Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Metik Marsiya

belajar dari keterbatasan…. belajar dari ketiadaan Membaca dan memahami tulisan dongeng saya, harus dari selengkapnya

Jalan di Tempat Efektif Sebagai Pengganti Jalan Kaki dan Bersepeda

OPINI | 26 December 2011 | 18:16 Dibaca: 1036   Komentar: 2   0

Olah raga sudah menjadi kebutuhan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Ada yang sudah menjadi rutinitas, ada yang melakukannya dengan terpaksa karena menderita suatu penyakit tertentu. Tetapi ada juga orang yang tidak beolah raga tetap sehat dan berumur panjang. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Pilihan jenis olah raga yang dipilih biasanya yang mudah, murah dan mempunyai efek maksimal. Sampai saat ini jalan kaki dan bersepeda masih menjadi pilihan pertama jika dihadapkan pada efektifitas dan biaya. Selain mudah dilakukan, biayanyapun murah.

Dahulu saya suka sekali berjalan kaki dan bersepeda. Di Jakarta saat siang bolong melakukan aktivitas ini pada siang bolong tidak mempunyai pengaruh pada warna kulit. Di Lapangan Auri Pancoran, menjadi tempat favorit melakukan kedua aktivitas ini. Kadang-kadang diselingi dengan main bola bersama anak-anak. Siang hari? siapa takut. Asyik.

Pada waktu di Yogya saya pindah di pemukiman di pinggiran kota. Situasi masyarakat yang guyub rukun membuat suasananya sangat berbeda ketika harus melakukan aktivitas ini. Ketemu dengan orang berhenti sejenak untuk sekedar saling menyapa, berkabar-kabari. Hasilnya, olah raga pun tidak berhasil mencapai tujuannya. Belum lagi dengan gonggongan anjing. Cuaca ?? Hmmm ini adalah masalah utama saya. Bagaimana tidak, begitu jam tujuh pagi matahari sudah bersinar terik, tanpa paparan matahari langsung saya  sudah langsung legam, apalagi beraktivitas di siang hari. Mengkilat deh kulitku. Olahraga harus dilakukan di Gym, dan saya masih belum nyaman dengan kondisi gym.

Hingga pada suatu ketika anak saya¬† yang sulung harus mengikuti pelajaran baris berbaris di sekolahnya, saya iseng-iseng mengikuti saat latihan di rumah. Dengan ketinggian rata-rata air, rutin dan kecepatan yang semakin cepat maka olah raga “jalan di tempat” sudah 6 bulan ini menjadi pilihan utama. Hasilnya, sejujurnya hasilnya lebih bagus dari jalan kaki dan bersepeda.

Analoginya menjadi seperti ini. Pada dasarnya syaraf perlu dilakukan gerakan. Rangsangan jalan ditempat lebih berefek menyeluruh pada seluruh bagian syaraf tubuh daripada jalan kaki dan bersepeda. Semakin keras tekanan dan semakin cepat gerakannya maka efeknya akan semakin besar, walaupun tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Ckckc… Capung Ini Harganya 48 Juta …

Muslihudin El Hasan... | | 20 December 2014 | 05:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 6 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 14 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: