Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Metik Marsiya

belajar dari keterbatasan…. belajar dari ketiadaan Membaca dan memahami tulisan dongeng saya, harus dari selengkapnya

Jalan di Tempat Efektif Sebagai Pengganti Jalan Kaki dan Bersepeda

OPINI | 26 December 2011 | 18:16 Dibaca: 993   Komentar: 2   0

Olah raga sudah menjadi kebutuhan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Ada yang sudah menjadi rutinitas, ada yang melakukannya dengan terpaksa karena menderita suatu penyakit tertentu. Tetapi ada juga orang yang tidak beolah raga tetap sehat dan berumur panjang. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Pilihan jenis olah raga yang dipilih biasanya yang mudah, murah dan mempunyai efek maksimal. Sampai saat ini jalan kaki dan bersepeda masih menjadi pilihan pertama jika dihadapkan pada efektifitas dan biaya. Selain mudah dilakukan, biayanyapun murah.

Dahulu saya suka sekali berjalan kaki dan bersepeda. Di Jakarta saat siang bolong melakukan aktivitas ini pada siang bolong tidak mempunyai pengaruh pada warna kulit. Di Lapangan Auri Pancoran, menjadi tempat favorit melakukan kedua aktivitas ini. Kadang-kadang diselingi dengan main bola bersama anak-anak. Siang hari? siapa takut. Asyik.

Pada waktu di Yogya saya pindah di pemukiman di pinggiran kota. Situasi masyarakat yang guyub rukun membuat suasananya sangat berbeda ketika harus melakukan aktivitas ini. Ketemu dengan orang berhenti sejenak untuk sekedar saling menyapa, berkabar-kabari. Hasilnya, olah raga pun tidak berhasil mencapai tujuannya. Belum lagi dengan gonggongan anjing. Cuaca ?? Hmmm ini adalah masalah utama saya. Bagaimana tidak, begitu jam tujuh pagi matahari sudah bersinar terik, tanpa paparan matahari langsung saya  sudah langsung legam, apalagi beraktivitas di siang hari. Mengkilat deh kulitku. Olahraga harus dilakukan di Gym, dan saya masih belum nyaman dengan kondisi gym.

Hingga pada suatu ketika anak saya¬† yang sulung harus mengikuti pelajaran baris berbaris di sekolahnya, saya iseng-iseng mengikuti saat latihan di rumah. Dengan ketinggian rata-rata air, rutin dan kecepatan yang semakin cepat maka olah raga “jalan di tempat” sudah 6 bulan ini menjadi pilihan utama. Hasilnya, sejujurnya hasilnya lebih bagus dari jalan kaki dan bersepeda.

Analoginya menjadi seperti ini. Pada dasarnya syaraf perlu dilakukan gerakan. Rangsangan jalan ditempat lebih berefek menyeluruh pada seluruh bagian syaraf tubuh daripada jalan kaki dan bersepeda. Semakin keras tekanan dan semakin cepat gerakannya maka efeknya akan semakin besar, walaupun tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: