Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Mas Abim

Bukan Siapa-Siapa

Gagal Ginjal Ternyata Bisa Sembuh

REP | 02 January 2012 | 20:22 Dibaca: 20401   Komentar: 33   1

“Sudah nyampe mas..!, ucapan halus khas orang Jawa Tengah, membuyarkan lamunanku, oh…iya…” jawabku agak kaget…” Kami nyampe sini aja mas…, soalnya di ruangan ini ada petugasnya sendiri…, ada dua orang juga…! Paparnya..,” masih dengan logat lokal yang ramah. “Oh iya…makasih ya mbak…” jawabku berusaha sopan.

“Bruk..” Pinggiran ranjang pasien beradu ringan dengan pinggiran pintu ruangan hemodialisa ini, kulihat tubuh adikku di atasnya agak sedikit terguncang, rasa kasihan kembali merasuki relung-relung hatiku yang terdalam, tak menyangka sesuatu yang dulunya hanya kudengar menimpa orang lain, akhirnya menimpa adikku tersayang, “Adik Anda Harus Segera Cuci Darah…” Bak disambar meteor di padang sahara dan di hujani tombak berjuta-juta, sewaktu pertama kali mendengar diagnosa dokter kala itu. Ahh..,kutahan air mataku yang mulai menetes, kucoba kuatkan diri menghadapi cobaan ini.

Seumur hidup aku tak pernah membayangkan akan masuk ke ruangan cuci darah ini, mendengarnya saja aku sudah ngeri, apalagi benar-benar memasukinya, tapi itulah takdir…,apalah daya, tak siapa orang boleh mengira, garis nasib siapa yang tahu..!. Sambil terus membantu mendorong, mataku mulai menjelajah, menyapu setiap sudut ruangan ini. Ruangannya cukup besar, dengan cat dinding warna putih khas rumah sakit pada umumnya, ditengahnya ada meja panjang permanen setinggi dada orang dewasa yang dibuat setengah melingkar, belakangan kuketahui bahwa meja itu berfungsi sebagai ruang kerja mini bagi petugas cuci darah di ruangan ini.

“Mas…tolong bantu keluarkan ranjang ini ya…, soalnya mau kita tukar dengan ranjang adek sampeyan…!, kata salah seorang perawat. “Oh iya mas…boleh..,” jawabku setengah terkejut. Setelah menukar ranjang, aku lanjutkan penjelajahanku terhadap ruangan ini yang tadi sempat terhenti. “1,..2,…3,….4 dan seterusnya, mataku mulai menghitung deretan mesin pengganti ginjal yang ada di ruangan ini, ada 6 di kiri, dan ada 7 di kanan, masing-masing dilengkapi ranjang pasien dan satu buah tabung oksigen. Satu lagi kekagumanku adalah pencipta alat dialisys ini, siapakah dia gerangan, sungguh suatu amal yang sangat berguna bagi banyak orang, semestinya pada setiap tabung dialyisis terpampang nama pembuatnya, sebagai rasa terima kasih dan penghargaan bagi pembuatnya.

“Permisi ya mas bima…!, Saya pasang selang ini ke dadanya ya mas…, kata perawat, adikku menjawab dengan anggukan yang lemah. Perawat lalu menyambung selang dengan selang yang terdapat di dada kanan adikku melalui klep yang bisa dibuka tutup, selang di dada itulah tadi yang dipasang melalui proses operasi ringan. Setelah semua selang terpasang, perawat lalu menjalankan mesin dialysis itu.

tekk..dimulailah proses pembersihan darah buatan manusia, sekejap selang-selang bening tadi berubah warna menjadi merah tua, memutar cairan kehidupan adikku, mengalir melalui saringan khusus yang bentuknya bulat panjang dengan diameter kutaksir kira-kira 8 cm dan panjang 35 cm. “Nah alat ini yang berfungsi menyaring sampah metabolisme dan air yang berlebih mas…”, tanpa kuminta perawat memberi penjelasan kepadaku sambil menunjuk saringan dialysis itu. “Nanti darah yang sudah bersih akan dikembalikan lagi ke dalam tubuh…

“Sederhananya begini mas…” perawat melanjutkan penjelasannya. Kita dapat menganalogikan ginjal sebagai sistem pembuangan limbah sekaligus teknologi daur ulang canggih yang bekerja non stop 24 jam sehari. Mendadak rasa lelah dan kantuk yang mulai mendera tadi seketika hilang demi mendengar penjelasan dari perawat ini, “Setiap jam suplai darah beredar melalui ginjal sekitar 12 kali dan membersihkan sekitar 200 liter darah, dengan sekitar 1 sampai 2 liter limbah meninggalkan tubuh sebagai urin…”

Aku mengangguk-angguk tanda menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sekilas kulirik adikku yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, nampaknya gambaranku selama ini tentang proses cuci darah yang menyakitkan itu ternyata salah. “Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein, berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. …” Paparnya lebih lanjut. Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal seperti pada adek sampeyan ini”

Sambil mencerna setiap kalimatnya yang menurutku penuh dengan istilah-istilah kedokteran yang tak semuanya kumengerti, dalam hati aku kagum dengan sosok perawat di depanku ini, bukan hanya sopan dan ramah, tapi juga paham akan hak-hak pasien untuk mendapat informasi yang tepat dan diperlukan mengenai penyakit seseorang, sebuah sosok tenaga medis yang sudah langka dan jarang sekali kutemui, bahkan oleh kebanyakan dokter sekalipun.

Sekelumit kisah di atas adalah kisah nyata, kejadiannya kurang lebih setahun yang lalu, hal itulah yang menyebabkan saya tak menempatkan tulisan ini di kanal fiksiana, karena walaupun pengantar di atas beraliran seperti cerita, namun kisahnya nyata bukan fiksi. Tapi bukan cerita di atas yang ingin saya tonjolkan di tulisan ini, tapi “Semangat” untuk sembuh dari dalam diri adik saya, semoga dapat mengispirasi orang lain yang bernasib sama untuk tidak mudah menyerah dalam “melawan takdir”.

Walaupun dalam perjalananya semangat adik saya ini turun naik, bahkan pernah mengalami titik terendah, maklum saja selain merupakan penyakit berat, gagal ginjal juga memberatkan kantong penderitanya, tentu sudah banyak testimoni yang kita dengar, betapa mahalnya ongkos maintenance penyakit ini. Tapi satu hal yang saya kagumi, adik saya tak pernah mengucapkan kata “lebih baik aku mati saja”. Sebuah kalimat yang acap saya dengar dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyakitnya.

Dukungan keluarga ternyata juga menjadi suplemen penyemangat yang cukup signifikan dikala adik saya agak down, tak tanggung-tanggung bahkan ibu saya yang sudah hampir uzur, sampai bersusah-susah hampir setiap hari, masih terbayang di mata tangan keriput ibu saya membersihkan daun sukun, kemudian mengeringkan, lalu merebusnya untuk diminumkan kepada adik saya. Walaupun daun sukun ini akhirnya tidak signifikan menjadi penyebab sembuhnya gagal ginjal adik saya, namun saya melihat kasih sayang dan perhatian orang tua lah yang menjadi salah satu faktor kesembuhan.

Apatah lagi Do’a, hampir setiap ba’da shubuh suara lirih isak tangis dari ibu dan saudara-saudara, menjadi “alarm” yang mampu membangunkan saya untuk menunaikan sholat dan seterusnya ikut mendo’akan. Entah berapa liter sudah air mata ibu dan saudara-saudara saya yang tumpah di setiap do’a mereka. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Tuhan menjadi “iba”, sehingga mengabulkan permohonan mereka.

Hari demi hari adalah hari yang berat, bayangan ajal menjemput semakin nyata saja nampaknya, bayangkan saja kadar kreatinin dan ureum bukan malah menurun, tapi terus meninggi, sehingga dokter memutuskan bahwa adik saya harus cuci darah seminggu dua kali. Namun saat keluarga mulai berputus harapan, adik saya ini justru menjadi self motivator sehingga semangat keluarga yang mulai kendor, terpacu kembali demi sebuah asa “adik saya harus sembuh”.

Entah sudah berapa macam obat yang ditelan dan sudah berapa orang “dukun” yang beradu ilmu untuk menyembuhkan adik saya ini, namun tak satupun yang membuahkan hasil, hingga suatu ketika pertolongan Allah itu datang, seseorang membagi sedikit pengalamannya, bahwa penyakit gagal ginjal Insya Allah bisa sembuh asal pasien mau disiplin dalam masa pengobatan tersebut.

Tiga bulan sudah adik saya menjalani “terapi” dan Alhamdulillah meskipun belum sembuh total, namun perkembangannya sungguh menakjubkan. Di awal-awal terapi memang perubahannya tidak terlalu signifikan, namun memasuki bulan kedua dan ketiga, perbaikannya sungguh menggembirakan.

Di bulan pertama jadwal cuci darah adik saya sudah bisa dikurangi, dari seminggu dua kali menjadi seminggu sekali. Memasuki bulan kedua rutinitas cuci darah menjadi dua minggu sekali, kemudian 3 minggu sekali dan alhamdulillah di awal bulan ketiga lebih jarang lagi, sudah menjadi sebulan sekali.

Jika adik saya tetap disiplin menjaga pantangan dan rutin mengkonsumsi makanan dan minuman yang dibolehkan saja, maka Insya Allah bulan-bulan berikutnya kegiatan yang membosankan tersebut (soalnya setiap cuci darah, butuh waktu 4 -5 jam), diharapkan menjadi 2 bulan sekali dan semoga akhirnya tidak diperlukan sama sekali.

Pantangannya setahu saya adalah selama terapi adik saya tak boleh mengkonsumsi nasi sekalipun dan lauk pauk seperti biasanya, karena mengkonsumsi nasi menurut orang yang baik tersebut, hanya memperberat kerja ginjal yang sudah kronis tersebut. Sebagai ganti karbohidrat, maka adik saya di anjurkan mengkonsumsi tepung talbinah.

Jujur saja, makanan dan minuman pengganti adik saya tersebut tidak bisa dikatakan murah, apalagi ukuran kantong keluarga kami. Namun kerjasama dan kebersamaan dalam seluruh keluarga yang bahu membahu membantu pendanaan, menyebabkan beban tersebut menjadi terasa agak ringan. Hal ini juga yang adik saya lihat, sehingga pernah suatu ketika ia berucap bahwa tidak akan mengecewakan semua pengorbanan orang tua dan saudara-saudaranya. Kesembuhan adalah harga mati bagi dirinya apapun yang terjadi, kecuali maut saja yang dapat merampas asanya tersebut. Walaupun sekarang adik saya terlihat sangat kurus (maklum saja hanya mengkonsumsi herbal saja), tapi fisiknya cukup kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Demikian testimoni dari keluarga penderita gagal ginjal kronis, saya tak menyebut secara rinci apa-apa saja herbal yang dikonsumsi adik saya, selain karena takut dianggap promosi, juga saya tak pasti betul, herbal mana saja yang sudah bekerja maksimal sehingga menurunkan kadar kreatinin dan ureum adik saya, selain itu saya sadar betul bahwa penerimaan/respon setiap individu pada sebuah obat atau makanan herbal, belum tentu sama reaksinya, terkadang diperlukan satu macam obat saja atau di lain kasus harus mengcombine-nya (mengkonsumsi bersamaan) obat herbal dan obat kimia.

Terpenting adalah lakukan semua ikhtiar sepanjang tidak melakukan praktek-praktek yang dilarang agama, kemudian tambahkan suplemen “semangat” baik dari diri penderita, lebih-lebih dari keluarga, karena dukungan moril sejatinya adalah obat yang paling mujarab untuk kesembuhan pasien.

Terakhir…pasrahkan semua kepada Allah, berprasangka baiklah kepada-Nya dan yakinlah bahwa Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuan kita.

Note: jika nanti adik saya sudah benar-benar sembuh, maka Insya Allah saya akan update lagi berita terbarunya…Mohon do’anya kepada semua Kompasianer di sini.Terima Kasih !

Kutulis larut malam…sembari menemani ibu yang tak pernah alpa sholat tahajjud mendoakan anaknya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Bait Rindu untuk Bapak …

Rizko Handoko | 7 jam lalu

PKB Inisiasi Aksi Walk Out di Sidang …

Nada Dwinov | 8 jam lalu

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | 8 jam lalu

Titik Pijat untuk Masuk Angin …

Radixx Nugraha | 8 jam lalu

Harapan Muhaimin Iskanddar Kandas …

Agus Salim | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: