Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Djho Izmail

aku hanyalah aku. dan menulis adalah caraku untuk memperlihatkan keakuanku kepada aku yang lain Bermukim Maya selengkapnya

Buang Air Besar Sembarangan (BABS)

REP | 30 May 2013 | 08:11 Dibaca: 698   Komentar: 0   1

Dua Minggu lalu, pada tanggal 11 Mei 2013, saya berkesempatan untuk pulang kampung. Kampung halaman saya berada di daerah pegunungan bagian barat Kota Ende. Jarak tempuh sekitar 40 km atau dua sampe tiga jam perjalanan dengan kendaraan umum. maklum, jalanan yang menanjak membuat kita harus berlama-lama menanamkan pantat kita di kursi kendaraan. Cerita saya kali ini, bukan tentang kampung halaman saya. Sekarang saya mau bercerita tentang Perilaku masyarakat yang saya temukan ketika kendaraan keluar dari Terminal Ndao Ende.

Sekitar empat atau lima kilometer selepas terminal Ndao Kota Ende, ada pemandangan yang sungguh kurang sedap di lihat. Seorang Ibu nampak asyik duduk jongkok di pinggir pantai. Jongkoknya ini bukan jongkok biasa. Jongkok ini penuh makna. Ibu itu berjongkok karena melakukan sebuah aktifitas. Bukan hendak melaut. bukan pula menanti suami yang pula melaut. bukan juga mencari kerang atau kepiting. bukan semuanya itu. Ibu itu berjongkok untuk Buang Air Besar (BAB). Padahal waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat, tapi Sang Ibu masih dengan tanpa perasaan malu melanjutkan aktifitasnya.

Sampai sekarang pemandangan seperti yang saya lihat itu masih terjadi. Lebih sering ketika subuh atau matahari hendak terbit. Fenomena ini memang sudah turun temurun dilakukan. Alasan utamanya ialah karena semua pemukiman penduduk tak memiliki Kamar Water Closed (WC). Jadi untuk lebih praktisnya mereka tak perlu repot membuang anggaran atau bersusah payah mengerjakan Kamar WC. Cukup ke pantai saja sudah beres. Ibarat Pepatah “Tak ada rotan, akar pun jadi”.

Menelusuri keadaan ini, saya mencoba berselancar di dunia maya. Di saya temukan sebuah portal web. Namanya : http://www.dinkes-ende.web.id dari sebuah tulisannya di situ saya menemukan sebuah rencana program yang di atur oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Saya Mencoba meng- Copy Paste-kan disini paragraf awalnya. Pemerintah Kabupaten Ende mencanangkan Stop Buang Air Besar di Sembarang tempat (BABS) pada tahun 2015 sebagai bagian dari kampanye besar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Ende. Pencanangan ditandai dengan pemukulan gong oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ende Yoseph Ansar Rera di Lantai II Kantor Bupati Ende, Rabu (13/4). Sehari sebelumnya, Selasa (12/4), di Pulau Ende telah dideklarasikan stop BABS sebagai pemicu di 21 kecamatan dan  23 desa di pesisir lainnya di Kabupaten Ende.

Bisa dipastikan bahwa, pemerintah telah mengupayakan untuk mensosialisakan tentang kesehatan lingkungan. Bagaimanapun semuanya akan berimbas kepada Manusia. Ada tiga faktor utama dalam penyebaran penyakit: Host, Agent dan Environment. Ketiganya itu saling berpengaruh. Bila kita mengabaikan yang satu otomatis akan emngalami ketimpangan. tapi, anehnya samapi sekarang tak ada informasi atau berita tentang tindak lanjut dari program pemerintah dalam menangani BABS tersebut.

Mengapa BABS itu dianjurkan untuk jangan dilakukan?

Dalam 10 pokok Pola Hidup Bersi dan Sehat. Sudah dijelaskan tentang apa dan mengapa. Saya tidak berusaha menulisnya lagi. Saya hanya menjelaskan sedikit tentang pentingnya BAB pada tempatnya. Atau pada jamban yang sehat.

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkanya. Setiap anggota rumah tangga harus menggunakan jamban untuk buang air besar/buang air kecil. Fungsi dari jamban itu sesungguhnya ialah: 1) Menjaga lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau. 2) Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya. 3) Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit Diare, Kolera Disentri,Typus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit, dan keracunan.

Bila kita ingin sehat, maka pergunakanlah jamban ketika hendak BAB. Jangan lakukan disembarang tempat. Hal ini berfaedah terhadap kesehatan lingkungan tempat tinggal kita. Kita kadang berpikir pragmatis dan ekonomis tapi sesungguhnya kesehatan itu mahal. Kita baru menyadari bahwa kesehatan itu mahal ketika kita sakit. Berobat dengan biaya yang mahal. Mari hidup sehat mulai dari sekarang!

Tags: kesehatan phbs

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: