Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Toto Kartarahardja

Terapis dan pengamat pengobatan alternative, lahir di Bandung pada bulan November, menikah dengan tiga anak selengkapnya

TERAPI QOLBU

REP | 24 October 2012 | 21:07 Dibaca: 8042   Komentar: 25   0

Terapi Kolbu
Suatu waktu ketika menyaksikan tayangan tentang terapi alternatif saya tertarik untuk mendalami terapi kolbu yang dipimpin oleh Sonny Sutisna SE. Dalam pemikiran saya terapi ini berupa metode pembersihan hati melalui teknik sholat/zikir yg membawa kita ke phase khusu, karena dr pemaparannya disebutkan tdk melibatkan obat, jampi2 dan jin.

Setelah melakukan surfing di internet untuk mengetahui tariff konsultasi, diperoleh informasi harga Rp. 200.000,- hari Jumat tiga minggu yg lalu, saya menghubungi

sekretariat di Jl Utan Kayu, untuk menanyakan biaya terapi, diperoleh jawaban:

1. Untuk terapi Rp. 550.000 dan
2. Untuk obat Rp. 550.000,-

Cukup fair saya fikir, berarti akan ada lima kali pertemuan

Pagi-pagi saya mendatangi sekretariat dan saya mengira orang-orang sudah berkumpul diaula untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yg akan membawa kita kesuasana khusuk dan penuh suasana spiritual.

Ternyata keadaan jauh dr perkiraan, sebab yg terjadi adalah kita diterapi oleh para asisten dalam bentuk terapi reiki selama satu jam, yg selama ini dapat kita peroleh dengan gratis, dipadepokan-padepokan reiki.

Ba’da sholat Jumat diminta kembali untuk diterapi langsung oleh sang guru besar dan ya sama saja, diberi enerji selama 10 menit, selesai, dengan pesan dilanjutkan terapi selama 5 sesi.

Dari Rp. 1.100.000,- saya memperoleh yaitu tadi terapi plus sebotol minyak oles (50 ml) yg baunya seperti bau bumbu dendeng, ditambah 1 botol besar aqua unuk 5 kali mandi plus buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”. Judulnya cukup provokatif.

Buku tersebut berisi tulisan yg sederhana dan bolak balik tentang bagaimana caranya sholat agar khusu. Tapi menurut pendapat saya berbau ajaran Hindu, ini dapat dilihat dari cara menerangkan tentang Iman kepada Taqdir, jelas sekali berbau reinkarnasi. Ini tdk aneh, karena Sonny Sutisna ini berayah Bali dan beribu Tionghoa.

Perlu saya jelaskan bahwa kalimat itu saya penggal dari tulisan SS sendiri dalam Bagian Riwayat Hidup Penulis dr Buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”.

Kalau saya memakai kalimat itu sebagai logika yang menghubungkan antara Reinkarnasi dengan Percaya Kepada Taqdir yang dibahas dlm buku itu, maka sebenarnya SS memakai kalimat itu sebagai “Strategy Marketing”.

Saya harus mengakui kehebatan SS dalam mengelola emosi dan meng”kadal”i, khususnya umat Islam. Kalimat itu digunakan untuk meraih simpati dr umat Islam. Kita dapat membayangkan betapa tersentuhnya umat Islam terhadap pernyataan tersebut. “Alhamdulillah seorang yg berayah Bali dan beragama Hindu dan beribu Tionghoa yang beragama Khong Hu Cu, menjadi mualaf” dan tentunya kan membangkitkan kepenasaran untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yang ujung2nya promosi terapi qolbunya.


Untuk terapi tindak lanjut saya dikenakan biaya sbb:

Biaya konsultasi Rp. 10.500.000, (Tdk salah, benar sepuluh juta lima ratus ribu) ditambah Rp. 400.000,- untuk setiap kali terapi, ya = Rp. 2000.000,-

Jadi jumlah keseluruhan; Rp.13.600.000,- lebih dari dua kali berobat ke klinik Tong Fang.

Ya akhirnya saya DO, yang Rp. 1.100.000, saya fikir ya apa boleh buat, hitung-hitung kecopetan di bis kota.

Saya sempat mempertanyakan soal biaya ini, sebab kesannya ketika kita meminta informasi kita hanya dikenakan Rp. 1.100.000,- (Silakan coba)

Dari cara menjawab, nampak sekali memang ini dipasang sebagai jebakan.

Akhirnya saya menyadari bahwa memang bila kita mau melakoni hidup sebagai terapis, cara yg paling gampang dan menguntungkan ya melalui jalur agama, khususnya Islam, ditambah penampilan ustadz dan ceramah hasil copy paste.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: