dengan baik, anak tersebut akan dikendalikan oleh namanya. Dan itulah tujuan utama sebuah nama: pengendalian diri.

Memang ditemukan beberapa nama yang tidak dapat dijaga dengan baik oleh pemiliknya. Sebuah nama yang sarat makna justru menjadi penjahat. Sebuah nama yang sarat dengan filosofi hidup justru menjadi tersangka dan terpidana korupsi. Itu bukan kesalahan nama. Orang tua memberikan nama itu kepadanya agar menjadi seperti maknanya. Jika pemilik nama justru berperilaku sebaliknya, meminjam istilah Jawa: kabotan jeneng (terlalu berat untuk makna tersirat dalam namanya). Nama orang itu harus diubah. Istilah lain, reinkarnasi atau dilahirkan kembali.

Saya menamai anak pertamaku dengan Muhammad Zuhdi Alghifari. Harapan saya, anak pertamaku mempunyai watak seperti nabinya (Muhammad) dengan kesederhanaan (Zuhdi) lagi pemaaf (Ghifari). Meskipun baru duduk di kelas 2 SD, anak pertamaku sudah menunjukkan perilaku seperti namanya. Istirahat, sholat, mengaji, dan belajar tidak perlu diingatkan lagi. Semua dilakukan dengan sangat disiplin. Baju dan sepatu justru memilih yang berharga sederhana dengan uang saku hanya Rp 2.000/ hari. Hebatnya, dia tidak suka membalas jika adiknya nakal. Dia lebih memilih mengalah daripada membalasnya.

Anak keduaku bernama Ilham Ahmad Husaini. Doa kami sebagai orang tua, semoga anak keduaku menjadi sumber ilmu (Ilham) yang terpuji (Ahmad) lagi membawa kebaikan (Husain). Anak keduaku ini juga menunjukkan gelagat seperti namanya. Kemarin, dia menjadi Juara III dalam lomba Dot to Dot se-Kawedanan Gemolong. Pertama ikut langsung menjadi juara 3.

Anak ketigaku bernama Musyafa’ Naufal Rizki. Kami berdoa semoga anak ketigaku suka menolong (Musyafa’) dengan kegantengannya (Naufal) dan rezeki yang dimilikinya (Rizki). Meskipun baru berumur 9 bulan, wajah dan watak sudah terbaca. Dia gemar sekali menolong ibunya. Dia suka menolong ibunya dengan mengambilkan sendok dan piring. Ya tentu saja digunakan untuk mainan alias dipukul-pukul. Namanya juga bayi!

Kini, kita sudah bernama dengan nama yang baik. Tanyakanlah makna nama itu kepada orang tua kita jika belum mengetahuinya. Dengan mengetahui makna nama itu, perilaku kita akan menjadi terkendali dan tak lagi terbawa emosi. Jagalah nama Anda agar menjadi pribadi terjaga! (www.gurumenulisbuku.blogspot.com)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 5 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 7 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: