Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Gunawan Eswe

Insan biasa yg mencoba berbagi hal2 melingkupi kita walaupun kecil namun insyaAllah ada manfaatnya.....

Yoga, Olahraga atau Terapi?

OPINI | 28 September 2010 | 03:58 Dibaca: 483   Komentar: 0   0

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern saat ini, seseorang mudah sekali kehilangan harmonisasi antara jiwa dan pikiran sehingga kerap didera stress. Ujung-ujungnya, tubuhnya pun menjadi rentan terhadap penyakit. Bagaimana mengantisipasinya?

Bila kesehatan fisik bisa ditunjang dengan makanan kesehatan, maka untuk membangun ketenangan pikiran tak ada salahnya Anda melirik Yoga, yang sejak dulu kala sudah dikenal sebagai metode yang ampuh untuk menyelaraskan kembali tubuh, pikiran dan jiwa. Yoga bisa menjadi satu alternatif menjaga kebugaran tubuh tapi tak ingin mendapatkan risiko cedera.

Yoga adalah terori dan praktik dari sistem kesehatan menyeluruh (holistik) yang terbentuk dari kebudayaan India kuno sejak 3000 SM lalu. Praktik Yoga menitikberatkan pada penyatuan pikiran, tubuh dan jiwa, serta membangkitkan koneksi antara manusia dan lingkungannya. Menurut Yudhi Widdyantoro, instruktur yoga dari Anahata Wellness Center, Jakarta, “Yoga atau yuj dalam bahasa Sansekerta kuno berarti union (penyatuan). Penyatuan antara body, mind, soul, spirit, antara atman dan brahman (yang maha kuasa). Intinya, dengan yoga seseorang dapat mengenal lebih baik tubuhnya, sekaligus Tuhannya.”

Lanjut Yudhi, “Bicara kebutuhan, tubuh butuh sehat. Sehat itu tidak hanya tidak adanya penyakit dalam tubuh, tetapi berfungsinya organ dalam tubuh semestinya/normal. Dalam yoga, setiap gerakan memiliki efek terapi atau fungsi dan manfaat masing-masing untuk organ tubuh kita. Sementara untuk pikiran butuhnya tenang, tidak nggamblyar ke mana-mana (konsentrasi).”

“Yoga, bukan sekadar pose/gerakan yang sering kita lihat dalam majalah. Tapi juga bagaimana mengatur pernapasan serta yang paling penting adalah nilai-nilai luhur yang dikenalkan saat seseorang mulai belajar gerakan Yoga,” kata Yudhi. “Saya sendiri terpacu menekuni Yoga bermula saat ayah saya meninggal akibat penyakit pernapasan. Sejak itu, saya bertekad lebih sehat dengan mengikuti sebuah perguruan silat. Saya juga belajar meditasi untuk mempercepat harapan saya itu. Eh, malah dikenalkan Yoga, oleh seorang guru Yoga,” papar Yudhi.

Semua orang, dari anak-anak hingga manula dan perempuan hamil, bisa melakukan yoga. Karena itu, Yudhi menyarankan agar pelaku yoga tidak terlalu memaksakan suatu gerakan yoga. “Gerakan yoga sangat banyak variasinya, mulai dari yang sederhana, hingga yang sangat rumit. Gerakan yoga harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sang murid dan sang murid harus mengikuti petunjuk dari instruktur,” tutur dia. Gerakan Yoga dilakukan dengan prinsip batas antara nyaman dan tidak nyaman. Jika merasa tegangan tubuh meningkat, artinya Anda terlalu memaksa tubuh. Tubuh akan memberi sinyal untuk meregang lebih jauh saat ia telah siap.

Yudhi berpesan, siapapun yang melakukan yoga perlu dipandu oleh seorang yogi atau guru yoga. Yogi akan memandu para pemula, memberi pengetahuan tentang gaya hidup sehat, serta mampu memberi bimbingan ketika bermeditasi.

Fakta dan Manfaat Yoga

Penelitian membuktikan bahwa Yoga sangat efektif untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan emosi. Steffany Haaz, MFA, CMA, dari John Hopkins University, menyatakan Yoga dapat meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, memperpanjang napas, dan menciptakan keseimbangan. Selain itu, Yoga pun dapat membangun pikiran positif dan menekan perasaan-perasaan negatif (misalnya, perasaan khawatir dan agresif).

Peneliti di Amerika membuktikan, latihan yoga teratur dapat memulihkan kondisi tulang belakang yang tidak normal. Terhadap 101 responden yang menderita penyakit tulang belakang akut, ditemukan fakta kondisi mereka berangsur membaik setelah mengikuti terapi yoga teratur selama 12 minggu. Meskipun tingkat kesembuhannya bervariasi sesuai dengan rutinitas latihan masing-masing orang, namun latihan yoga terbukti memberikan hasil yang lebih cepat dibanding metode terapi lainnya.

Menurut kepala proyek penelitian ini, Dr. Karen J. Sherman, “Dampak penyembuhan itu sangat dimungkinkan karena latihan yoga tidak hanya mengutamakan unsur fisik semata, namun juga melibatkan ketenangan batin dan pikiran. Namun, sebaiknya mereka membatasi diri pada gerakan-gerakan yang sederhana dan ringan saja. Tidak perlu melakukan gerakan yang sulit, karena dikuatirkan kondisi penyakitnya malah jadi semakin parah.”

Menurutnya, yoga yang lebih memfokuskan pada kesinambungan antara gerakan tubuh, pernapasan dan konsentrasi pikiran adalah yang paling bagus diterapkan, karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan fisik setiap orang. Sehingga, para penderita sakit tulang belakang akan lebih peka terhadap gerakan dan posisi badan yang benar setahap demi setahap. Itulah kunci awal dari kesembuhan mereka.

Beberapa gerakan yoga dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan seksual yang lebih baik. Dengan otot-otot tubuh dan persendian yang lebih lentur, membuat pasangan dapat melakukan berbagai posisi seks dengan lebih mudah. Gerakan yoga yang membuka dan mengencangkan pinggul membantu rangsangan tepat ke arah G-Spot. Dan yang perlu Anda dan pasangan lakukan adalah menambahkan gerakan-gerakan yoga seks ini dalam jadwal latihan Anda.

Ingin membuktikan sendiri tentang Yoga ini? Apakah Yoga sekadar olah raga, teknik relaksasi/meditasi, atau bahkan terapi penyembuhan, tak ada salahnya ada mencoba dengan niat yang positif… (dari berbagai sumber)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 6 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: