Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Iwan Sulistio Wibowo

maju terus dunia pers

Pentingnya Bermuraqabah

OPINI | 02 November 2010 | 06:04 Dibaca: 125   Komentar: 1   0

“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.”( Al-baqarah : 235 ). Alquran adalah kitab yang datangnya langsung dari Allah. Jika kita telaah dengan benar-benar firman Allah di atas, sebenar nya kita di beri pengetahuan oleh Allah bahwa sebenarnya Allah mengetahui apa-apa yang ada dilangit, di bumi, serta yang spesifik lagi yaitu yang ada di dalam hati kita. Seberapa dalam kita menyembunyikan sesuatu dari orang lain, sekalipun di dalam lautan yang sangat dalam, Allah akan tetap tahu. Kekuasaan Allah adalah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia lebih mengetahui semua dan segala ilmu yang ada di alam ini. Allah tidaklah asal-asalan dalam menciptakan Sesuatu, melainkan mempunyai tujuan, seperti yang telah Allah Firmankan ,

“Dan Dialah yang menciptakan semua langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arasyi-Nya diatas air, agar Dia menguji siapakah diantara kalian yang baik amalnya.”( Hud : 7 ). Itulah salah satu tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada-Nya, serta untuk diuji siapakah diantara kita yang paling baik amalnya di hadapan Allah. Untuk itu diperlukan suatu iman dan keikhlasan yang tulus untuk mencapainya. Dan yang tidak boleh kita tinggalkan adalah sikap yang akan selalu melindungi diri kita selama beramal tersebut, yaitu muraqabatullah. Muraqabah merupakan suatu iman yang melekat dan selalu ada pada jiwa seorang muslim yang selalu taat dan takut akan penglihatan dan pengawasan Allah. Seperti yang telah Allah sampaikan dalam Firmannya,

“ Dan Allah maha mengawasi segala sesuatu . . . .”( Al-ahzab : 52 )

Semestinya kita takut jika mendapat peringatan ini. Kita harus selalu mawas diri, karena pandangan Allah tidak hanya sebatas yang tampak saja, melainkan juga meliputi hal-hal yang tidak tampak dan kita tutup-tutupi. “Semestinya seseorang itu bermuraqabah sebelum dan sesudah beramal, apakah hawa nafsunya yang mendorongnya untuk melakukannya, ataukah hanya Allah Ta’ala yang mendorongnya secara khusus. Jika yang mendorongya adalah Allah, dia melanjutkannya, dan jika tidak, dia meninggalkannya. Inilah ‘ikhlas’.”

Saudara-saudara ku yang dirahmati Allah, melalui artikel yang sangat singkat ini, saya ingin mengajak saudara untuk menundukkan hati dan kesombongan kita, karena dimana pun kita berada, baik di darat, laut, maupun udara, pandangan Allah tidak akan sedikitpun lena dari kita. Tidak lah kita mencuri melainkan bahwa Allah melihat kita. Tidaklah kita membicarakan orang lain melainkan Allah menilai kita. Dan tidaklah kita bermaksiat melainkan Allah mengawasi kita.

By : Iwan Sulistio Wibowo ( Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: