Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Deditaba

Ikhtiar dan tawakal

orang pintar ke “orang pintar”?

REP | 25 October 2010 | 10:40 Dibaca: 283   Komentar: 2   0

saya mempunyai seorang dosen Lulusan Master dari USA tahun 1970an, pada suatu hari dia bercerita didalam kelas. beberapa bulan yang lalu telinganya kembali sakit akibatnya pendengarannya menjadi berkurang dan agak sedikit kurang konsentrasi. dia lalu mendatangi dokter THT ketika dokter memeriksa¬† dokternya bertanya,”telinganya pernah dioperasi ya?”, “iya dok waktu di Amerika”. rupanya telinga sang dosen waktu kuliah pernah di operasi, dan malangnya menurut dokter spesialis THT tersebut operasi telinga hanya bisa dilakukan satu kali (kesian juga ya jadi dokter THT, mending jadi dokter kandungan he he he), jadi ya gak bisa di operasi lagi. akhirnya sebagai solusi ya cuma dikasih obat penahan sakit.

“wah kacau juga”, pikir pak dosen ini, kalo begini saya bisa menderita seumur hidup, akhirnya ya dia minum obat saja. setelah beberapa lama dia bertemu dengan teman lama setelah speak2 dan keluh kesah, temanya menyarankan untuk menemui kiai di Cirebon untuk mengobati telinganya. “akh masa iya seorang kyai bisa menyembuhkan, sedangkan dokter spesialis aja angkat tangan”, pikirnya tapi ya udah agar tak membuat kecewa teman akhirnya dia datangi juga tuh kyai.

akhirnya sang dosen menaiki mobil BMW seri terbarunya,  maklum dia pejabat juga di Diknas jadi ya kaya he he he ,  menyempatkan waktunya untuk pergi ke cirebon menemui kyai yang kata temannya bisa menyembuhkan segala penyakit. singkat kata ketemulah dia dengan orang yang dimaksud, orangnya santai dan banyak juga yang antri. begitu bertemu dan mengutarakan maksudnya dia dilihat dan diurut dibagian leher dan kepala oleh pak kyai setelah itu dia bekali air putih untuk diminum (standar pengobatan orang pintar) dan jamu2an.

tanpa terasa telah tiga bulan pak dosen mengikuti saran pak kyai sakitnya mulai berkurang badanya sudah kembali normal, secara iseng dia datang kembali ke dokter THT itu setelah diperiksa dokternya heran, lah kok bisa pulih kembali ya, lalu sang dokter menyelidiki kemana sang dosen berobat, kaget juga ketika diberitahu bahwa dia datang ke “orang Pintar”, akh sebodolah apa kata orang akunya yang penting aku sembuuuhh.. dia membuat testemony ini di setiap kelas yang diajarkanya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Usul Mengatasi Kemacetan dengan “Kiss …

Isk_harun | | 21 September 2014 | 17:45

Menuju Era Pembelajaran Digital, Ini Pesan …

Nisa | | 21 September 2014 | 22:44

RUU Pilkada, Polemik Duel Kepentingan (Seri …

Prima Sp Vardhana | | 21 September 2014 | 23:11

Cerita Unik 470 Kata, Seluruh Kata Diawali …

Saut Donatus | | 22 September 2014 | 07:54

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 4 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 5 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya yang Berjalan Cepat, Atau Mahasiswa …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Membaca Konsep Revolusi Mental Gagasan …

Ahmad Faisal | 7 jam lalu

Konstitusionalitas Pemilukada: Paradoks …

Armansyah Arman | 7 jam lalu

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: