Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Hantiantoro Mik

Saya kuliah di PSIK Undip 2011. Saya adalah mahasiswa yang ingin menjadi Juara lomba nasional tahun selengkapnya

Perawat di Mata Media

OPINI | 23 September 2012 | 02:07 Dibaca: 1100   Komentar: 0   0

CITRA PERAWAT DI MEDIA MASSA

PENDAHULUAN

Dalam ilmu keperawatan jiwa, citra diri merupakan sebuah cerminan utuh diri sendiri yang menimbulkan perasaan atau perasangka dan berdampak kepada perkiraan penilaian orang lain terhadap diri. Jika dikaitkan dengan citra sebuah profesi, maka citra merupakan penilaian sebuah yang muncul akibat penilaian dari dalam yang dipengaruhi faktor dalam dan luar profesi tersebut.

Di jaman modern sekarang ini, berita akan menjadi sangat hangat untuk dibicarakan. Perkembangan teknologi multimedia di dunia yang berkembang begitu pesat menguntungkan manusia untuk memperoleh informasi dengan begitu mudahnya. Begitu pula informasi baik dan buruk mengenai sebuah profesi, tak terkecuali profesi perawat.

Faktanya, media saat ini banyak yang memilih menayangkan isu-isu yang akan meningkatkan reputasi dan terkadang lupa akan berimbangnya sebuah berita. Hal itu tentu akan berdampak pada untung atau ruginya sebuah individu maupun kelompok. Tenaga kesehatan merupakan salah satu subyek berita yang kerap menjadi topik terkini. Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia yang belum rapi akan dengan mudah mengundang perhatian masyarakat untuk turut menyimak informasi pelayanan kesehatan. Tak jarang informasi seperti mal praktik, penolakan jaminan kesehatan, mahalnya biaya, dan berbagai permasalahan lain menggambarkan adanya persepsi yang negatif para praktisi kesehatan. Ditambah lagi keputusan salah yang fatal, tidak mampunya praktisi kesehatan berkomunikasi dengan pasien, dan berbagai permasalahan lain hinggap pada praktisi kesehatan termasuk perawat.

Perawat dengan segala kaumnya tidak dapat tinggal diam dan harus menyikapi hal ini. Kaum intelektual semacam mahasiswa keperawatan dan praktisi akademisi seperti instruktur, dosen dan profesi keperawatan sendiri harus menunjukkan jati diri perawat yang sebenarnya untuk mengangkat citra yang sudah cukup lama suram tertutupi kabar buruk yang entah dengan sengaja maupun fakta ada di media yang di konsumsi masyarakat indonesia. Segala golongan keperawatan harus bahu membahu untuk mewujudkan citra perawat sebagai kaum yang dihargai dan layak diberikan penghargaan atas kinerjanya.


PEMBAHASAN

Dalam ilmu keperawatan jiwa, citra diri merupakan sebuah cerminan utuh diri sendiri yang menimbulkan perasaan atau perasangka dan berdampak kepada perkiraan penilaian orang lain terhadap diri. Jika dikaitkan dengan citra sebuah profesi, maka citra merupakan penilaian sebuah yang muncul akibat penilaian dari dalam yang dipengaruhi faktor dalam dan luar profesi tersebut. Perawat merupakan sebuah profesi yang tak akan mungkin luput dari pencitraan masyarakat melalui media massa yang ada.

Image atau citra, reputasi dan kepedulian perawat merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting terhadap kepuasan klien dimana klien memandang rumah sakit mana yang akan dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Klien dalam menginterprestasikan perawat berawal dari cara pandang melalui panca indera dari informasi-informasi yang didapatkan dan pengalaman baik bagi orang lain maupun diri sendiri sehingga menghasilkan anggapan yang positif terhadap perawat, meskipun dengan harga yang tinggi, klien akan tetap setia menggunakan jasa perawat dengan harapan-harapan yang diinginkan klien (Tjiptono,1997 dalam Mugianti,2009).

Sampurna, (2003) Pakar Hukum Universitas Indonesia, mengemukakan bahwa setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat utama yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. Sikap profesional adalah sikap bertanggung jawab terhadap profesi maupun masyarakat luas. Beberapa ciri professional antara lain; kompetensi dan kewenangan yang selalu sesuai dengan tempat dan waktu, sikap yang etis dan sikap altruis untuk profesi kesehatan (Anonym, 2003 dalam Mugianti 2009). Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik dalam maupun luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Permenkes, 2010). Profesi perawat di Indonesia memiliki proporsi relatif besar yaitu 40% dari seluruh jumlah tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. (Alimul Aziz,2004). Perawat dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab selama 24 jam terhadap keselamatan dan kesejateraan klien selama masa perawatan.

Di jaman modern sekarang ini, berita akan menjadi sangat hangat untuk dibicarakan. Perkembangan teknologi multimedia di dunia yang berkembang begitu pesat menguntungkan manusia untuk memperoleh informasi dengan begitu mudahnya. Begitu pula informasi baik dan buruk mengenai sebuah profesi, tak terkecuali profesi perawat. Faktanya, media saat ini banyak yang memilih menayangkan isu-isu yang akan meningkatkan reputasi dan terkadang lupa akan berimbangnya sebuah berita. Hal itu tentu akan berdampak pada untung atau ruginya sebuah individu maupun kelompok. Tenaga kesehatan merupakan salah satu subyek berita yang kerap menjadi topik terkini. Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia yang belum rapi akan dengan mudah mengundang perhatian masyarakat untuk turut menyimak informasi pelayanan kesehatan. Tak jarang informasi seperti mal praktik, penolakan jaminan kesehatan, mahalnya biaya, dan berbagai permasalahan lain menggambarkan adanya persepsi yang negatif para praktisi kesehatan. Ditambah lagi keputusan salah yang fatal, tidak mampunya praktisi kesehatan berkomunikasi dengan pasien, dan berbagai permasalahan lain hinggap pada praktisi kesehatan termasuk perawat.

Fenomena yang terjadi sekarang ini, banyak sosok perawat diperankan dalam media televisi sebagai sosok yang seksi, tidak seronok dan tidak sopan. Bahkan tak jarang perawat merupakan seseorang yang menolak perawatan masyarakat kurang mampu untuk berobat di sebuah klinik maupun rumah sakit. Tidak hanya itu, pelaksanaan pelayanan keperawatan yang menunjukkan sosok perawat identik dengan sikap bingung dan sangat tergantung terhadap instruksi dokter kerap tercermin di media sinema.

Gigih (2012) menyebutkan bahwa persepsi tidak baik dari masyarakat dimulai dari perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, pemarah, kurang komunikasi dengan klien, serta kurang cepat menanggapi keluhan dari klien sehingga saat ini perawat masih dinilai belum dapat mencerminkan tenaga perawat yang profesional dan citra perawat belum sesuai dengan harapan masyarakat.

Namun, citra perawat di masyarakat saat ini masih rendah karena menurut masyarakat perawat identik dengan sombong, judes, tidak ramah. Hal ini didukung dengan penelitian Peluw (2007).

Dalam menanggapi citra perawat yang ada di masyarakat saat ini, organisasi keperawatan seperti Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mulai gencar melakukan uji kompetensi keperawatan sebagai penyesuaian standard profesi perawat sebelum perawat melakukan praktek ke masyarakat, sehingga masyarakat akan merasa nyaman terhadap pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh perawat. Selain itu,untuk menambah pengetahuan dan skill perawat, PPNI bekerjasama dengan institusi-institusi untuk menyelenggarakan sebuah seminar bagi perawat. Mahasiswa keperawatan pun juga melakukan kegiatan seperti perayaan hari perawat internasional, melakukan bakti sosial, serta mebantu dalam kegiatan tanggap bencana. (Gigih, 2012)

Perawat dan kaumnya tidak dapat tinggal diam dan harus menyikapi hal ini. Kaum intelektual semacam mahasiswa keperawatan dan praktisi akademisi seperti instruktur, dosen dan profesi keperawatan sendiri harus menunjukkan jati diri perawat yang sebenarnya untuk mengangkat citra yang sudah cukup lama suram tertutupi kabar buruk yang entah dengan sengaja maupun fakta ada di media yang di konsumsi masyarakat indonesia. Segala golongan keperawatan harus bahu membahu untuk mewujudkan citra perawat sebagai kaum yang dihargai dan layak diberikan penghargaan atas kinerjanya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa keperawatan untuk meningkatkan citra baiknya di media massa antara lain:

1. Memiliki akun sebagai freewriter atau jika memungkinkan penulis profesional di manapun medianya. Kini akun berita yang sering dimuat menerima lowongan penulis dari kalangan mahasiswa. Peluang tersebut dapat dijadikan sarana untuk mahasiswa keperawatn berekspresi dan ikut memikul kewajiban memperbaiki citra perawat di media massa. Terlebih di jaman sekarang banyak sekali media seperti blog, kompasiana, dan majalah kampus sebagai wahana berekspresi. Dengan adanya berita baik yang dimuat di media dan berasal dari kaum keperawatan yang beritanya akan valid, diharapkan masyarakat bisa membuka hati terhadap usaha kaum muda generasi perawat masa datang sebagai kaum yang terhormat.

2. Belajar dengan tekun dan berusaha berprestasi. Cara agar seseorang dikenal oleh masyarakat umum adalah dengan menarik perhatian. Sedangkan perhatian dapat didapatkan dengan cara prestasi. Selama ini mahasiswa keperawatan yang mayoritasnya adalah kaum hawa masih dipandang kurang berprestasi dalam bidang seni maupun olah raga. Karena masyarakat awam beranggapan bahwa perawat hanya berkutik di bidang akademis dan laboraturium praktik. Dengan banyaknya mahasiswa keperawatan yang berprestasi, maka hal tersebut koheren dengan meningkatnya citra baik perawat di masyarakat, utamanya jika dimuat di media massa.

3. Evaluasi diri dan senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kapasitas diri. Hukum fisika mengatakan kekuatan sebuah rantai, berikut ini:


Jika ada 10 mata rantai dan masing-masing rantai berkekuatan 10N, 9N, 8N, 7N, 6N, 5N, 4N, 3N, 2N, dan 1N, maka berapakah kekuatan rantai tersebut? Maka jawaban kekuatan rantai tersebut hanyalah 1N, yaitu kekuatan mata rantai terkecil yang merupakan kekuatan untaian mata rantai keseluruhan.

Jika dihubungkan dengan kasus di dunia keperawatan, maka ada banyak sekali perawat dengan kompetensi yang dimiliki perawat dari yang memberikan exellent services, biasa, maupun pelayanan yang buruk. Dengan adanya pelayanan perawat yang buruk, tentu saja akan mengakibatkan citra perawat di kalangan masyarakat utamanya melalui media massa akan buruk. Kita sebagai kaum terdidik dan intelektual harus dengan semangat untuk menjadi perawat yang handal, jangan sampai menjadi perawat dengan kompetensi dan kemampuan yang buruk.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Media massa sekarang ini mereprentasikan citra perawat cenderung pada kondisi yang buruk mengingat terbitnya berita mengenai kasus di dunia kesehatan, utamanya keperawatan.Upaya yang telah dilakukan oleh PPNI adalah dengan melakukan uji kompetensi keperawatan dengan standar kompetensi yang disetujui secara nasional agar setiap individu yang lulus akademisi keperawatan mampu memiliki kompetensi yang cukup sebagai bekal praktik langsung di dunia pelayanan kesehatan.

Mahasiswa keperawatan sebagai kaum intelektual dapat melakukan berbagai cara untuk turut meningkatkan reputasi atau citra perawat di media massa, diantaranya: memiliki akun media, berusaha untuk berprestasi dan senantiasa maningkatkan kapasitas diri.

B. SARAN

Perawat tidak dapat tinggal diam dan harus menyikapi buruknya citra perawat di media massa. Kaum intelektual seperti mahasiswa keperawatan dan praktisi akademisi seperti instruktur, dosen dan profesi keperawatan sendiri harus menunjukkan jati diri perawat yang sebenarnya untuk mengangkat citra perawat. Segala golongan keperawatan harus bahu membahu untuk mewujudkan citra perawat sebagai kaum yang dihargai dan layak diberikan penghargaan atas kinerjanya.

Posting dalam rangka melengkapi persyaratan mengikuti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Nasional oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (LKMM Nasional ILMIKI).
Maaf kalau ada tulisan atau gagasan yang kurang berkenan. Karena bingung kategorinya apa. Trims.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: