Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Metik Marsiya

belajar dari keterbatasan…. belajar dari ketiadaan Membaca dan memahami tulisan dongeng saya, harus dari selengkapnya

Tips Mencegah Tumor dan Kanker Payudara Secara Tradisional

OPINI | 07 October 2010 | 01:55 Dibaca: 3867   Komentar: 19   1

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya. Saat saya menulis tips ini umur saya sudah 35 tahun. Ketika SMA kelas 2 diketiak saya diketemukan kelenjar payudara yang mengalami pertumbuhan, sehingga pada waktu itu juga dilakukan operasi ringan. Ukuran kelenjar yang diangkat sebesar 6 cm x 3 cm x 1 cm.  Kejadian ini terulang kembali ketika saya sudah menginjak Tingkat III mahasiswa di sebuah program diploma keuangan.  Dan Operasi yang kedua kalinya dilakukan, volumenya memang lebih kecil dari yang pertama. Walaupun dokter yang mendiagnosa mengatakan itu jinak tetapi rasanya sakit setelah dioperasi membuat saya was-was.

Setelah lulus diploma III saya mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Pada waktu itu ada seorang teman berusia 46 tahun yang menderita kanker payudara stadium III dan telah dilakukan operasi pengangkatan payudara. Saat saya berkenalan teman saya tadi sedang bersiap-siap menjalani terapi pasca operasi yaitu paket kemoterapi dan penyinaran.

Sebut saja nama teman saya itu ibu Atun. Ibu Atun selama menjaga kesehatannya dengan melakukan penyembuhan medis dan non medis. Penyembuhan medis dilakukan dengan pemeriksaan rutin, penyinaran, kemoterapi dan operasi. Paket medis dilakukan secara lengkap sampai tahap akhir.

Sedangkan pengobatan tradisional yang dilakukan setiap pagi  meminum jus sayuran dan buah-buahan, pijat refleksi, jamu-jamuan, dan obat-obatan dari china. Kebetulan beliau mempunyai kemampuan ekonomis yang dapat menunjang pengobatan-pengobatan yang dilakukan.Dari kanker terdeteksi sampai meninggal beliau diberi kesempatan hidup selama 4 tahun.

Apa hubungannya dengan saya? Saya suka ikut menemani ibu Atun berobat tradisional dengan terapi pijat refleksi, menemani perawatan di rumah sakit, membantu membuat ramuan. Selama itu saya banyak belajar mengenai efek-efek dari terapi yang dilakukan.

Bukan hanya dengan ibu Atun saja saya belajar tentang kanker payudara, tetapi dari paramedis, terapis-terapisnya dan media komunikasi.

Berikut ini adalah rangkuman tips-tips yang saya dapatkan.

1. Pantangan makanan

Beberapa istilah terkait dengan pantangan makanan.

4 (empat) G  : Gorengan, gandum, gula dan Garam
3 (tiga )  P    :  Pengawet, Pemanis dan Perasa. Intinya 3 P adalah bahan kimia
3 (tiga) J      :   Jengkol, Jeroan, Jangan nget-ngetan ( Sayuran yang dipanaskan kembali)

Makanan yang tidak sesuai merupakan pupuk buat pertumbuhan tumor. Selajutnya saya akan memakai istilah tumor, karena sebenarnya kanker pada awalnya adalah tumor yang telah menjadi ganas. Saya tidak pernah pantang, dalam arti tidak makan makanan dalam golongan pantangan tersebut di atas  sama sekali. Saya hanya mengurangi jumlah konsumsinya, atau setidak-tidaknya menjaga keseimbangannya.
Seandainya masih ada pilihan lauk yang tidak jeroan dan gorengan saya memilih yang lainnya. Terutama 3  P. Bersyukur perut saya mempunyai batas toleransi seandainya kandungan yang tidak di ingnkan dalam jumlah ambang batas toleransi otomatis akan terasa mual dan muntah.

2. Makanan yang dianjurkan
Semua jenis sayuran dan buah
semua jenis jamu-jamuan dan herbal

Dianjurkan sayuran direbus atau diosenk saja dan dimasak setengah matang.

Pada  awal  tahun 1998 saya mengalami nyeri dada padahal saat itu tidak menjelang menstruasi sehingga saya melakukan pemeriksaan awal yang dilakukan pemeriksaan usg dengan diagnosa  pembengkakan kelenjar payudara. Deteksi dilakukan di Yayasan Qucala di Jl. TB Simatupang Cilandak Jakarta.  Dokter waktu itu menyarankan untuk mengurangi konsumsi jeroan, garam dan dianjurkan minum vitamin B setiap hari. Dokter menjelaskan bahwa pembengkakan kelenjar payudara adalah awal dari pembentukan tumor atau kista.

Dari deteksi awal itu selanjutnya saya melakukan terapi rutin refleksi dengan terapisnya Ibu Atun. Hampir sebulan sekali refleksi dilakukan secara rutin dengan tetap mulai menjaga pola makan seimbang tanpa jeroan. Selama 8 tahun refleksi rutin dan pengaturan makan dengan lebih banyak sayur dan buah penyakit ini hampir dikatakan belum pernah kambuh.

Tahun 2003  bapak terapis meninggal dunia, dimulailah serangkaian keluhan seperti pada tahap awal tahun 1998. Akhirnya berusaha menjadi vegetarian lacto ovo untuk memaksimalkan hasilnya karena menyadari belum ditemukan lagi  terapi yang pas. Saya mencoba terapi cheragem.  Kesulitan melakukan terapi ini adalah harus  dilakukan minimal 5 hari sekali, jadi masalah waktu menjadi kendala. Saya hanya melakukannya sekali-kali. Lumayan untuk capek dan masuk angin, membantu sekali.

Vegetarian selama 2 tahun membuat saya jenuh dan saya kembali pada pola makan biasa. Saya memperhatikan ada interval setiap 2 tahun sekali penyakit ini kambuh apabila saya lepas kontrol dengan pola makan. Bahkan akhir tahun 2009 sempat saya lakukan  kontrol lengkap sampai dengan mamografi ditemukan dua kista di payudara sebelah kanan. Tetapi saya mencoba lagi makan buah-buahan saja selama 7 hari terus menerus dengan konsumsi air putih akhirnya keluhan itu hilang lagi. Demikian seterusnya.

Saa tidak pernah melakukan pengobatan secara medis. Walaupun tetap ada prosentasi keberhasilan tetapi pada tahapan tertentu seperti kemoterapi dan penyinaran saya melihat efek samping yang ditimbulkan merusak susunan syaraf tubuh, sehingga untuk lebih susah mengembalikan tubuh agar bisa memproduksi antibodi buat dirinya sendiri. Setiap orang mempunyai pilihan untuk menentukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kebetulan saya memilih jalur alternatif dan bukan medis, walaupun kontrol dan diagnosanya dilakukan secara medis.

Dengan adanya penyakit ini mendorong saya belajar tentang alternatif. Hambatan melakukan terapi secara tradisional adalah perasaan jenuh dan bosan, makanya kita harus mampu melakukan variasinya. Berbagi pengalaman tentang berbagai terapi yang pernah saya coba.

1. Pijat Refleksi

Pemijatan dengan menekan titik syaraf simpul dari ujung jari dan kaki. Sebenarnya terapi ini cukup efektif apabila dilakukan oleh orang yang memang mampu. Tetapi maaf saya belum menemukan lagi yang lebih mampu dari almarhun pak Padma “Tubagus Sapta Dewa”.  Tetapi untuk penyakit yang disebabkan karena gangguan syaraf saya merekomendasikan cara ini. Misalnya migren, vertigo, syaraf kejepit.

2. Buah-buahan dan sayuran

Buah-buahan dikonsumsi dengan berbagai macam cara. Mulai dari blender, juicer, rebus, rujak, gado-gado ataupun dimakan langsung sebagai kudapan ataupun lalapan. Pada saat penyakit sudah sangat mengganggu maka terapi ini sangat dianjurkan. Hasil maksimal dapat dilakukan dengan juicer atau mengambil sari buah-buahan,bukan di blender. Jadi air perasan buah murni. Jika tidak punya juicer silahkan diparut dan disaring diambil airnya.
Jenis buah yang dapat dijuicer adalah apel hijau malang tanpa dikupas, anggur ungu, bengkuang, wortel, melon, semangka, timun dsb. silahkan sesuai dengans selera.
Sayuran jangan direbus terlalu lama. Pantangan adalah menghangatkan sayuran hijau.

3. Umbi-umbian

Jenis makanan ini dikonsumsi dengan cara direbus atau dikukus tanpa garam. Lumayan sebagai pengganti nasi, mengenyangkan dan masih ada rasa manisnya. Disediakan sebagai cemilan.

4. Puasa

Seagal macam puasa sesuai dengan agama dan aliran masing-masing. Bebas. Puasa sunah, puasa ngebleng, puasa ngrowot, puasa mutih, pati geni. papaun jenisnya diperbolehkan. Inti dari puasa adalah mengurangi makan, tertama garam gula dan makanan berbumbu lainnya. Hasilnya bagus sekali dalam hitungan 7 hari akan terasa perubahannya. Terapi ini yang paling sering saya pakai. Minimal 3 hari dalam sekali puasa. Lebih sering lebih baik. Semuanya sudah saya coba, hasil yang paling bagus adalah pati geni, hanya mengkonsumsi makanan yang tidak di masak. Minumnya air kelapa atau juicer.

5. Terapi cheragem atau batu giok.

Terapi ini hanyalah pendukung. Intinya tetap kembali apda pola makan. Tetapi mengurangi benjolan dan volumenya saja, tidak menghilangkan.

6.  Terapi Urine.

Terapi pendukung bukan penyembuh. Minum air seni minimal  1 gelas pagi hari bangun tidur.Rasanya tidak tega meneruskannya. tapi saya pernah melakukan terapi ini selama 1 tahun lebih, dan bukan hanya pagi hari tetapi sesempatnya. Hasilnya tubuh lebih langsing, fit, seperti minum dopingan, tidak gampang ngantuk. Terapi ini saya lakukan saat saya vegetarian. Jadi Rasanya enak, manis. Masalahnya hanya di baunya. Butuh latihan rasa yang luar biasa. Tetapi ini adalah terapi yang paling irit, praktis dan sederhana, sumber tidak pernah habis tanpa musim. Apabila tidak dilakukan kontrol makanan terutama jeroan, ayam potong, kue dan roti makanya rasanya akan asiiiiiin sekali bahkan beberapa kasus karena makan coklat rasanya pahit.

7.  Suplemen pendukung

Saya minum madu, vitamin b i***i (dalam kemasan botol kecil dengan butiran kecil, bukan merk lain khawatir terbuat dari bahan sintetis yang tidak dapat dicerna oleh tubuh), lemon tea dengan jeruk nipis berikut kulitnya yang direbus, air rebusan suruh, kencur, kunyit, temulawak, jahe, umbi daun dewa. Asal bisa mengolahnya bisa dibuat berbagai macam minuman segar yang menyehatkan.

8. Olahraga

Tidak ada pantangan jenis olahraga, lebih dianjurkan yang banyak mengeluarkan keringat untuk menjaga stamina tubuh.

9.  Stress

Pemicu nomor satu adalah stress, walaupun hal-hal yang di atas sudah dilakukan maka apabila tidak bisa mengendalikan stress maka si tumor ini tetap berkembang. Dan ini adalah pemicu saya yang paling sering terjadi saat ada tekanan emosional ataupun pekerjaan. belajar berpikir positif dan selalu mensyukuri apa yang ada adalah manajemen stress yang paling manjur. Penyakit bukanlah untuk disesali tetapi untuk diambil hikmahnya.

Pola makan yang dianjurkan adalah makanlah makanan yang mudah dicerba oleh tubuh. Karena makanan ini tidak akan meninggalkan residu di dalam tubuh. Kurangi makanan yang diolah terlalu lama misalnya daging, dodol, nangka. Jenis makanan yang terlalu banyak bumbu awetan misalnya sarden, dendeng, minuman kemasan.

Hidup yang saya jalani biasa-biasa saja. Makan dan beraktivitas seperti biasa, hanya dalam satu hari pasti ada yang saya lakukan salah satu dari tip-tip di atas. Misalnya hari ini minum jus saja, besok makan sayuran atau umbi daun dewa, begitu seterusnya. Saya bersyukur untuk semua yang telah saya alami sehingga saya bisa selalu belajar. Bahkan dalam keadaan seperti ini saya suka membantu mereka yang mengalami penyakit-penyakit ringan dan bisa menyembuhkan. Mereka tidak pernah tahu bahwa saya bersahabat dengan sesuatu yang bisa menajdi bom waktu setiap saat.

Setiap orang punya masalah, dan kebetulan bagian saya adalah penyakit-penyakit ini. Beruntungnya saya selalu ditemukan dengan orang-orang yang luar biasa yang mendampingi selama proses penyembuhan.Dapat diambil kesimpulan bahwa hidup bersama penyakit adalah mengidentifikasi sifat dan karakteristik makanan yang sesuai kemudian menjaga polanya. Selanjunya mencari lagi apa yang bisa menyembuhkannya.

Banyak jenis makanan yang bisa kita makan tergantung bagaimana kita mengolah dan memvariasinya agar tidak membosankan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 11 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 12 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 15 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 16 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 11 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 11 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 11 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 11 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: