Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Metik Marsiya

belajar dari keterbatasan…. belajar dari ketiadaan Membaca dan memahami tulisan dongeng saya, harus dari selengkapnya

Puasa, Laku Spiritual, dan Pengobatan Alternatif

REP | 31 May 2013 | 10:15 Dibaca: 582   Komentar: 20   5

Pengobatan alternatif adalah bagian dari dunia spiritual. Sebagian metode pengobatan alternatif sebagian besar sudah dikenal di masyarakat, mulai dari akupuntur, refleksi, herba, pijat dsb. Masyarakat sudah mengakui keberhasilan pengobatan dengan metode-metode tersebut. Sebelum dunia medis memasuki ranah pengobatan, pelaku alternatif sudah dikenal lebih dulu dari jaman leluhur-leluhur kita, mulai dari tabib, sin se, dukun bayi, dukun pijat, dukun tulang. Masih banyak cara pengobatan alternatif yang ada di sekitar kita baik yang dilakukan oleh secara terang-terangan atau yang belajar untuk dirinya sendri.

Pelaku alternatif  semakin diakui keberadaannya oleh masyarakat apabila mempunyai kemampuan “linuwih” atau kemampuan spiritual dengan penggunaan indera keenam. Sehingga pengobatan alternatif selalu dikaitkan dengan klenik. Bagaimanakah sebenarnya kaitannya antara Dunia spiritual dan pengobatan alternatif? Bagaimana tanggapan dengan istilah  pengobatan alternatif adalah dunia klenik, dunia tanpa penelitian, dunia tanpa logika, pengobatan yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

Dahulu nenek moyang kita menggunakan ilmu “titen”, atau ilmu yang dikembangkan dari membaca pertanda sebab akibat yang terjadi sebelum dan sesudah melakukan sesuatu. Misalnya, setelah langit mendung biasanya terjadi  hujan, setelah minum kunyit asam perempuan yang sedang datang bulan merasa lebih nyaman. Badan pegel setelah dipijat akan terasa lemes, ngantuk dan setelah tertidur badan terasa lebih segar.

Selanjutnya saya akan membahas keilmuan Jawa, dimana keilmuan ini sangat erat kaitannya dengan dunia pengobatan alternatif.  Proses awal belajar ilmu Jawa biasanya dimulai dengan puasa. Manusia dianugrahi raga, pikiran dan perasaan.  Raga manusia diolah dengan melakukan olah raga dengan indikasi keberhasilan adalah badan yang sehat. Pikiran manusia atau biasa  disebut akal  yang ada di bagian otak diolah dengan pembelajaran sekolah formal, dengan indikator keberhasilan adalah kecerdasan dengan bukti nilai-nilai dalam ijazah. Sedangkan perasaan atau roso yang berada di hati manusia diolah dengan menggunakan proses spiritual. Banyak yang sudah  sering dilakukan oleh manusia untuk mengolah rasanya yaitu dengan melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. Puasa hanyalah salah satu alat untuk mengolah “rasa” atau qalbu yang bersemayam di hati manusia. Diharapkan dengan puasa dan laku spiritual dapat meningkatkan kejernihan hati nurani, menjadi manusia yang berkualitas lahir dan bathin.

Efek dari puasa atau laku spiritual dalam pengobatan alternatif adalah untuk  meningkatkan tingkat kepekaan dan perasaan. Dengan qalbu yang jernih, akan meningkatkan kemampuan mata hati. Penggunaan kemampuan kepekaan ini pun bermacam-macam.  Misalnya bagi terapis pijat refleksi dan akupuntur diperlukan kemampun untuk melihat secara tepat dimana posisi syaraf-syaraf yang mengalami gangguan. Semakin tinggi tingkat kepekaan seseorang maka akan semakin tinggi  kemampuannya dalam melihat kelainan posisi dan hambatan peredaran darah pada pembuluh darah kapiler. Jadi untuk penyakit migren dan vertigo bisa diterapi oleh ahli terapis refleksi  yang  matang secara spiritual dapat sembuh walaupun hanya sekali atau dua kali terapi saja.  Hal ini disebabkan posisi pembuluh dareh kapiler cenderung ada di lapisan ketiga atau berada di dekat tulang. Di sinilah tingkat kepekaan seseorang harus diasah dengan laku spiritual, salah satunya adalah laku puasa.

Tanpa proses laku spiritual pengobatan alternatif tetap bisa dipelajari secara mudah dengan menggunakan logika dasar. Tetapi untuk sampai pada tataran  ahli alternatif yang dapat melakukan pengobatan secara menyeluruh tetap dianjurkan untuk melandasinya dengan olah bathin. Hal ini diperlukan mengingat penyakit bukan hanya masalah raga atau fisik saja, tetapi bisa juga akibat dari pola pikir dan psikis yang bisa berakibat langsung pada kondisi fisik. Maka kemampuan kepekaan mata hati sangat diperlukan untuk melakukan diagnosa secara menyeluruh mengenai sebab-sebab terjadinya penyakit kepada para penderita.Hingga pada akhirnya bisa mnemukan methode yang pas yang dapat diterapkan kepada pasien.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 3 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: