Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Toto Kartarahardja

Terapis dan pengamat pengobatan alternative, lahir di Bandung pada bulan November, menikah dengan tiga anak selengkapnya

TERAPI QOLBU

REP | 24 October 2012 | 21:07 Dibaca: 8069   Komentar: 25   0

Terapi Kolbu
Suatu waktu ketika menyaksikan tayangan tentang terapi alternatif saya tertarik untuk mendalami terapi kolbu yang dipimpin oleh Sonny Sutisna SE. Dalam pemikiran saya terapi ini berupa metode pembersihan hati melalui teknik sholat/zikir yg membawa kita ke phase khusu, karena dr pemaparannya disebutkan tdk melibatkan obat, jampi2 dan jin.

Setelah melakukan surfing di internet untuk mengetahui tariff konsultasi, diperoleh informasi harga Rp. 200.000,- hari Jumat tiga minggu yg lalu, saya menghubungi

sekretariat di Jl Utan Kayu, untuk menanyakan biaya terapi, diperoleh jawaban:

1. Untuk terapi Rp. 550.000 dan
2. Untuk obat Rp. 550.000,-

Cukup fair saya fikir, berarti akan ada lima kali pertemuan

Pagi-pagi saya mendatangi sekretariat dan saya mengira orang-orang sudah berkumpul diaula untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yg akan membawa kita kesuasana khusuk dan penuh suasana spiritual.

Ternyata keadaan jauh dr perkiraan, sebab yg terjadi adalah kita diterapi oleh para asisten dalam bentuk terapi reiki selama satu jam, yg selama ini dapat kita peroleh dengan gratis, dipadepokan-padepokan reiki.

Ba’da sholat Jumat diminta kembali untuk diterapi langsung oleh sang guru besar dan ya sama saja, diberi enerji selama 10 menit, selesai, dengan pesan dilanjutkan terapi selama 5 sesi.

Dari Rp. 1.100.000,- saya memperoleh yaitu tadi terapi plus sebotol minyak oles (50 ml) yg baunya seperti bau bumbu dendeng, ditambah 1 botol besar aqua unuk 5 kali mandi plus buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”. Judulnya cukup provokatif.

Buku tersebut berisi tulisan yg sederhana dan bolak balik tentang bagaimana caranya sholat agar khusu. Tapi menurut pendapat saya berbau ajaran Hindu, ini dapat dilihat dari cara menerangkan tentang Iman kepada Taqdir, jelas sekali berbau reinkarnasi. Ini tdk aneh, karena Sonny Sutisna ini berayah Bali dan beribu Tionghoa.

Perlu saya jelaskan bahwa kalimat itu saya penggal dari tulisan SS sendiri dalam Bagian Riwayat Hidup Penulis dr Buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”.

Kalau saya memakai kalimat itu sebagai logika yang menghubungkan antara Reinkarnasi dengan Percaya Kepada Taqdir yang dibahas dlm buku itu, maka sebenarnya SS memakai kalimat itu sebagai “Strategy Marketing”.

Saya harus mengakui kehebatan SS dalam mengelola emosi dan meng”kadal”i, khususnya umat Islam. Kalimat itu digunakan untuk meraih simpati dr umat Islam. Kita dapat membayangkan betapa tersentuhnya umat Islam terhadap pernyataan tersebut. “Alhamdulillah seorang yg berayah Bali dan beragama Hindu dan beribu Tionghoa yang beragama Khong Hu Cu, menjadi mualaf” dan tentunya kan membangkitkan kepenasaran untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yang ujung2nya promosi terapi qolbunya.


Untuk terapi tindak lanjut saya dikenakan biaya sbb:

Biaya konsultasi Rp. 10.500.000, (Tdk salah, benar sepuluh juta lima ratus ribu) ditambah Rp. 400.000,- untuk setiap kali terapi, ya = Rp. 2000.000,-

Jadi jumlah keseluruhan; Rp.13.600.000,- lebih dari dua kali berobat ke klinik Tong Fang.

Ya akhirnya saya DO, yang Rp. 1.100.000, saya fikir ya apa boleh buat, hitung-hitung kecopetan di bis kota.

Saya sempat mempertanyakan soal biaya ini, sebab kesannya ketika kita meminta informasi kita hanya dikenakan Rp. 1.100.000,- (Silakan coba)

Dari cara menjawab, nampak sekali memang ini dipasang sebagai jebakan.

Akhirnya saya menyadari bahwa memang bila kita mau melakoni hidup sebagai terapis, cara yg paling gampang dan menguntungkan ya melalui jalur agama, khususnya Islam, ditambah penampilan ustadz dan ceramah hasil copy paste.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 5 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 5 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 9 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Modern atau Kampungan? …

Alfarizi | 9 jam lalu

Wayang Listrik dalam Panggung Teater …

Trie Yas | 9 jam lalu

Tolong, Jangan Rebutan Jersey Suarez! …

Rizal Marajo | 9 jam lalu

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 10 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: