Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Johan Wahyudi

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Penyunting Naskah, Penulis Artikel, selengkapnya

Makna Sebuah Nama

OPINI | 14 July 2010 | 04:45 Dibaca: 625   Komentar: 18   5

Kewajiban orang tua terhadap anak ada empat: melahirkan, menamai, mendidik, dan menikahkan. Tugas-tugas itu menjadi rutinitas berkesinambungan tiada henti, hingga puncaknya. Jika keempat tugas itu dapat dilaksanakan dengan tuntas, berbahagialah dirinya sebagai orang tua.

Menurut saya, tugas terberat orang tua adalah menamai. Mungkin ada sahabat kompasiana yang berbeda pendapat dengan saya. Itu tak mengapa. Melahirkan memang menjadi kewajiban istri saya. Saya hanya membantunya dengan menyediakan makanan bergizi dan perhatian. Tugas mendidik dapat dilakukan suami dan istri. Keduanya mempunyai peran untuk saling melengkapi demi anak. Jika mendidik usai, anak akan beranjak dewasa. Setelah meraih pendidikan layak dan mendapatkan pekerjaan, anak harus dicarikan jodoh. Meminjam istilah Jawa: Bibit, Bobot, Bebet. Ketiga tugas di atas, menurut saya, cukup ringan.

Tugas terberat bagi orang tua kepada anak adalah memberi nama. Ini disebabkan nama merupakan doa. Oleh karena itu, Nabi Muhammad sudah wanti-wanti agar orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang baik. Karena nama adalah doa, nama itu dapat menjadi cirri khas masa depannya.

Dengan namanya, orang tua bermaksud untuk memberikan tanggung jawab kepada anak. Anak harus diajarkan untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ketika makna sebuah nama sudah dipahami dengan baik, anak tersebut akan dikendalikan oleh namanya. Dan itulah tujuan utama sebuah nama: pengendalian diri.

Memang ditemukan beberapa nama yang tidak dapat dijaga dengan baik oleh pemiliknya. Sebuah nama yang sarat makna justru menjadi penjahat. Sebuah nama yang sarat dengan filosofi hidup justru menjadi tersangka dan terpidana korupsi. Itu bukan kesalahan nama. Orang tua memberikan nama itu kepadanya agar menjadi seperti maknanya. Jika pemilik nama justru berperilaku sebaliknya, meminjam istilah Jawa: kabotan jeneng (terlalu berat untuk makna tersirat dalam namanya). Nama orang itu harus diubah. Istilah lain, reinkarnasi atau dilahirkan kembali.

Saya menamai anak pertamaku dengan Muhammad Zuhdi Alghifari. Harapan saya, anak pertamaku mempunyai watak seperti nabinya (Muhammad) dengan kesederhanaan (Zuhdi) lagi pemaaf (Ghifari). Meskipun baru duduk di kelas 2 SD, anak pertamaku sudah menunjukkan perilaku seperti namanya. Istirahat, sholat, mengaji, dan belajar tidak perlu diingatkan lagi. Semua dilakukan dengan sangat disiplin. Baju dan sepatu justru memilih yang berharga sederhana dengan uang saku hanya Rp 2.000/ hari. Hebatnya, dia tidak suka membalas jika adiknya nakal. Dia lebih memilih mengalah daripada membalasnya.

Anak keduaku bernama Ilham Ahmad Husaini. Doa kami sebagai orang tua, semoga anak keduaku menjadi sumber ilmu (Ilham) yang terpuji (Ahmad) lagi membawa kebaikan (Husain). Anak keduaku ini juga menunjukkan gelagat seperti namanya. Kemarin, dia menjadi Juara III dalam lomba Dot to Dot se-Kawedanan Gemolong. Pertama ikut langsung menjadi juara 3.

Anak ketigaku bernama Musyafa’ Naufal Rizki. Kami berdoa semoga anak ketigaku suka menolong (Musyafa’) dengan kegantengannya (Naufal) dan rezeki yang dimilikinya (Rizki). Meskipun baru berumur 9 bulan, wajah dan watak sudah terbaca. Dia gemar sekali menolong ibunya. Dia suka menolong ibunya dengan mengambilkan sendok dan piring. Ya tentu saja digunakan untuk mainan alias dipukul-pukul. Namanya juga bayi!

Kini, kita sudah bernama dengan nama yang baik. Tanyakanlah makna nama itu kepada orang tua kita jika belum mengetahuinya. Dengan mengetahui makna nama itu, perilaku kita akan menjadi terkendali dan tak lagi terbawa emosi. Jagalah nama Anda agar menjadi pribadi terjaga! (www.gurumenulisbuku.blogspot.com)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: