Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Didowardah

Hijab Stylist at: http://www.youtube.com/TheHasanVideo

Tiga Alternatif Wajib Pemanfaatan Minyak Jelantah Bagi Ibu Cerdas

REP | 21 July 2012 | 02:04 Dibaca: 6736   Komentar: 6   3

1342791920719679590

Lampu Senthir yang sedikit Kenthir :)

Sebagian masyarakat di tanah air boleh saja memilih menjalankan puasanya hari ini ataupun besok Sabtu (21/07), namun yang jelas untuk kenaikan harga sembako sepertinya tidak ada pilihan karena semuanya serempak sama. Bahkan sejak jauh-jauh hari mendekati bulan Ramadhan sembako dan barang-barang dagangan perlahan tapi pasti, undak berundak berebut harga pada level tertinggi. Sebagai pemangku dan pengatur keuangan keluarga, sosok Ibu rumah tangga harus benar-benar bijak membelanjakan uangnya. Terlebih bagi mereka dengan budget ajeg tapi pengeluaran harus membengkak disebabkan meroketnya semua harga menjelang hari raya. Menjadi kreatif dengan meminimalisir anggaran pengeluaran dan memanfaatkan barang maupun bahan pangan adalah salah satu dari sekian cara untuk sukses mengatur keuangan.

Kenyataannya memang ibadah puasa identik dengan perilaku konsumtif, terutama makanan. Walaupun sepanjang siang kita dituntut untuk tidak makan maupun minum, tapi lihatlah, sejak beduk maghrib ditabuh hingga tiba waktu imsak menjelang Shubuh berbagai suguhan makanan dan jajanan khas puasa dihidangkan. Dan pengolahan makanan tersebut tentunya tak luput dari penggunaan minyak goreng. Baik itu minyak goreng berbahan dasar sawit, kelapa maupun bebijian. Bagaimanapun, sah-sah saja mengkonsumsi makanan berminyak sepanjang tidak berlebihan dan tahu kiat sehatnya. Minyak yang tidak sehat akan berdampak buruk pada tubuh kita, dari sekedar kenaikan kolestrol, hipertensi hingga kankerpun siap mengintai.

Lebih-lebih dengan penggunaan minyak jelantah yang jelas-jelas tidak aman. Minyak jelantah alias waste cooking oil adalah minyak yang sudah pernah dipakai, sehingga sudah mengandung akrilamida, radikal bebas, dan asam lemak trans. Terlebih kalau warnanya sudah kecoklatan, dan teksturnya kental. Kalau dipanaskan lagi, semakin tinggi kandungan senyawa-senyawa karsinogenik tersebut di dalamnya. Tetapi sebenarnya, Ibu yang cerdas bisa menyiasati penggunaan minyak jelantah –yang tentunya setelah di proses- untuk dimanfaatkan kembali dan diberdayakan. Berikut ini mungkin pilihan yang bisa di sosialisasikan dikalangan ibu-ibu dalam pemanfaatan minyak jelantah.

MENDAUR ULANG. Minyak jelantah ternyata masih bisa di daur ulang sehingga bisa di pakai kembali dengan aman karena diproses secara alamiah. Caranyapun mudah, cukup dengan merendam ampas tebu dalam minyak jelantah. Ampas tebu disinyalir mampu menyerap warna keruh pada minyak jelantah sehingga jadi lebih bersih. Secara ilmiah, minyak rusak (minyak jelantah) dapat diperbaiki kualitasnya dengan pengolahan menggunakan bioabsorben. Salah satunya dengan mengunakan biomaterial ampas tebu yang terbukti dapat meurunkan kadar FFA (Free Fatty Acid) pada minyak tersebut. Pada kajian penelitian mahasiswa jurusan Kimia dari Universitas Andalas bernama Aisyah memaparkan bahwa kandungan FFA pada minyak rusak sebelum pengolahan sebesar 0,3555 persen dan setelah pengolahan melesat turun menjadi 0,1221 persen. Sementara menurut SNI 01-3741-2002 keamanan minyak yang boleh dikonsumsi setidaknya memiliki kandungan FFA maksimal 0,3 persen.

13427921381530165341

MINYAK JELANTAH: Pasca dan Pra pengolahan

BAHAN BAKAR KOMPOR. Pemanfaatan lainnya yang masih bersinggungan dengan manajemen rumah tangga adalah dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar untuk memasak. Sekarang ini kompor dengan bahan bakar minyak jelantah sudah beredar walaupun pemasarannya terbatas. Daripada setiap harinya kita harus membuang-buang minyak jelantah, yang ditengarai sangat membahayakan lingkungan, jadi tidak ada salahnya jika kita mencoba menggunakan minyak jelantah sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan untuk kompor masak. Kompor berbahan bakar minyak jelantah memiliki keseimbangan karbon dioksida netral sehingga aman digunakan dan tidak beresiko meledak, meski pembakaran tidak terkendali dan terkadang api mengecil-membesar tak beraturan.

Hanya saja, mungkin karena masih langka, harga yang ditawarkan per unitnya sekitar Rp. 300 ribuan. Sementara tampilannya memang terlihat cantik, dengan beragam pilihan warna. Bahkan saat saya melihat sendiri di rumah paman warnanya orange ngejreng persis gambar berikut ini.

13427922881174064831

Kompor dengan bahan bakar Minyak Jelantah

BAHAN BAKAR LAMPU MINYAK. Dan yang tak kalah simpel adalah dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai alternatif pengganti lilin. Di bulan Ramadhan ini bangun tengah malam adalah suatu keharusan, apalagi bagi para Ibu yang harus menyiapkan makan sahur untuk keluarga. Bagaimanapun tidak selamanya pihak PLN mau di ajak kompromi, sehingga di saat makan sahurpun terkadang listrik mak pet alias mati. Mungkin tidak menjadi masalah jika kita mempunyai persediaan cukup lilin namun bagaimana jika sebaliknya?

Seperti pengalamanku Minggu malam lalu (15/07) misalnya, selepas Isya ketika sedang asik-asiknya menekuri novel Historian- by Elizabeth Kostova ternyata mak jleb listriknya mati. Dan parahnya, disaat penasaranku memuncak untuk terus mengikuti alur cerita, tak sebatang lilinpun aku temukan dikamar kostan. Iseng-iseng sekalian percobaan, nekat kugunakan minyak jelantah sebagai bahan bakar untuk lampu minyak. Dan ternyata berhasil bahkan aku sempat sedikit nggumun demi melihat kapas dan jelantah gorengan gereh mampu menolongku dari kegelapan. Hehe..lebay.

Well, Orang Jawa biasa menamai lampu minyak sebagai lampu senthir atau ublik yaitu lampu sederhana dengan penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar. Namun kita semua mafhum jika keberadaan minyak tanah susah didapat dan tergolong mahal. Dan ternyata lampu ublik juga bisa kita buat dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif. Cara penerapannya pun sangat mudah. Yang kita butuhkan hanyalah korek, tutup kaleng biskuit, selembar kapas yang sudah kita padatkan dan kita pilin kuat-kuat dan tentunya minyak jelantah.

1342792492482990895

Saat dipadamkan, sumbu (pintalan kapas) tampak menghitam (Gb. 4)

Untuk membuatnya, pertama-tama kita tuangkan minyak jelantah secukupnya kedalam tutup kaleng. Kemudian kapas yang sudah kita pilin di masukkan tepat di tengah-tengah tutup kaleng. Sementara diamkan sebentar dulu, kita tunggu kapas merembes dan menyerap minyak (proses kapilaritas). Terakhir bakar kapas dengan korek api, pastikan bagian atas kapas tidak ikut basah oleh minyak jelantah sehingga mudah untuk dinyalakan. Kalau sudah menyala, artinya kita berhasil membuat lampu darurat yang ramah lingkungan lagi hemat. Bagi yang penasaran boleh langsung coba! :D

Selain tiga poin diatas, sebenarnya masih banyak manfaat lain dari minyak jelantah. Salah satunya bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif biodesel. Cukup dicampurkan ke solar dengan perbandingan tertentu, minyak jelantah bisa digunakan sebagai biodisel. Melihat banyaknya pilihan pemanfaatan dan pemberdayaan minyak jelantah, alangkah baiknya jika para Ibu di rumah tidak lagi membuang minyak jelantah sembarangan. Melainkan memanfaatkannya semaksimal mungkin sehingga sedikit banyak berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Dan tentu saja di lingkup keluarga, dimana kita bisa menghargai “sampah” untuk di olah kembali dengan tidak membiarkannya menjadi mubadzir di buang dan bahkan malah mencemari lingkungan. Bagaimana, ada yang mau mencoba?

SEMOGA BERMANFAAT,

13427936101878982574

Didowardah

13427926381819378695

Awesome Light!

Picts are taken from here and there, still the rests are private document.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 17 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 21 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 31 July 2014 09:31

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 31 July 2014 09:01

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: