Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Nugroho Angkasa

Guru Privat Bahasa Inggris di Yogyakarta, Editor, dan Penerjemah Lepas. Gemar Baca dan Rangkai Kata selengkapnya

Medical Camp, Masyarakat Kurang Mampu Pun Bisa Berobat

REP | 30 January 2013 | 10:38 Dibaca: 157   Komentar: 0   0

Dimuat di Rimanews, Rabu/30 Januari 2013
http://www.rimanews.com/node/90196

“Acara ini bagus, positif. Karena menolong warga miskin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis,” begitulah komentar Donny Eggers (54) terkait acara Medical Camp (Medcamp) yang diadakan oleh Anand Krishna Centre (AKC) Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang) di Jln. Nanas 7 RW 5 RT 1 Perumnas Kalinegoro, Magelang, Jawa Tengah pada Kamis Pon (24/1/2013) lalu.

Lebih lanjut, pegawai Depkominfo Kabupaten Magelang tersebut menyampaikan fakta di lapangan. Ternyata kalau warga bukan PNS dan tidak memiliki askes, sekadar periksa (check up) di Puskemas pun harus membayar. Padahal pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan utama masyarakat.

Di wilayah Kabupaten Magelang sendiri terdapat 21 kecamatan dan 372 desa. Sedangkan jumlah dokter dan petugas medis di Puskesmas sangat terbatas. Sehingga mobilitas mereka kurang dapat menjangkau desa-desa seperti di pelosok lereng Sumbing dan lereng Merapi.

“Sebaiknya acara semacam ini diadakan rutin, dalam setahun bisa beberapa kali. Selain itu, sosialisasinya pun harus lebih gencar agar semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya, ” imbuh  Redaktur Majalah Berita Daerah Suara Gemilang tersebut.

Koordinator acara Medcamp, Ganjar Adypranata Darma Putra S.Sn mengatakan bahwa kegiatan ini tak hanya berupa konsultasi dan pemeriksaan medis, tapi juga dengan penyembuhan Neo Zen Reiki oleh para volunteer dari Pati, Semarang, Yogyakarta dan Surakarta.  1359517037907938419

Proses healing dengan teknik sentuhan tersebut dipopulerkan kembali oleh Anand Krishna. Pasca sembuh dari penyakit Leukemia (kanker darah) di tahun 1991, pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006) tersebut berbagi lewat Attunement Neo Zen Reiki. Sehingga memfasilitasi perubahan pola energi seseorang seirama dengan gelombang alam semesta.

Neo Zen Reiki ialah satu dari 300-an lebih metode meditasi yang dikembangkan Anand Krishna. Teknik kuno tersebut sempat dipopulerkan Sensei Usui di Jepang (kurang lebih seratus tahun silam), “Alam adalah medan energi yang luar biasa melimpah bagi kita, dan kalau kita berlaku sebagai Anak Allah yang hormat terhadap Sang Ibu, kita akan selalu dipelihara oleh-Nya. Energi Murni Alam Semesta itu akan membuat kesehatan jiwa dan raga menjadi suatu yang sudah dimiliki dan Anda dapat mengelola kesehatan jiwa raga Anda sendiri… tak perlu orang lain!” (Seni Memberdayakan Diri 1 - Meditasi Dan Neo Zen Reiki, Gramedia Pustaka Utama (GPU), 1998)

Asih (53), salah satu warga RW 5 RT 1 mengatakan, “Tadi saya ditensi tekanan darahnya kemudian diberi obat. Salut untuk acara ini, karena sangat membantu dalam hal kesehatan. Saat di-reiki badan juga terasa segar.”

Menurut salah satu sukarelawati dari Yogyakarta, Rahma Ni Dwi S.T, “Penyembuhan Neo Zen Reiki tidak menggunakan mind. Itulah aspek pembeda dengan  teknik pengobatan yang memakai konsentrasi atau visualisasi. Terapi rileksasi Neo Zen Reiki justru tidak memikirkan penyembuhan. Para sukarelawan/wati hanya menjadi saluran perantara bagi aliran Energi Ilahi.”

Dari pukul 08.00-12.00 WIB anak-anak, remaja hingga orang tua duduk rapi mengantri menunggu giliran diperiksa oleh dr. Hardiyanto dan dr. Djoko Pramono. Kedua dokter tersebut mengatakan bahwa sebagian besar warga merasa pusing-pusing, capek dan pegal-pegal, serta tekanan darahnya tinggi. Selain itu, ada beberapa orang yang terkena stroke.”

Salah satunya Prabowo (55), beliau pernah mengidap stroke. Sehingga untuk datang ke lokasi harus dipapah oleh tetangganya. Dulu saat masih sehat, ia bekerja sebagai makelar penjualan mobil dan motor. Tapi kini kegiatannya sedikit terganggu. “Acara Medcamp ini sangat berguna karena masyarakat yang kurang mampu pun bisa berobat,” ujarnya. (Reporter: Nugroho Angkasa, Fotografer: Michael Setiawan)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Indonesia Tanpa Pancasila …

Fadjar Hadi | 7 jam lalu

16 Milyar Rupiah Hanya untuk Sumpah Janji …

Muhammad Nur,se | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

Anggota DPR RI dan Gadget …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: