Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Abdul Adzim

Belajar menulis dan berbagi informasi

Antara Pengobatan Medis dan Alternatif

OPINI | 04 October 2010 | 08:56 Dibaca: 1160   Komentar: 1   0


Perkembangan dunia kedokteran di Negeri ini sangat mengembirakan. Sebab, dari tahun ketahun jumlah rumah sakit semakin bertambah. Tehnologi semakin tinggi dan canggih. Tenaga medis juga semakin banyak, seiring dengan semakin banyaknya Fakultas Kedokteran. Menurut sebuah sumber, saat ini jumlah Fakultas Kedokteran sudah mencapai 70-an. Tidak menutup kemungkinan ditahun-tahun mendatang semakin bertambah banyak. Logikanya, berarti semakin mudah dan murah biaya pengobatan. Yang masih tetap mahal mungkin obatnya. Sebab, sampai saat ini masih banyak mafia obat. Sehingga obat masih banyak yang belum terjangkau oleh pasien yang berpenghasilan rendah aliyas miskin.

Di dalam dunia pengobatan, telah dikenal dengan pengobatan medis dan alternative dan herbal. Biasanya, pengobatan medis itu ditangani langsung oleh dokter umum atau spesialis. Sedangkan alternative itu ditangani oleh dukun (tabib), atau dukun tiban, seperti;Ponari. Ada pertanyaan, kenapa baju dokter itu harus putih-putih? Sang dukun-pun menjawab’’agar supaya ada bedanya antara dukun dan dokter’’. Jawaban sang dukun ia terkesan guyon, tetapi bermaksud meledek dirinya yang dianggap bahwa pengobatan tersebut tidak ilmiyah.

Saya memiliki teman yang memiliki ke-ahlian mengobati berbagai penyakit dengan Air AQUA dan mantra-mantra tertentu (doa). Pasiennya luar biasa. Mulai ujung barat sampai timur, hingga Malaysia, Singgapura. Karena dia teman, maka saya sering datang hanya sekedar tanya-tanya seputar pengobatan. Bahkan, salah satu pasien dari Malaysia menjadi sahabat saya.

pernah suatu ketika, seorang pegawai kampus negeri datang bersama cucunya berobat ke- tabib tersebut. Setahu saya Ibunya seoarng dokter, karena sering bertemu. Dengan nada bercanda saya memberanikan diri bertanya;’’ Pak….kenapa cucunya kok malah dibawa ke-tabib, ibunya kan seorang dokter? Dengan enteng, ia menjawab:’’ saya takut, cucu saya terlalu sering minum obat-obatan yang berbau kimia’’.

Cerita lain, kebetulan orang dekat saya tekena batu ginjal. Setelah diperiksa kedokter spesialis, keputusanya harus dioperasi. Kebetulan, beliau orangnya takut sama jarum suntik. Apalagi di operasi. Bukan karena tidak bisa membayar, karena beliau tergolong cukup dari segi financial, anaknya juga dokter. Ahirnya, datang kepada temenku yang ber-profesi tabib. Dengan ijin tuhan, batu ginjalnya bisa dikeluarkan. Selanjutnya dibawa ke-lab. Dan Alhamdulillah, sekarang sehat dan bisa ber-aktifitas. Sudah sepuluah tahun, tidak ada keluhan lagi.

Ini membuat saya semakin ingin tahu. Karena saya tidak pernah berobat, jadi wajar jika ingin tahu rahasianya. Ahirnya saya tanyakan kepada rekan-rekan, dan juga bertanya langsung kepada yang bersangkutan (tabib) dan juga pasien yang sudah sembuh. Ternyata, kebanyakkan pasien yang menderita batu ginjal 90% sembuh. Sedangkan penyakit yang lain, adakalanya cocok, adakalanya juga tidak. Yang menarik lagi, anak saya yang masih berusia 4 tahun sakit gigi. Berhari-hari sakit gigi. Kalau sedang kambuh, pas malam hari….oooooh..bisa ngak tidur sepanjang malam. Cuapek puol…… Dua hari kemudian, saya baya ke tabib. Setelah dielus-elus pipinya dengan mantra (do’a) al-Hamdulillah sembuh. Sekarang tinggal merawat dengan rajin sikat gigi dengan sensodine.

Mungkin karena telah menjadi sebuah kebiasaan. Saya sering mendatangai pengobatan alternative, walaupun tidak sakit, hanya sekedar mengetahui. Bahkan ada niatan menulis ‘’Ensiklopedia Pengobatan Alternatif’’. Ahir-ahir ini, saya mendatangi pengobatan alternative di Malang Timur. Kebetulan, masih ada ikatan family. Betapa kagetnya. Pasien yang datang pada waktu itu benar-benar mengejutkan. Setelah duhur saya datang. Kemudian pada jam 15.00 saya ngobrol sebentar. Hingga pukul 16.00 belum ada tanda-tanda pasien surut. Selanjutnya saya bergegas pulang.

Esok harinya orangnya bilang. Untung sampeyan pulang, sebab yang antre kemarin itu hingga menjelang subuh. Dalam hati saya, mengatakan’’kalau ini bukan sekedar tabib’’. Tabib yang satu ini kebanyakan menggunakan ramu-ramuan, seperti kunir, asem, akar-akaran, dedauan. Beliau sempat cerita, pernah berpuasa Ngrowot selama 21 tahun. Buka puasanya hanya Air dan dedauan. Dan ternyata, beliau memiliki kelebihan dibidang pengobatan herbal ala beliau. Beliau bukan termasuk Konsultan Spiritual. Jadi, yang datang disitu mulai yang sakit fisik, sampai sakit hati. Mulai yang miskin sampai yang kaya. Mulai dokter sampai pasien.

Yang mengherankan, bagi yang sakit Ginjal, Kanker Prostat, dan penyakit lain, ternyata media pengobatanya menggunakan Air AQUA. Ini sungguh mengejutkan. Hampir semua pengobatan alternative yang saya datangi, kebanyakan menggunakan Air Aqua. Lantas, saya mencoba mengobarak abrik rahasia Air dari segi sejarah, agama, hingga medis, dan hasil penelitian terkini.

Rahasia Air

Di dalam sebuah kisah, telah diceritakan bahwa sungai Niil pernah mengalami surut. Pada masa itu, Amr Ibn al-Ash adalah seorang Gubernur yang menguasi wilayah Mesir. Suatu ketika, suangai Niil tiba-tiba menjadi kering. Masyarakat yang tinggal disekitanya tidak bisa mengairi perkebunan dan ladangnya. Kondisi ini membuat masyarakat gelisah, karena mereka tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang disebabkan sunggai Niil menjadi kering. Bagi pemerintah, ini menjadi masalah serius, yang harus segera dicarikan jalan keluar (solusinya). Beberapa tokoh waktu itu sepakat, agar sunggai Niil kembali semula, maka perlu diadakan sesaji (ritual mistis). Yaitu dengan cara mengorbankan salah satu gadis perawan yang dilemparkan ke-sunggai. Cara ini diharapkan mampu mengembalikan Air sunggai Niil seperti semula.

Informasi ini mulai berkembang dikalangan masyarakat. Amr Ibn al-Ash selaku pimpinan tidak tinggal diam. Amr mengatakan bahwa ini adalah perbuatan syirik yang menyekutukan Allah, dan hukumnya dosa besar. Amr melanjutkan, jangan sekali-kali mengorbankan manusia, karena ini adalah prilaku orang-orang Jahiliyah sebelum islam. Amr Ibn Al-Ash mengusulkan agar supaya ini dilaporkan kepada pimpinan pusat, yaitu Amirul Mu’minin Umar Ibn Al-Khattab yang berada di Madinah al-Munawarah.

Dengan tidak menunggu lama. Umr Ibn al-Ash mengabil secarik kertas dan menuliskan sebuah surat kepada Amirul Mu’minin. Setelah surat itu sampai ditangan Umar Ibn al-Khattab, beliau r.a membaca dengan penuh seksama, dan mendalami persoalan yang sedang dihadapi oleh rakyat Mesir yang dipimpin oleh Amr Ibn al-Ash. Tidak lama kemudian, Umar menuliskan sebuah surat balasan agar agar disampaikan kepada Amr Ibn Al-Ash r.a. Sang utusan (Najab r.a) itu tidak mengetahui perihal isi surat Umar Ibn al-Khatab. Hanya saja, Umar berpesan kepadanya, agar supaya Amr Ibn al-Ash melemparkan surat itu kesunggai Niil.

Sang utusan segera kembali menuju Mesir untuk menghadap Gubernur Amr Ibn al-Ash r.a. Sesampainya di Mesir, sang utusan itu menghadap Sang Gubernur dengan membawa surat balasan dari Amirul Mu’minin. Setelah membuka surat balasan itu, Amr Ibn al-Ash sangat terperanjat, karena ternyata balasan itu bukan tertuju kepada dirinya, melainkan terhadap Air yang mengalir di sungai Niil. Isi surat itu sebagai berikut:’’

بسم الله الرحمن الرحيم, من عبد الله عمر بن الخطاب إلى نيل مصر المبارك, أما بعد : فإن كنت تجري من قبلك فلا تجري, وإن كان الله تعالى الواحد القهار يجريك, فنسأل الله تعالى أن يجريك.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan lagi maha penyayang. Dari hamba Allah Umar Ibn al-Khattab ditujukan kepada Sungai Niil Mesir yang penuh berkah. Selanjutnya, jika engkau (air) mengalir karena kehendakmu sendiri, jangalah mengalir. Jika Allah yang maha perkasa menghendakimu mengalir, kami memohon kepada Allah agar supaya mengalirkan kembali engakau (sunggai Niil)[1]

Tanpa mengambil waktu, Amr Ibn al-Ash bergegas menuju sungai Niil yang sedang surut. Selanjutnya, Amr Ibn Al-Ash melemparkan surat itu kedam sungai Niil. Selang beberapa saat, ketika senja tiba, menjelang malam, ternyata Air yang ada di sunggai itu sedikit-demi sedikit mulai naik, dan akhirnya kembali pada semula. Ternyata, ke-sholihan, ke-ihlasan, serta kebersihan hati Umar waktu menulis sebuah pesan yang ditujukan terhadap Air telah direspon dengan baik. Air-pun menerima pesan, dan kembali seperti semula.

Itulah kekuatan Air, sebagaimana hasil penelitian Prof Asal Jepang yang bernama Emoto, Masaru. Menurutnya, Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air Menurut banyak riset, sebagaimana dikemukakan Massaro, ternyata kadar Air dalam tubuh manusia kira-kira 70 %. Bahkan, ketika masih di dalam kandungan, manusia memulai hidup sebagai janin yang 99% adalah Air. Dan ketika dilahirkan, yang keluar 90 % adalah Air. Sedangkan ketika manusia menjadi dewasa, 70 % tubuh terdiri dari Air.[2] Dan jika manusia mati dalam usia lanjut (lansia) kemungkinan kita adalah 50 % Air. [3]


[1] .Muhammad Ridho, 2004. Al-Faruuq Umar Ibn al-Khattab (Darul Hadis- Al-Qohirah-Mesir) hlm 156.

[2] . Emoto, Masaru, 2007. The Hidden Messages in Water (Gramedia-Jakarta) hlm XV

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 12 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 12 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: