Kesehatan
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Seorang penderita CML dan hampir enam tahun bertahan dari ganasnya kanker darah (leukemia)
Lagi… Obat Menghilang, Penderita Leukemia Meregang Nyawa
Oce Kojiro
|  13 Januari 2010  |  11:59
192
4
2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.

Pukulan kali ini sama telaknya seperti bulan agustus dan september tahun lalu dimana obat leukemia menghilang dari pasaran, bukan hanya di jakarta saja tetapi sudah merambah sampai diseluruh indonesia. (Lihat)

Bayangkan, dalam dua bulan itu saja, berapa banyak penderita leukemia yang tewas karena ketidak tersediannya obat sitostatika, serta berapa banyak lagi yg meregang nyawa karena tubuhnya menolak diberi pengganti obat jenis HYDREA / HYDROKSIUREA, MERCAPTO PURINETOL dan MYLERAN.

Saya adalah salah seorang yang juga menjadi korban pada saat itu, beruntung sekali salah seorang adik saya tinggal di India dan ahirnya saya bisa dengan mudah mendapatkan obat leukemia dari sana dan dengan harga yang sangat murah, hanya sepertiganya saja dari harga normal di jakarta. Wow…(kapaan di negeri kita ada obat murah yaa…?)

Obat bukannya semakin murah di negeri ini, bahkan sejak Desember 09 hingga januari 2010 ini obat leukemia jenis HYDREA dkk kembali menghilang dan susah untuk mendapatkannya. Jika ada pun hargannya melonjak tinggi atau harus memesannya dari Australia.

Sambil berniat untuk sekedar sedikit membantu sesama penderita leukemia, saya menulis dalam komentar di blog pribadi saya dan menawarkan kepada para sahabat penderita leukemia yg kesulitan mendapatkan obat hydrea untuk ikut menitip kepada adik saya yg berada di india, tak disangka sangka peminatnya sangat banyak sekali, hingga saya pesimis obat tsb akan dapat lolos dari pemeriksaan di bandara yg terkenal sangat ketat.

Obat pesanan belum lagi sampai ditangan saya namun saya begitu terharu melihat betapa para keluarga pasien yang bolak balik menelepon saya untuk sekedar bisa menitip untuk membeli obat tersebut. Saya pun ahirnya mengabulkan permintaan mereka, tidak seluruhnya memang, namun saya pilih bagi yang sudah sangat terdesak sekali karena persediaannya sudah habis sama sekali, bahkan obat persediaan buat saya yang sedianya untuk stok saya pribadi selama 8 bulan kedepan, saya janjikan untuk saya berikan kepada mereka hingga stok untuk saya sendiri tdk cukup untuk satu bulan saja.

Tiba tiba…

Seorang sahabat mengingatkan saya, bahwa apa yg sy lakukan itu adalah sebuah kebodohan yang bisa membuat sy didenda hingga ratusan juta rupiah bahkan bisa mendekam lama dalam penjara.

Lho kok ?

Pasalnya adalah obat yg sy bawa dari india itu tidak mempunyai izin edar di indonesia, jadi apa yang saya lakukan itu adalah perbuatan bodoh yg melangar hukum alias ilegal.

Masak sih …?  Saya kan tidak mengambil untung sedikitpun dari para pasien / keluarga pasien leukemia itu ?

betul… tetapi tetap saja saya melanggar hukum, dan tidak ada ampun bagi pelangar hukum di negeri ini terutama rakyat kecil seperti saya.

‘Halah…’ Bodo ah…

Contohnya sudah banyak boss… Bahkan seorang mantri kesehatan yg membuat resep antibiotik yg tergolong obat daftar G pun harus dihukum dan dipecat walaupun tindakannya itu untuk menyelamatkan nyawa pasien. Gilee…

(Lihat)

Hiii… Saya bergidig… sy ngeriii… sy takuuut…

Ahirnya buru buru saya hapus nomor telepon dari blog pribadi saya, dan saya kabarkan bahwa untuk sementara saya tidak lagi bisa menitipkan obat Hydrea  yg jika ada di jakarta pun harganya menjadi sangat mahal sekali.

Sungguh… saya mohon maaf yang sebesar besarnya bagi para sahabat penderita leukemia yang tak lagi bisa mendapatkan obat dari saya, karena begitu pengecutnya dan lemahnya saya, dalam keadaan sekarat ini saja masih ada perasaan takut yang amat sangat jika nanti terkena kasus pidana dan masuk dalam penjara.

Dan mudah mudahan, tidak ada seorang pun penegak hukum yang menjadikan tulisan saya ini menjadi dasar pengakuan saya hingga saya bisa diajukan ke meja hijau.

Wassalam


Tags: Kompasiana, Kanker, Dokter, Kesehatan

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
13 Januari 2010 12:32
0

hai

13 Januari 2010 13:12
0

Bung Oce, ini perlu dilaporkan ke Yayasan Kanker, mungkin mereka bisa menolong untuk mendorong pemerintah. Kasus yang hampir sama terjadi beberapa bulan lalu, dimana pasien2 yang menggunakan kantong untuk isi perut mereka, kehabisan stok dan akhirnya dibantu oleh salah satu yayasan Kanker. Ini memprihatinkan Bung Oce. Saya sarankan untuk ditulis di Pini Kompas. Mungkin Bung Pepih bisa fasilitasi agar dimuat disana.
Salam

14 Januari 2010 21:54
0

mengerikan dan mengenaskan jadi rakyat kecil ingin menolong aja pakai salah…sabar Mas…

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009