Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Deditaba

Ikhtiar dan tawakal

orang pintar ke “orang pintar”?

REP | 25 October 2010 | 10:40 Dibaca: 286   Komentar: 2   0

saya mempunyai seorang dosen Lulusan Master dari USA tahun 1970an, pada suatu hari dia bercerita didalam kelas. beberapa bulan yang lalu telinganya kembali sakit akibatnya pendengarannya menjadi berkurang dan agak sedikit kurang konsentrasi. dia lalu mendatangi dokter THT ketika dokter memeriksa  dokternya bertanya,”telinganya pernah dioperasi ya?”, “iya dok waktu di Amerika”. rupanya telinga sang dosen waktu kuliah pernah di operasi, dan malangnya menurut dokter spesialis THT tersebut operasi telinga hanya bisa dilakukan satu kali (kesian juga ya jadi dokter THT, mending jadi dokter kandungan he he he), jadi ya gak bisa di operasi lagi. akhirnya sebagai solusi ya cuma dikasih obat penahan sakit.

“wah kacau juga”, pikir pak dosen ini, kalo begini saya bisa menderita seumur hidup, akhirnya ya dia minum obat saja. setelah beberapa lama dia bertemu dengan teman lama setelah speak2 dan keluh kesah, temanya menyarankan untuk menemui kiai di Cirebon untuk mengobati telinganya. “akh masa iya seorang kyai bisa menyembuhkan, sedangkan dokter spesialis aja angkat tangan”, pikirnya tapi ya udah agar tak membuat kecewa teman akhirnya dia datangi juga tuh kyai.

akhirnya sang dosen menaiki mobil BMW seri terbarunya,  maklum dia pejabat juga di Diknas jadi ya kaya he he he ,  menyempatkan waktunya untuk pergi ke cirebon menemui kyai yang kata temannya bisa menyembuhkan segala penyakit. singkat kata ketemulah dia dengan orang yang dimaksud, orangnya santai dan banyak juga yang antri. begitu bertemu dan mengutarakan maksudnya dia dilihat dan diurut dibagian leher dan kepala oleh pak kyai setelah itu dia bekali air putih untuk diminum (standar pengobatan orang pintar) dan jamu2an.

tanpa terasa telah tiga bulan pak dosen mengikuti saran pak kyai sakitnya mulai berkurang badanya sudah kembali normal, secara iseng dia datang kembali ke dokter THT itu setelah diperiksa dokternya heran, lah kok bisa pulih kembali ya, lalu sang dokter menyelidiki kemana sang dosen berobat, kaget juga ketika diberitahu bahwa dia datang ke “orang Pintar”, akh sebodolah apa kata orang akunya yang penting aku sembuuuhh.. dia membuat testemony ini di setiap kelas yang diajarkanya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: