Back to Kompasiana
Artikel

Alternatif

Arie M Dhirganthara

penggiat sosial dan seni.

Pengaruh Sistem Pemerintahan Negara terhadap Kepemimpinan Adat “Amma Towa” dan Eksistensi Ada’ Lima Karaeng Tallua di Tanah Adat Kajang

OPINI | 28 September 2010 | 01:51 Dibaca: 505   Komentar: 1   0

(tulisan ini adalah hasil dari riset)

Kajang adalah suatu praktek kebudayaan. Jika peradaban dipersepsikan mengikuti dimensi hubungan sosial sedangkan persepsi menurut pengertian “kebudayaan” mengikuti dimensi individual artinya penguasaan ilmu pengetahuan dan kesenian adalah penyempurnaan budi manusia. Kajang dipersepsikan sebagai sebuah kognisi penganut dan pelaksana pasang.Bergulirnya waktu dan perubahan zaman tentunya melibatkan pula berbagai interaksi-interaksi dan beragamnya pula interpretasi tentang segolongan pemahaman yang telah dimiliki sebelum-sebelumnya.

Amma Towa dalam kebudayaan Kajang merupakan orang yang ditunjuk oleh Tuhan yang dalam kepercayaan “Patuntung” disebut Tu rie Arana. Amma Towa adalah pelaksana pasang secara berkelanjutan dan dapat digantikan setelah mangkatnya atau setelah Alinrung.

Amma Towa bertugas sebagai penegak hukum sebagaimana dipesankan dalam pasang ri Kajang. Komunitas adat Kajang menerapkan ketentuan-ketentuan adat dalam kehidupan sehari-hari yang mengatur pola hidup, sinergitas alam dan manusia, spiritualitas transendensi dan sebagainya. Ketentuan adat yang diberlakukan di wilayah adat Ammatoa Kajang diberlakukan kepada seluruh komponen komunitas, tanpa kecuali. Ketentuan ini berlandaskan pesan leluhur dalam pasang adalah hal mutlak dan tidak dapat disepelehkan bahkan diingkari oleh komunitas. Dijalankan secara turun-temurun. Ketentuan adat ini dipandang sebagai sesuatu yang baku (lebba) yang diterapkan kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran akan mendapat sanksi. Sikap tegas (gattang), jujur (lambusu), taat, (pisona) sabar (sabbara) sebagaimana disebutkan dalam pasang yang berbunyi: ‘Anre na‘kulle nipinra-pinra punna anu lebba‘ Artinya : Jika sudah menjadi ketentuan, tidak bisa diubah lagi. Lambusunuji nukaraeng, gattannuji nu ada, pisonanuji nu sanro, sabbaranu nu guru. Ini merupakan suatu titah yang wajib dilaksanakan oleh setiap dititipkan amanah.

Seiring dengan berubahnya zaman serta bergantinya sistem, pada tahun 1959, UU No. 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II di Sulawesi. Memekarkan daerah Bantaeng menjadi empat bagian. Salah satunya adalah Bulukumba yang mana di dalamnya adalah kecamatan Kajang yang berubah status dari distrik menjadi kecamatan. Hierarki tesebut memetakan komponen pemerintahan dan komunitas adat dalam satu sistem nilai yang berjalan secara linear. Kajang terbentuk menjadi kecamatan sekaligus memboyong pemerintahan adat Amma Towa ke dalam sistem Negara. Pola struktur dari Karaeng Tallua tetap dengan mekanisme yang sama. Camat kemudian menjadi Karaeng Kajang, wakilnya menjadi Sullehatang dan Putera camat Kajang dijadikan anak Karaeng.

Hal ini berlaku sampai pemerintahan Sahib Dg Matutu sebagai Camat Kajang yang kemudian berakhir dengan penolakan camat selanjutnya untuk dilantik oleh Amma Towa sebagai ( Labbiria ) Karaeng Kajang Periodeisasi ini dapat juga dikategorikan sebagai fase-fase ketidak harmonisan dalam struktur ada’ lima karaeng tallua. Salah satu resistensi dan pengabaian dari fungsi tersebut dalam adat dapat dilihat pada penolakan pelantikan salah satu camat yang hendak dilantik sebagai labbiria oleh Amma Towa (Andi Muh. Zain BA) Camat Kajang.

Menjadi suatu dilematika antara kewajiban besar menjalankan regulasi aturan negara dan ataukah menjalankan prinsip adat terhadap masyarakat. Begitu pula apa yang nampak pada tugas yang diemban para kepala Desa yang berada dalam wilayah adat. Masing-masing mengalami dwifungsi, disatu sisi sebagai pelaksana/pejabat negara yang menjalankan aturan Negara, juga sebagai pelaksana pasang yang telah dianugrahkan padanya sebagai ada’ limaya.

Pada periode terakhir ini adalah munculnya dualisme kepemimpina Amma Towa. Dualisme tersebut juga melahirkan resistensi hingga meninggallnya Puto Bekkong (Amma Towa) versi lain. Hal tersebut masih ditengarai oleh masing-masing dari kedua unsur pemimpin tertinggi, juga memiliki struktur adat baik itu kubuh Puto Bekkong maupun Puto Palasa. Klaiman atas legalitas keberadaan mereka sebagai pemimpin (Amma Towa) dibuktikan dengan tetap berdirinya struktur adat pada ke duanya. Ada’ limaya dan karaeng tallua tetap dihadirkan di masing-masing yang mengakui dirinya sebagai yang terpilih dalam ritus Appangandro (ritus pemilihan Amma Towa) baik adat yang diangkat langsung oleh Amma Towa (dua versi ini) atau ada’lima karaeng tallua yang kerap berposisi netral dan seolah tak memihak.

Berdasarkan probelematika tersebut, peneliti kemudian tertarik untuk mengkaji secara komprehensif perihal pengaruh kepemimpianan “Amma Towa” dan eksistensi ada’lima karaeng tallua di tanah adat Kajang. Eksistensi dimaksukan adalah suatu sistem nilai di mana peran-peran fungsional adat dapat berjalan berkesesuain antara peranan sebagai pemerintah dalam kekuasaan Negara dan internalisasi praktik nilai-nilai pasang dalam masyarakat. Peneliti mencoba mendeteksi interpretasi dan pemahaman pemerintah dalam “lingkaran” tentang implementasi pemerintahan Negara yang berbasis pada internalisasi kebudayaan dalam amanah pasang.

Setelah melakukan penelitian selama 3 bulan terkait dengan masalah yang diangkat, peneliti menemukan fakta bahwa kepemimpinan Amma Towa banyak dipengaruhi oleh implementasi sistem nilai dari apparatus adat yang ada dalam sistem. Sehingga, memunculkan dominasi pemerintahan yang tidak berbasisis pada sistem nilai pasang. Hubungan dari masalah tersebut mengakibatkan suatu jarak pemisah makna, masyarakat tentang adat dan Fungsi pasang bagi pelaksana amanah Amma Towa.
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:auto;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:auto;
mso-para-margin-left:31.7pt;
text-align:justify;
line-height:200%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Ammatoa di Kajang adalah pemimpin tertinggi yang juga merupakan penerima awal mula pasang. Menurut pengakuan Amma Towa sendiri (Puto Palasa) bahwa syarat untuk menjadi Amma Towa adalah orang yang mampu berkomunikasi langsung dengan sang pencipta (Turie’arana). Saat prosesi (appanganro) pemilihan Pemimpin adat di dalam kawasan adat Kajang untuk melanjutkan dan menjalankan pasang.

Olehnya itu, mereka mengategorikan Pasang sebagai suatu wujud yang diterima di luar dari kehidupan manusia. Asimat dalam Pasang inilah melahirkan berupa perintah, nasehat maupun yang bersifat cerita dan kisah. Berdasarkan wasiat tersebut diterima oleh Amma Towa pertama. Selanjutnya, Amma Towa menyampaikan pula kepada Amma Towa berikutnya untuk dijalankan oleh generasi-generasi setelahnya.

Struktur kelembagaan dalam kepemimpinan Amma Towa dalam pasang adalah sebuah lembaga politik dan pemerintahan. Dalam menjalankan fungsinya struktur diamanahkan mengatur regulasi aturan adat dan kekuasaan pemerintahan dalam pasang. Kekuasaan pelaksanaan adat diamanahkan sepenuhnya kepada ada’limaya dan selanjutnya mengenai kekuasaan pemerintahan dalam pasang ditugaskan kepada Karaeng Tallua. Keduanya, masing-masing berkedudukan di tanah kekea (ada’limaya) dan tanah lohea (Karaeng Tallua).

Di bawah kepemimpinan tertinggi Amma Towa, berdasarkan sumber (Kahar Muslim: Mantan Kepala Desa Tanah Towa sekaligus Galla Lombok,2010) mengibaratkan kelembagaan Amma Towa seperti pemerintahan Negara di Iran. Kekuasaan berada di tangan majelis tertinggi Revolusi (Wilayatul faqih) pemerintahan para ulama. Sedangkan Amma Towa termasuk pemimpin tertinggi di mana regulasi kekuasaan di tangan para pemilik atau pengampuh pasang (adat). Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh ada’lima karaeng tallu.

Yang termasuk Ada’ limaya adalah:

1. Galla Pantama

2. Galla Puto

3. Galla Kajang

4. Galla Lombok

5. Galla Maleleng, dan

Yang dimaksud Karaeng Tallua adalah

1. Labbiria.

2. Sullehatang, dan

3. Moncong Buloa.

Masing-masing berfungsi sebagai pelakasana pasang pada berbagai bidang dalam struktur kepemimpinan Amma Towa.

1. Galla Pantama bertugas mengurusi tanah dan merancang dan merencanakan strategi pertanian di wilayahnya.

2. Galla Puto berfungsi sebagai penyampai pasang atau juru bicara Amma Towa yang menyangkut tentang segala ikhwal dalam pasang.

3. Galla Kajang berfungsi sebagai penegak aturan atau hukum serta norma-norma ajaran dalam pasang.

4. Galla Lombok berfungsi sebagai penyambung dan pelaksana kebijakan dalam dan luar kawasan adat.

5. Galla Maleleng bertugas untuk mengatur dan mengurusi persoalan perikanan, juga dalam rangka pelestarian ekosistem dalam air.

Selanjutnya Labbiria merupakan mandataris Amma Towa yang menjalankan pemerintahan di Tanah Lohea. Tugas dan fungsi mereka diibartkannya Kepala atau Pemimpin pemerintahan, penyambung perintah Amma Towa di luar dari kawasan tanah adat, Sullehatang sebagai Kepala administrasi pemerintahan. Penyiar berita atau informasi atas ketentuan dari pemimpin tertinggi. Peranan dan tugas lainnya adalah Moncong Buloa sebagai Koordinator dalam implementasi tugas pemerintahan, mengawasi segala perangkat jalannya sistem dalam pemerintahan adat.

Disamping ada lima karaeng tallua. Adat Limaya kemudian membentuk sub adat pelengkap. Dengan tujuan untuk membantu ada’limaya dalam menjalankan fungsi dan aturan adat, ri tanah loheya masing-masing:

1. Galla Jojjolo

2. Karaeng Pattongko

3. Anrong Guru

4. Kadahaia

5. Puto Toa sangkala

Ada’ Lima ri tanah kekea masing-masing:

1. Galla Anjuru

2. Galla Ganta

3. Galla Sangkala

4. Galla Bantalang

5. Galla Sapa

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Oleh-oleh dari Pak Jonan di Kompasianival …

Sang Nanang | | 27 November 2014 | 08:46

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 2 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 3 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 4 jam lalu

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: