Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Sangkal Putung Vs Ortopedi

HL | 18 April 2013 | 15:17 Dibaca: 3349   Komentar: 16   7

Sangkal putung dikenal masyarakat yang saya kenal sebagai pengobatan alternatif kasus patah tulang. Ada yang menggunakan jampi mantra prana, doa dan pijatan khusus. Bahkan ada beberapa bahan atau barang yang mendukungnya.

Orthopedi sendiri merupakan pengobatan dokter patah tulang versi modernnya. Meskipun demikian, masih saja masyarakat lebih condong untuk pergi ke sangkal putung ketimbang orthopedi. Banyak alasan yang melatarbelakanginya. Selain sudah tradisi, lebih murah dan kemungkinan pengaruh lainnya.

Karena Jerman eranya jauh berbeda, masyarakat lebih nyaman pergi ke orthopedi jika mengalami masalah kesehatan berkaitan dengan tulang. Mereka bahkan tak mengenal apa itu sangkal putung.

Begitu pula dengan pengalaman saya dan beberapa orang Jerman yang saya kenal. Jerman yang menerapkan kewajiban asuransi bagi setiap warga (baik lokal maupun asing), nampaknya tidak memberatkan pasien. Sehingga terjamin kebutuhan akan kesehatan. Pergi ke orthopedi? No worry.

***

13662729701380748139

Tapak kaki saya di praktek dokter Orthopedi

Saya masih ingat, sewaktu kuliah semester pertama, kakak saya mengalami kecelakaan di daerah Tuntang. Ya, namanya daerah ramai nan rawan. Ia terlindas truk. Bisa membayangkan bingungnya orang tua saya, kan waktu itu? Mereka membawanya langsung ke sangkal putung!

Bapak ibu kami itu khawatir akan masa depan anaknya. Dokter mengatakan bahwa pasien harus dipen dan tidak bisa berdiri lagi untuk jangka waktu yang tidak tentu. Tulang belakangnya patah. Ya ampun, ngeri tak hanya membayangkan badannya itu mak kretekkkk dilindas ban truk yang besar tapi juga tulangnya yang pasti retak, patah, rusak karenanya.

Selang beberapa bulan, ia sudah kembali ke rumah. Sudah bisa berdiri. Dari penerawangan saya, jalannya sudah biasa normal, tapi tidak lurus seperti semula (alias agak miring). Lima belas tahun kemudian, tak kentara apakah ia pernah mengalami kecelakaan dan patah tulang sampai masuk asrama sangkal putung segala ….

Argh. Ini perhatian bagi yang suka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan zig-zag pula. Resikonya ditanggung sendiri. Seumur-umur baru sekali ngebut sampai kejedot, berurusan dengan PM dan bayar mahal buat kentong magic. Swear, kapok! Coba kalau sampai patah tulang? Repot.

Oh ya, dalam terapi di sangkal putung di daerah Salatiga, Jawa Tengah itu, ternyata ia ditiup doa dan pijatan khusus. Benarkah sang tabib tradisional spesialis tulang ini manjur?

***

Lain lagi dengan di Jerman. Banyak tetangga, kawan dan kenalan yang sering masuk orthopedi dan tidak mengenal istilah sangkal putung (di Jerman mana ada, ya?).

Tetangga depan rumah, D, seminggu yang lalu terjatuh. Salah satu tulang bagian pundaknya patah. Wanita asli Amerika umur 55 tahun itu dioperasi dan disusupi pen dari bahan metal oleh dokter ortopedi terkenal di kota kami. Untung saja ada asuransi kesehatan yang dibayar preminya rajin tiap bulan dari gaji.

Begitu pula cerita lama para nenek yang saya kenal; H (67) dan M (84). H sudah lima tahun yang lalu mencangkok kedua lututnya. Katanya ia sudah tidak bisa berdiri. Selain faktor usia, berat badannya terlalu berat. Kaki tak bisa banyak menunjang. Akhirnya tempurungnya ditambal dokter ortopedi kota sebelah.

Hal ini terjadi pada Oma M. Dari tulang belakang sampai lutut sudah dimasuki logam kuat untuk membantu tulangnya yang rusak. Katanya sudah tak terhitung berapa kali operasi bedah yang dijalani untuk masalah tulangnya ini. Miris.

Tiga minggu yang lalu, seorang om dari garis suami, menelpon. Lelaki umuran 53 itu mengabarkan bahwa istrinya masuk rumah sakit di kota F. Om H mengatakan bahwa memang sudah lama belahan jiwanya itu mengeluh di bagian panggul. Ternyata dokter ortopedi yang merawatnya secara rutin mengatakan, jalan satu-satunya untuk menghilangkan rasa sakit yang timbul disaat berjalan adalah operasi. Ya, wanita berambut pirang itu harus dicangkok metal. Semoga ia baik-baik saja dan segera sembuh seperti sediakala.

Sejak Januari yang lalu, jempol saya keseleo. Entah salah posisi duduk, salah njangkah, atau salah sepatu. Saya pijat setiap hari, rendam pula dengan air hangat. Tapi sampai bulan Maret tidak kunjung reda rasa sakitnya. Akhirnya kaki ceper saya (mirip bebek), saya hantar ke dokter ortopedi di kota T. Tidak usah membayar karena sudah membayar asuransi kesehatan (untuk dokter mana saja dan apa saja) setiap bulan, jadi tinggal penyaluran.

Ketika saya tanya apa sebabnya, dokter mengatakan “Penyakit ini pemberian Tuhan, datangnya begitu saja. Meskipun ada kemungkinan karena bentuk sepatu yang tidak cocok mewadahi kaki, itu tidak 100% jadi penyebab.” Ia mengutus saya untuk berdiri dan menapak di sebuah kardus berisi gabus warna pink. Dokter sedikit menekan bagian kaki saya agar lebih dalam tekanannya. Disana, tercetak telapak kaki saya.

Setelah itu, ia memberikan sebuah resep untuk memesan alas kaki untuk sepatu saya dan harus diberikan kepada toko sepatu khusus yang bekerja sama dengan ortopedi. Bisa dengan toko yang ditunjuk oleh dokter atau silahkan memilih yang lain.

Begitu kesana, tukang sepatu mengatakan alas kaki jadi seminggu lagi dengan bea 27 euro! Sayang, ini tidak masuk asuransi kesehatan milik saya tapi bisa diklaim pada laporan pajak tahunan akhir tahun. Bagian tengahnya ada yang menyembul keatas, njendol, menunjang tulang telapak kaki bagian tengah lebih keatas.

Anak saya yang salah satu kakinya agak bengkok, juga saya periksakan saat itu juga. Saya hanya diberi nasehat bahwa ini normal karena ketika dilihat tulang belakangnya masih lurus. Si anak sebaiknya memperbanyak olahraga (lari, renang, jalan cepat) dan kaki akan lurus bersamaan dengan tumbuhnya tulang dan anak itu sendiri. Kita tunggu saja kalau gadis centil saya ini sudah dewasa.

Suami saya menimpali. Sewaktu kanak-kanak, kakinya O sekali. Oleh dokter orthopedi disarankan banyak olahraga, tak perlu digips atau media lain demi meluruskan kaki. Ia memilih berkuda dan berenang. Kalau suami saya tidak bercerita, saya tak sadar kalau ia dahulu juga ada masalah dengan tulang kaki. Lhooo … baru tahu sekarang, hunny ? Kalau saya amati, tidak ada bekas O-nya, kok.

Seorang tetangga menambahkan bahwa satu dari ketiga anaknya juga memiliki bantalan sepatu khusus seperti milik saya. Dokter orthopedi mengatakan bahwa pinggul kanan dan kiri anak memang agak ada masalah, untuk membantu menyelaraskannya, diberi alas kaki khusus. Sekarang tidak ada masalah lagi. Bantal kaki ini berkhasiat bagi saya juga, setelah seminggu memakainya, jempol saya tidak lagi nyeri. Berangsur-angsur sembuh. Alhamdulillah, semoga tidak kumat lagi, ya ?

***

Begitulah. Sangkal putung versus orthopedi. Saya yakin pemahaman secara nalar tentang sangkal putung ini tidak dimengerti dunia modern (tak ubahnya khasiat kerokan vs masuk angin?).

Selain di Salatiga, banyak para tabib sangkal putung mendirikan usahanya di Klaten, Ungaran, Cilandak dan kota-kota lain. Mereka ini kabarnya banyak memiliki pasien yang puas akan pelayanan pengobatan tradisional yang diberikan. Ada supply ada demand vice versa.

Menurut dokter Dhanny (2011) dalam sebuah postingannya mengatakan bahwa sebenarnya kalau ada keluhan patah tulang sebaiknya ke dokter. Mengenai sangkal putung, ia memahami bahwa pada dasarnya tulang itu bisa sembuh sendiri. Namun tetap butuh para ahlinya agar penyambungannya pas. Misalnya dengan rontgen sehingga tahu posisi persis penyambungan agar tidak terjadi salah sambung. Kesalahan akan penyambungannya bisa mengakibatkan efek seperti nyeri, infeksi dan sebagainya.

Sedangkan di Jerman, secara turun temurun, hampir semua anggota masyarakatnya, dari bayi sampai lansia lebih banyak mengenal dokter orthopedi dan memeriksakannya ke mereka jika ada masalah dengan tulang. Di kota kamipun, sudah banyak berdiri pabrik sepatu anti stress dan pemakaian sepatu hak tinggi tidak begitu disukai. Kalau dipakai dalam hiduppun, hanya dalam hitungan jari.

Akhirnya, silahkan Kompasianer memilih sendiri; sangkal putung atau dokter. (G76).

Sumber:

1. Pengalaman pribadi

2. Dokter Dhanny. 15 Oktober 2011. Patah tulang: sangkal putung atau dokter?. Blogger. http://about-medics.blogspot.de/2011/10/patah-tulang-sangkal-putung-atau-dokter.html. 18.4.2013.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: