Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Metik Marsiya

belajar dari keterbatasan…. belajar dari ketiadaan Membaca dan memahami tulisan dongeng saya, harus dari selengkapnya

Banyak Konsumsi Obat, Bagaikan Tanah dengan Pupuk Non Organik

OPINI | 18 September 2012 | 17:27 Dibaca: 774   Komentar: 4   2

Kita mengenal pupuk organik dan pupuk non organik. Dalam praktek nya, saat ini petani lebih sudah dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik, yaitu pupuk yang berasal dari bahan-bahan organik, alamiah dan dianggap lebih bersahabat dengan tanah. Tanah yang diberi pupuk organik lebih subur karena banyak mengandung zat hara yang diperlukan oleh tanaman.

Pupuk organik mampu menyuburkan tanah dalam jangka panjnag, tidak berefek samping negatif, ramah lingkungan, tidak membahayakan kesehatan. Kelebihan berikutnya adalah tanaman yang dihasilkan tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berbahaya untuk tubuh manusia.

Berbeda dengan pupuk non organik. Pupuk non organik atau pupuk yang menggunakan bahan-bahan kimia jika digunakan dalam jangka panjang akan merusak struktur kimiawi tanah. Unsur-unasur hara menjadi berkurang bahkan hilang, sudah tidak alamiah lagi, mahluk-mahluk jasad renik sebagai bakteri pembusuk dan penyubur tanah juga hilang. Tanah gersang, tanah sepo, tanah tidak subur. Untuk membuatnya subur diperlukan kembali proses pengolahan kembali menjadi subur dengan menggunakan pupuk organik. Perawatan kembali secara alamiah, natural, mengembalikan kepada kondisi yang semestinya.

Uraian di atas adalah sekilas gambaran bahan kimia bagi tanah dalam jangka panjang. Ajaran agama menyatakan bahwa tubuh manusia terbuat dari tanah. Sering kita dengar bahwa manusia terbuat dari abu dan kembali menjadi abu. Dalam ajaran Ketuhanan YME juga ada pemahaman bahwa manusia terdiri dari 4 unsur alam yaitu tanah, air, api dan udara. Paham-paham tersebut bukan paham ilmiah yang dipakai di dunia medis, tetapi semua orang beragama meyakininya.

Selanjutnya kita bisa merasakan bersama akan menjadi seperti apa jika unsur-unsur alam yang alamiah akan diberi obat yang berbahan kimia dalam jumlah banyak dalam jangka waktu yang lama. Hal ini bisa dilakukan dengan air, tanah, dan udara yang mempunyai akndungan zat kimia di dalamnya dan membuat mereka akan mati dan tidak bisa berkembang dengan baik. Jasad-jasad renik inilah yang mempunyai sumbangsih besar dalam kehidupan seluruh kehidupan yang ada di alam. Kehidupan manusia, kehidupan binatang, tumbuhan, air, udara semua tergantung kepada keberadaan mereka. Mereka adalah asal muasal kehidupan yang akan menjadikan kita ada sebagai mahluk hidup.

Obat adalah bahan kimia yang diolah manusia dengan tujuan penyembuhan. Dalam jumlah sedikit dan saat yang tepat maka obat benar-benar akan menjadi obat, tetapi dalam jangka panjang maka obat bagi tubuh akan menjadi racun. Bahan kimia akan mematikan enzim-enzim di dalam tubuh. Enzim adalah analogi unsur hara di dalam tanah. Maka dibutuhkan kecerdasan untuk mensikapi proses pengobatan medis jangka panjang untuk penyakit-penyakit yang masuk kategoris tidak bisa disembuhkan dalam jangka panjang. Hal ini bisa diperhatikan secara keseluruhan kepada pasien penyakit jantung, asma dan diabetes.

Diperlukan diagnosa yang akurat terhadap penyakit yang diderita pasien. Pengobatan dilakukan dengan memberikan pupuk organik, eh salah obat-obat herba atau jika memang diperlukan boleh digunakan antibiotik. Saya masih bisa menerima jenis obat ini untuk tujuan jangka pendek, tetapi tidak untuk tujuan jangka panjang, karena antibiotik dapat dianalogikan sebagai penggunaan pestisida pada tanaman secara terus menerus. Bisa kita bayangkan akibatnya. Maka akan merusak keseimbangan tubuh secara struktur alamiahnya. Istilah biologi yang digunakan adalah rusaknya keseimbangan ekosistem kecil pada manusia.

Kadangkala, kelelahan adalah penyebab berbagai penyakit. Bisa jantung, flu, bathuk, pilek, lemas, pusing. Keleahan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit. Sama halnya seperti stres. Setiap orang mempunyai kerentanan berbeda-beda ketika mengalami kelelahan. Obat yang paling mujarab adalah istirahat. Bisa tidur, bisa rileks. Judulnya istirahat. Biarkan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri dengan antibodinya yang selalu kita jaga. Jika gangguan berlanjut setelah istirahat, silahkan hubungi petugas medis.

analogi istirahat adalah ketika kita mengalami luka gores di bagian tubuh luar, di tangan atau di kaki, biasanya bagian itu tidak kita gunakan. Selanjutnya tidak boleh basah kena air biar cepat kering. Maka luka itu akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu obat. Hanya mengkondisikan. Berbeda jika bagian yang luka itu tetap selalu digunakan untuk aktivitas dan basah, maka bisa infeksi, meradang, bisa membusuk. Demikian juga kira-kira yang terjadi apabila kita mengalami luka dalam. maka istirahat adalah bagian penting dari pengobatan. Indikasinya adalah rasa sakit.

Saya selalu menaruh hormat kepada seluruh petugas medis dan kesehatan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan tidak mengutamakan materi sebagai imbalan utamanya. Niat baik demi sesamanya. Penghargaan sebesar-besarnya kepada mereka yang telah memberikan yang terbaik untuk kemanusiaan.

Tubuh adalah keseimbangan, maka bagaimana tetap membuat keseimbangan dengan menjaga enzym-enzym, sel-sel dalam tubuh kita untuk tetap dijaga keberadaannya. Memelihara dan merawatnya, membuatnya tetap hidup dan bukan dihilangkan dengan racun-racun yang pada akhirnya benar-benar membuat organ yang diobati menjadi benar-benar tidak berfungsi.

Pengobatan adalah penyembuhan dan diharapkan bukan salah arah menjadi meracuni.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: