Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Air Minum Depot Isi Ulang

REP | 24 June 2011 | 18:39 Dibaca: 2571   Komentar: 4   2

13088973641985346696

Air minum depot isi ulang sebenarnya banyak untung dan ruginya. Untung untuk penjual, dan rugi bagi konsumen. Sudah sering kali terjadi kesehatan terganggu gara-gara mengkonsumsi air minum depot isi ulang ini,  maka berhati-hatilah anda untuk mengkonsumsinya. Mengapa demikian ? itu sama saja anda meminum air mentah biasa. Benar adanya jika proses pembasmian kuman dan bakteri dilakukan, akan tetapi bukti nyata dilapangan menunjukan bertolak belakang, 180 derajat dari pamor yang selama ini disandangnya. Murah, terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. memang begitulah adanya, namun siap-siaplah kita akan bahaya sesudah mengkonsumsinya.

Terdapat perbedaan mendasar antara Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan Air Minum Depot Isi Ulang (AMDIU). AMDK dihasilkan melalui rangkaian proses pengolahan yang berstandar, selain dengan ozonisasi juga memakai fasilitas industri yang qualified, karenanya hampir seluruh AMDK memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan AMDIU tidak sebagus AMDK, baik dari proses pengolahan maupun pada jaminan kualitas hasil olahannya. Hasil penelitian kualitas 120 sampel AMDIU dari 10 kota besar di Indonesia oleh Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2002 lalu menemukan bahwa, kualitas air minum yang diproduksi oleh depot air minum isi ulang bervariasi dari satu depot dengan depot lainnya. Hasil penelitian itu juga mendapatkan, hampir 16 persen dari sampel tersebut terkontaminasi mikroorganisme, terutama bakteri coliform.

Sebenarnya persyaratan kualitas air minum (air yang aman untuk dikonsumsi langsung), termasuk AMDIU, diatur secara jelas dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, sedangkan persyaratan kualitas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di atur sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor SNI-01-3553-1996. Kedua jenis air minum itu, selain harus memenuhi persyaratan fisika dan kimia, juga mutlak memenuhi persyaratan bakteriologis. Air minum harus memenuhi tingkat kontaminasi nol untuk keberadaan bakteri Coliform dan bebas dari bakteri patogen lainnya.

Peristiwa terjadi tanggal 15 juni 2011. Ketika memasuki rumah sakit umum daerah Tanjung Selor Kab. Bulungan. Siapa sangka siapa menduga, bahwa pasien hampir 45 % terkena muntaber. Dan setelah diklarifikasi terhadap pasien rupanya alasan mereka sama. Mereka sakit setelah mengkonsumsi air minum isi ulang biasa. nah, mengapa demikian ?.

1. Air minum ini, di ambil dari air pasokan PDAM. Setelah di proses melalui mekanisme yang biasa dilakukan. Disini tidak ada resep jaminan air itu bersih dan layak di konsumsi atau tidak.

2. Air PDAM sendiri adalah air kotor, air sungai biasa. Tentu hal itu menjadi cerita tersendiri di setiap daerah yang mengkonsumsinya. Ada yang terkena limbah pabrik atau yang lain, ataupun bisa terkena kotoran-kotoran yang berada di sekeliling sungai.

3. Rata-rata kios-kios / warung air minum isi ulang ini. Mereka tidak memiliki ijin resmi dari instansi terkait.Oleh karena itu, anda jangan sampai salah pilih ?.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50



HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Pelangi Iris …

Putri Kodok | 8 jam lalu

Kodim 1708/BN Akan Bangun 20 Unit Rumah …

David Solossa | 8 jam lalu

Daftar Nama-nama Pahlawan Indonesia Tahun …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Perfilman Indonesia = Media …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

AKRAB Bersama BRI …

Muhamad Adib | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: